Rupa-rupa Wajah Medsos soal Longsor Cisarua

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Di daerah bencana, rasa penasaran banyak kalangan lebih cepat terpuaskan lewat konten media sosial. Namun, bila konten dibuat sembarangan, dampaknya hanya akan memicu “bencana” baru.

Roni, warga Cimahi, kesal saat petugas polisi yang berjaga melarangnya mendekati lokasi evakuasi longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat, Jawa Barat. Ia sudah beralasan hendak pergi ke rumah kerabatnya, tetapi tetap saja diminta putar arah. 

“Gagal ngonten,” kata Roni. Usut punya usut, dia datang sekadar untuk konten media sosial, Selasa (27/1/2025).

Jalanan Desa Pasirlangu yang semula sepi memang mendadak ramai. Sabtu (24/1/2026), longsor menimbun Kampung Pasir Kuning dan Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Bandung Barat. 

Tercatat lebih kurang 80 orang tertimbun. Selain warga setempat, sebagian di antaranya adalah prajurit Marinir TNI Angkatan Laut.

Kabar itu lantas memanggil banyak kalangan datang ke Pasirlangu. Ada tim SAR, polisi, tentara, relawan, wartawan, atau warga yang sekadar penasaran.

Berbagai jenis kendaraan di parkir di salah satu sisi jalan. Bercampur dengan lalu lintas manusia, kondisi itu membuat jalan sekitar 4 meter itu penuh sesak.

Paling dirugikan adalah pergerakan ambulans yang membawa jenazah dari lokasi longsor ke puskesmas setempat untuk proses identifikasi. Jalan sempit membuat laju ambulans kerap tersendat.

Kepala Polres Cimahi Ajun Komisaris Besar Niko Adi Putra mengatakan, pihaknya mulai tegas melarang orang tidak berkepentingan datang ke lokasi pencarian korban. Selain rawan mengganggu proses SAR, hal itu menekan risiko bila ada bencana susulan. 

“Selain area pencarian, sterilisasi juga dilakukan di sekitar posko pengungsian di Desa Pasirlangu. Harapannya hal itu bisa melancarkan berbagai kebutuhan evakuasi atau pengungsi,” katanya. 

Jaga-jaga

Meski begitu, di tengah ribuan orang yang datang, tetap saja ada yang bisa mendekati lokasi evakuasi untuk membuat konten di medsos. Di hadapan kamera mereka melaporkan suasana secara langsung.

Salah satu konten itu adalah yang dilihat Onel (41), pemilik warung nasi di Pasar Pasirlangu. Sembari memasak tempe dan ayam goreng, matanya menatap tajam layar ponsel. 

Seorang pemengaruh di Instagram tengah siaran langsung di lokasi pencarian. “Untuk sementara pencariannya dihentikan. Di sini hujan,” begitu salah satu cukilan siaran langsung itu. 

Onel mengatakan, dirinya penasaran dengan apa yang terjadi di bekas Kampung Pasir Kuda dan Pasir Kuning. Selain ingin tahu kondisi terkini, dia juga berjaga-jaga bila ada bencana susulan. 

“Di medsos lebih sering siaran langsungnya ketimbang di televisi,” kata dia, Rabu (28/1/2026).

Berkaca dari bencana pada Sabtu, kata Onel, ujung longsoran hanya beberapa ratus meter dari warung yang  menjadi rumahnya. Seumur hidupnya, kejadian itu yang pertama kali di Pasirlangu.

“Setiap hujan lebat memang suka ada longsor, tetapi kecil saja. Yang besar baru ini. Saya khawatir karena lokasinya dekat dengan rumah. Jadi, bila di lokasi kejadian dilaporkan aman hati saya juga tenang,” kata dia. 

Meski caranya kadang menabrak aturan, seperti pemengaruh yang nekat mendekat demi konten, perkembangan teknologi memang membuat tren baru bermunculan. Tidak cukup dari media konvensional, media sosial kerap menjadi sumber rujukan, tak terkecuali di daerah rawan bencana.

Mitigasi bencana

Sebelumnya, Kompas merekam rencana mitigasi mandiri warga Cisarua yang didapat dari layar Tiktok dan Facebook. Pasangan suami-istri, Ipan Sopian (28) dan Devi Yustia (20), warga Kampung Pasir Kuda, memetik manfaat pada bencana kai ini.

