MerahPutih.com - Gubernur Jakarta Pramono Anung buka suara terkait kritikan masyarakat bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan berbahaya ketika dilakukan terus-menerus.
Pramono menegaskan, OMC selama ini menggunakan bahan yang tidak berbahaya yang dilakukan secara ilmiah. Sehingga tidak akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.
"Enggak, itu sudah ilmiah lah, dan OMC ini kan sudah ilmiah dan yang dipilih juga material yang tidak berbahaya," kata Pramono di Jakarta, Kamis (29/1).
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai bahwa OMC yang dilakukan di Indonesia merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains.
Langkah itu diambil sebagai respons paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim.
BMKG juga menyoroti informasi yang beredar di media sosial soal OMC memiliki risiko dan seperti bom waktu. Dalam narasi yang beredar, OMC memiliki risiko bencana lain seperti membuat kondisi cuaca tidak stabil serta membentuk cold pool (kolam dingin), memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu sehingga membuat banjir besar, dan memberikan rasa aman yang palsu.
Baca juga:
BPBD DKI Kerahkan Tiga Sorti OMC untuk Redam Potensi Hujan Lebat
"Dalam konteks tersebut, BMKG menegaskan bahwa cold poll atau kolam dingin merupakan fenomena meteorologi yang sepenuhnya alami. Fenomena ini terjadi saat air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, dan menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan," tulis BMKG.
BMKG menyatakan, setiap kali terjadi hujan secara alami tanpa campur tangan manusia, cold pool pasti terbentuk secara alami. Alhasil, mengaitkan fenomena itu sebagai efek samping yang berbahaya dari OMC adalah kekeliruan sains.
"Musababnya, OMC dengan teknik penyemaian awan (cold seeding) tidak menumbuhkan awan baru dan hanya bekerja pada awan yang sudah ada di alam," lanjut BMKG.
BMKG menegaskan, implementasi OMC bertujuan murni untuk mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat dengan menambah atau mengurangi curah hujan. OMC dinilai bukan pemicu cuaca tidak stabil.
Menurut BMKG, OMC berhasil mempercepat turunnya hujan secara logis akan membentuk cold pool yang identik secara fisik maupun kimiawi dengan cold pool dari hujan alami. Dari skala energi pun, tidak bisa dibenarkan. Ditinjau dari skala energi, teknologi manusia saat ini belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar.
"Melalui modifikasi cuaca, manusia hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh (seperti yang dilakukan melalui modifikasi cuaca di Indonesia), alih-alih membangun sistem pendingin atmosfer raksasa," tulis BMKG. (Asp)





