JAKARTA, KOMPAS - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membangun Bendung Polor di Jakarta Barat dan rumah pompa di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, guna memperkuat pengendalian banjir. Infrastruktur ini diharapkan menekan risiko banjir dan genangan.
Jakarta kembali dilanda banjir setelah diguyur hujan lebat pada Rabu dan Kamis (28-29/1/2026). Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, hingga Kamis pukul 14.00 WIB, banjir telah meluas ke 52 rukun tetangga (RT) dan 17 ruas jalan.
Tinggi banjir mulai dari 10 sentimeter hingga 1,5 meter. Selain guyuran hujan deras, banjir dinilai turut dipicu luapan Kali Pesanggrahan, Kali Angke Hulu, dan Kali Ciliwung.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian menggelar rapat terbatas di Balai Kota Jakarta pada Kamis (29/1/2026) siang. Rapat antara lain memutuskan kelanjutan normalisasi kali serta rencana pembangunan waduk di Bendung Polor dan rumah pompa di Cempaka Putih.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut, satu waduk akan segera dibangun di Bendung Polor. Waduk ini akan menjadi area ”parkir” air sebelum air dialirkan ke Kali Angke.
"Supaya tidak semuanya (debit air) langsung turun (mengalir) ke Cengkareng Drain," ujar Pramono.
Bendung Polor terletak di dua wilayah, yakni Kembangan, Jakarta Barat dan Kampung Candulan Cipondoh, Kota Tangerang di Banten. Di wilayah itu mengalir Kali Angke yang bermuara ke Cengkareng Drain.
Selama ini kali kerap meluap karena perubahan daerah aliran sungai. Kondisi tambah parah karena tumpukan sampah menghambat laju air.
Pramono menyebut, proyek normalisasi, waduk, dan rumah pompa masuk dalam program jangka menengah. Alokasi anggaran tahap awal sedikitnya mencapai Rp 132 miliar. "Sebagian untuk pembebasan lahan," ujarnya.
Seusai rapat tersebut, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno langsung meninjau lokasi untuk pembangunan rumah pompa. Areanya di Sumur Batu, Cempaka Putih, yang merupakan titik paling rendah di kawasan.
Setiap hujan dan banjir, butuh pompa mobile diperlukan untuk menyedot air. Di wilayah ini sudah ada tandon dan waduk kecil, tetapi kapasitasnya tidak mampu menampung seluruh aliran air.
Menurut Rano, membangun rumah pompa lebih efektif ketimbang hanya merevitalisasi jalan. Sebab, area tersebut masuk dalam cekungan. "Karena itulah terjadi banjir," kata Rano.
Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum menyatakan, pihaknya sudah berkontrak untuk pembangunan rumah pompa. Sekarang masuk dalam tahap mobilisasi alat sebelum pekerjaan fisik dimulai pada Februari 2026.
"Tempat ini harus segera punya rumah pompa," kata Ika.
Rumah pompa akan memperkuat dua pompa mobile yang ada yang masing-masing berkapasitas 500 liter per detik dan 400 liter per detik. Kapasitas tersebut akan diperkuat rumah pompa dengan kapasitas 8.000 liter per detik untuk menangani area tangkapan air hingga 250 hektar.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F28%2F2650d12ce1d20ca1aa96f92e062e913d-20260128_134428.jpg)