“Bekal melihat mitigasi bencana ternyata berguna di bencana kali ini,” kata Ipan.

Berusaha mengingat lagi saat longsor datang, kata Ipan, tidak menunggu lama untuk beranjak dari rumah saat mendengar bunyi gemuruh dari puncak Burangrang. 

Tangannya cepat mengambil pakaian dan dokumen penting yang sudah disiapkan dalam kantong-kantong kecil anti air. Dia mengira ada gempa. Rumahnya memang berada di dekat Patahan Lembang. 

“Sejak setengah tahun lalu, saya dan istri sudah memisahkan baju dan dokumen penting dalam kantong penyimpanan. Jaga-jaga kalau ada gempa. Saya dapat ilmu segera tinggalkan rumah dan pisahkan barang-barang penting untuk siapkan diri menghadapi bencana ini dari media sosial,” katanya. 

Meski yang datang kali ini bukan gempa, tetapi longsor, hasilnya akhirnya tetap sama-sama menyelamatkan. Selain nyawa, banyak baju tidak rusak akibat longsor. Surat rumah dan logam mulia juga tidak hilang.

Baca JugaTrauma Longsor Cisarua Tak Usai Jua, Tua Muda Pun Kena
Baca JugaLongsor Cisarua, Luka Hati Wirahma Lebih Perih ketimbang Sakit di Tangannya

“Alhamdulilah, banyak barang penting bisa diselamatkan,” ujar Devi saat memperlihatkan kantong-kantong kecil berisi pakaian yang berlumuran lumpur. 

“Cuma, rumah saya tidak selamat. Itu sudah hancur, tinggal atap bambu,” kata Devi menunjukkan dari kejauhan tumpukan bambu yang sebagian tertutup lumpur.

Meski memberi manfaat, kekhawatiran euforia bencana di medsos juga tetap rawan memicu masalah. ”Bencana” baru bisa datang kapan saja.

Rekaman video

Salah satu contohnya saat video jenazah anak korban longsor yang belum rampung teridentifikasi justru tersebar di medsos. Rekaman diambil di salah satu rumah sakit tempat jenazah disimpan untuk menunggu pemeriksaan DNA.

“Tiba-tiba video anak itu muncul di beberapa grup Whatsapp. Hal itu jelas kami sesalkan,” kata Kepala Sub Bidang Dokumen Kepolisian di Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jabar AKBP dokter Ani Rasiani.

Selain menyalahi aturan, praktik itu juga memicu kekacauan. Ada beberapa orang datang lalu mengaku jenazah itu adalah anaknya. Sulit memastikan kebenarannya karena data yang ada masih butuh dipastikan. 

“Kami mohon ini menjadi perhatian bersama agar tidak terulang lagi. Untuk mencegah hal ini mungkin akan dibawa ke RS Bhayangkara, tapi idealnya kami disediakan mobile freezer untuk menyimpan jenazah yang butuh penanganan lebih lanjut,” kata dia. 

Menanggapi itu, Sekretaris Daerah Bandung Barat yang juga Incident Commander Longsor Cisarua Ade Zakir mengatakan, pihaknya telah mencatat hal ini. Pihaknya akan menyikapinya supaya tidak terjadi lagi.

Serba serbi medsos di kawasan bencana bak pisau bermata tajam. Keberadaannya bisa jadi sumber informasi warga. Namun, di tangan yang tak tepat, keberadaannya bisa jadi berbahaya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Belasan Polisi Polda Riau Dipecat Tak Hormat karena Pelanggaran Berat, Nama-namanya Dirilis ke Media
• 7 jam lalusuara.com
thumb
Viral Sirine Kali Bekasi Berbunyi Rabu Malam, Warga Panik Berlarian
• 20 jam laluokezone.com
thumb
Hasil Liga Champions, Napoli vs Chelsea, Dua Gol Joao Pedro Pastikan Kemenangan The Blues
• 13 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Polri di Bawah Presiden Lebih Efektif, Reformasi Bukan Soal Struktur | SATU MEJA
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Sejumlah perubahan keputihan pada wanita yang perlu diwaspadai
• 22 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.