IHSG Naik, Dolar Melemah: Ada Apa di Balik Sentimen Pasar?

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Dalam beberapa waktu terakhir, pasar keuangan memperlihatkan kombinasi sinyal yang menarik perhatian. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat, sementara pada saat yang sama dolar Amerika Serikat justru melemah terhadap banyak mata uang, termasuk rupiah.

Bagi pembaca awam, dua peristiwa ini mungkin tampak berdiri sendiri. Namun bagi pelaku pasar, keduanya merupakan bagian dari satu cerita yang sama.

Penurunan nilai dolar dan kenaikan Indeks Komposit Jakarta (JCI) bukanlah suatu kebetulan. Keduanya menunjukkan perubahan cara pandang investor internasional terhadap kemungkinan dan ancaman.

Pertanyaan krusial ketika pasar bergerak bersamaan seperti ini bukanlah sekadar "Apa yang naik?" atau "Apa yang turun?" melainkan lebih kepada "Apa yang sedang dibaca pasar saat ini?"

Perubahan sikap di seluruh dunia terkait erat dengan depresiasi dolar AS baru-baru ini. Investor mulai lebih menyukai aset berisiko daripada aset safe haven. Perubahan ini biasanya terjadi ketika orang percaya bahwa ketidakpastian di dunia berkurang, atau setidaknya menjadi lebih mudah diprediksi. Dolar kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset safe haven dalam keadaan seperti itu.

Kecenderungan ini semakin didukung oleh ekspektasi terhadap kebijakan "The Fed". Suku bunga riil dolar menjadi relatif kurang menarik jika pasar percaya bahwa pengetatan moneter AS akan segera berhenti atau tidak lagi seketat sebelumnya.

Akibatnya, baik faktor domestik AS maupun perubahan aliran modal global menuju suku bunga yang lebih tinggi berkontribusi pada penurunan nilai dolar. Dalam hal ini, penurunan nilai dolar merupakan cerminan dari sikap pengambilan risiko secara umum.

Kecenderungan ini semakin didukung oleh ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Suku bunga riil dolar menjadi relatif kurang menarik jika pasar percaya bahwa pengetatan moneter AS akan segera berhenti atau tidak lagi seketat sebelumnya.

Akibatnya, baik faktor domestik AS maupun perubahan aliran modal global menuju suku bunga yang lebih tinggi berkontribusi pada penurunan nilai dolar. Dalam hal ini, penurunan nilai dolar merupakan cerminan dari sikap pengambilan risiko secara umum.

Dampaknya terlihat jelas. Indeks naik, permintaan saham unggulan meningkat, dan arus masuk modal memperkuat rupiah. Dalam dinamika ini, Indonesia bukan lagi sekadar pengamat, melainkan juga telah menjadi tujuan rotasi modal karena dianggap memberikan perpaduan yang menarik antara stabilitas dan pertumbuhan.

Namun, sikap positif di seluruh dunia saja tidak cukup untuk memastikan stabilitas di pasar domestik. Meskipun publik sering mengabaikannya, kebijakan makroprudensial memainkan peran penting dalam situasi ini. Sistem keuangan membutuhkan penyangga untuk menjaga optimisme agar tidak berubah menjadi volatilitas yang berlebihan selama periode arus masuk modal yang tinggi.

Kemampuan sistem keuangan untuk menyerap arus kas masuk tanpa tekanan dipastikan oleh terjaganya likuiditas perbankan. Fakta bahwa kredit masih tersedia menunjukkan bahwa aktivitas spekulatif tidak meminggirkan perekonomian riil.

Risiko sistemik juga terkendali, sehingga lebih sulit bagi guncangan eksternal untuk menyebar di dalam negeri. Dengan bertindak sebagai mekanisme penyeimbang, kebijakan makroprudensial memastikan bahwa sentimen positif di seluruh dunia terus bersifat konstruktif dan bukan merugikan.

Faktor penting lainnya adalah bagaimana kebijakan moneter dan makroprudensial berinteraksi. Untuk menjaga fluktuasi rupiah tetap konsisten dengan fundamental ekonomi, Bank Indonesia berkonsentrasi pada pelestarian stabilitas nilai tukar. Pelaku pasar diyakinkan oleh kestabilan ini bahwa kenaikan rupiah bukanlah konsekuensi dari spekulasi sementara.

Sementara itu, aturan makroprudensial memungkinkan ekspansi ekonomi melalui peran perantara bank. Pasar saham telah membaik tanpa menunjukkan gejala overheating karena harmoni antara ekspansi dan stabilitas ini. Kehadiran kerangka kebijakan yang fleksibel dan terkoordinasi dengan baik ditafsirkan oleh pasar.

Pandangan pasar dipengaruhi oleh aspek politik dan hukum selain aspek ekonomi. Kepercayaan jangka menengah didasarkan pada arah kebijakan yang konsisten, prediktabilitas hukum, dan stabilitas politik domestik. Investor mempertimbangkan kemampuan suatu negara untuk mengelola risiko non-ekonomi secara berkelanjutan selain kinerja keuangannya.

Indonesia dipandang sebagai negara yang memiliki risiko yang relatif terkendali dalam hal ini. Dampak positif sentimen global diperkuat oleh anggapan ini, yang merupakan aset penting. Respons pasar menguat ketika kekuatan internal dan eksternal saling melengkapi.

Oleh karena itu, lebih dari satu elemen telah berkontribusi pada penguatan JCI. Ini adalah kombinasi dari stabilitas politik dan hukum yang dijunjung tinggi, kebijakan domestik yang fleksibel, dan sentimen internasional yang menggembirakan. Konsistensi—bukan sekadar kegembiraan sesaat—adalah hal yang direspons pasar.

Interaksi ini memiliki dampak signifikan bagi masyarakat umum. Meskipun ada peluang di pasar saham, investor ritel tetap harus menerapkan manajemen risiko yang bijaksana.

Stabilitas nilai tukar menguntungkan masyarakat umum dengan menjaga daya beli, khususnya untuk kebutuhan strategis dan barang impor. Namun, penting untuk diingat bahwa suasana pasar bersifat dinamis dan dapat berubah dengan cepat.

Oleh karena itu, peringatan tetap relevan. Ketika terjadi guncangan global atau ekspektasi kebijakan berubah, sentimen positif dapat berbalik. Pasar keuangan sangat rentan terhadap peristiwa yang tidak terduga.

Dalam menghadapi dinamika ini, kredibilitas institusional dan stabilitas kebijakan tetap penting untuk menjamin bahwa kepercayaan pasar didasarkan pada fondasi yang kokoh, bukan hanya mimpi yang sementara.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Butuh Uang Cash Cepat? Tarik Tunai GoPay Kini Tersedia di Alfamart
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Terpikat Pada Cinta, Lagu Baru Judika yang Menyatukan Musik dan Sastra
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Daftar 28 Rute Transjakarta yang Terdampak Banjir Hari Ini
• 11 jam lalusuara.com
thumb
Positif Narkotika, 16 Pekerja Tambang Inkonvensional di Tanjung Bunga Diamankan
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Tekan Volume Sampah, Palembang Kembangkan Daur Ulang
• 20 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.