Warung rujak Mak Lemak di Kota Denpasar, Bali, belakangan menuai sorotan. Setiap kali hadir di festival kebudayaan dan seni, rujak dari warung ini selalu ludes dan dipadati antrean pembeli.
Rujak Mak Lemak disajikan dalam nampan besar dengan sambal bumbu pedas manis berbahan gula pasir, kacang, dan gula merah di bagian tengah.
Rujak kemudian dibungkus menggunakan wrapping plastik dan dihias pita, membuat tampilannya terlihat segar dan estetis.
Merintis Sejak 2019Pemilik warung, Ni Made Kembariani, mengaku tak menyangka konsep mukbang rujak yang ia tawarkan diminati banyak orang. Ia memulai usaha rujak salak secara sederhana pada 2019 dengan menjajakan dagangannya dari mulut ke mulut.
“Awalnya cuma jual rujak salak ke kantor-kantor. Ada juga buah kiloan. Lama-lama merambah ke rujak buah seperti ini,” kata Kembariani saat ditemui di warungnya di Jalan Padma, Denpasar, Kamis (29/1).
Dalam sehari, Kembariani bisa menjual sekitar 20 hingga 25 porsi rujak mukbang ukuran jumbo. Satu porsi rujak jumbo yang dibanderol Rp 100.000 ini dapat dikonsumsi oleh 10 hingga 12 orang.
Terjual Ratusan Porsi per HariSementara rujak mukbang ukuran kecil seharga Rp 10.000, terjual sekitar 200 hingga 300 porsi per hari. Ada pula ukuran sedang seharga Rp 50.000 yang bisa dinikmati oleh lima orang.
“Ukuran jumbo sekarang lebih banyak dipesan dari kantor, komunitas, dan keluarga. Menurut mereka lebih hemat dan harganya terjangkau,” ujarnya.
Usaha rujak Mak Lemak kian berkembang, terutama saat musim hari raya keagamaan. Mukbang rujak bahkan kerap dijadikan hampers oleh pelanggan.
“Natal dan Tahun Baru kemarin juga banyak yang pesan rujak untuk dijadikan hampers,” katanya.
Untuk menjaga kualitas, Kembariani mengaku setiap hari membeli buah langsung ke distributor. Ia tidak pernah menyetok buah karena jenis rujak yang digunakan bergantung pada musim.
“Biasanya pakai mangga gading, pepaya Bali, dan nanas Sunpride,” jelasnya.
Modal Rp 7 Juta, Omzet Rp 50 JutaDalam sehari, modal yang dikeluarkan berkisar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. Sementara omzet bulanannya disebut bisa menembus lebih dari Rp 50 juta.
Menurut Kembariani, konsistensi dan kesabaran menjadi kunci agar tetap bertahan dan berkembang dalam berjualan.
Salah satu pelanggan, Ginta (37), mengaku ketagihan dengan rujak Mak Lemak. Ia menilai porsi rujak cukup besar dengan daging buah yang tebal dan sambal bercita rasa khas.
“Daging mangganya tebal, makan satu sampai tiga potong saja sudah kenyang. Sambalnya pedas manisnya pas, nagih tapi tidak bikin perut panas,” tuturnya.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F05%2F21%2F0121d39ce0112c1d40030ce52fcfba17-20250521WEN12.jpg)


