Jaket Putih di Ujung Januari: Sebuah Episode tentang Harga Diri

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

​Langit biru itu akhirnya “menyerah” pada kepungan awan putih. Di sebuah sudut, ditemani uap kopi yang perlahan menghilang, kita dipaksa menatap sebuah misteri yang baru saja menanggalkan kerudungnya. Esok memang masih menjadi rahasia, namun apa yang terjadi pada 29 Januari 2026 adalah sebuah proklamasi tentang sikap yang jarang kita temukan dalam rimba politik hari ini.

​Sejarah mencatat dengan tinta tebal: 26 Agustus 2016 di Hotel Clarion, Surya Paloh memasangkan jaket biru kepada Rusdi Masse (RMS). Itu adalah awal dari sebuah era yang bertahan selama 3.443 hari. Di bawah komandonya, dominasi politik di Sulawesi Selatan berubah arah.

Ia meruntuhkan tembok-tembok kekuasaan lama, membawa 17 kursi ke DPRD Provinsi, dan memenangkan 10 kursi Ketua DPRD Kabupaten/Kota. Namun, lebih dari sekadar angka, ia membumikan “Politik Kemanusiaan”—sebuah gaya politik yang memiliki nyawa.

​Sentuhannya dingin, analisanya tajam, dan instingnya dalam kontestasi nyaris tak pernah meleset. Kekuatan ini tidak lahir dari bangku akademis. Secara vulgar, RMS sering menyebut dirinya “bodoh” karena tak punya sekolah.

Namun, dunia keliru jika menganggapnya tak berilmu. Ia adalah lulusan terbaik dari Sekolah Alam, alumnus kehormatan dari Madrasah Kehidupan, dan penyandang gelar tertinggi dari Kelas Penderitaan serta Kepahitan.

​Bagi RMS, merantau adalah pilihan sadar untuk melawan kerasnya hidup. Tanjung Priok menjadi saksi bisu jejak takdirnya; dari seorang buruh dan sopir yang bergulat dengan debu pelabuhan, hingga melenggang menjadi pengusaha sukses.

Maka ketika ia berucap lirih, “Pink, dulu 800 lebih mobil trukku, 21 kapalku, semua hilang… saya melewatinya biasa saja karena saya terbiasa menderita,” itu bukanlah keluhan. Itu adalah lencana keberanian dari seseorang yang sudah kenyang ditempa kepahitan.

​Itulah mengapa, ketika Januari datang dengan segala kegaduhannya, ia tak gentar. Pengunduran dirinya per 22 Januari 2026 dan keputusannya melepas posisi mentereng di DPR RI adalah sebuah kejutan bagi pemburu jabatan, namun konsisten bagi seorang ksatria. Di deretan kursi undangan, air mata Fatmawati Rusdi yang tak berhenti menyeka pipi menjadi saksi betapa mahalnya harga sebuah prinsip.

​Meskipun banyak tawaran berada di depan mata, ia tetap kukuh. Baginya, puncak dari supremasi politik adalah ketinggian sikap—Taro Ada Taro Gau. Ia menunjukkan bahwa harga diri dan rasa nyaman tidak bisa digantikan oleh prestise setinggi apa pun. Lebih baik menderita dan memulai lagi dari nol dengan jaket putih, daripada harus bertahan dalam situasi yang mengusik martabatnya.

​Ia pergi tanpa menendang pintu. Ia meninggalkan “rumah lama” dengan diam dan hormat, tanpa komentar miring, meski luka di hati para kader masih menganga lebar. Ia siap dengan segala risiko, karena baginya, mencoba adalah pengalaman dan tidak semua percobaan harus berakhir gagal.

​Kini, di bawah bayang-bayang awan putih, RMS telah memilih jalannya. Ia meninggalkan sebuah pelajaran berharga bagi jagat politik Indonesia: bahwa di atas kekuasaan, ada prinsip yang disebut Getteng (teguh memegang prinsip).

Ia membuktikan bahwa seorang manusia yang lahir dari rahim penderitaan tak akan pernah bisa dibeli oleh jabatan, karena ia tahu bahwa harta paling berharga yang ia miliki adalah harga dirinya sendiri.

Kini, saya masih di sini. Di ujung jalan yang sunyi, menyendiri sambil menyeruput pahitnya kopi yang kian mendingin. Sesekali saya menatap langit yang kini kerap berawan, mencoba mencari jawaban di antara arak-arakan mendung yang menutup cakrawala.

Ada tanya yang belum usai, ada misteri yang masih tersimpan rapat. Namun di balik pahitnya kopi ini, saya belajar bahwa rasa pahit pun bisa dinikmati jika kita punya keberanian untuk menelannya.

​Untukmu, RMS…
Terima kasih telah mengajarkan bahwa jabatan bisa dicari, namun harga diri tak bisa dibeli. Selamat bertarung di rumah baru. Meski jaketmu kini berganti warna, saya tahu detak jantungmu masih tetap sama—detak jantung seorang ksatria yang tak pernah takut pada derita.

Jika pun esok badai kembali menerjang, setidaknya engkau berdiri di atas kakimu sendiri, bukan di atas ketiak kekuasaan yang mengekang jiwamu.

RMS; Terima Hormatku……!

29 Januari 2026
Arum Spink


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Lindungi Lumbung Ternak Nasional, Khofifah Percepat Vaksinasi Massal PMK di Jatim
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Curhat Chiki Fawzi Soal Ketidakpastian Petugas Haji: Saya Juga Bingung, Padahal Sudah Packing
• 17 jam lalusuara.com
thumb
Nasib Serda Heri Purnomo yang Tuding Sudrajat Jual Es Kue Jadul Berbahan Spons, Kini Ditahan 21 Hari!
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Eks Kapten Roy Keane Sebut Michael Carrick Mustahil Raih Gelar di MU Meski Terbukti Bisa Kalahkan Man City dan Arsenal
• 9 jam laluharianfajar
thumb
30 TKA Kerja Tanpa Dokumen Sah, Disnaker Kepri Denda Perusahaan Rp360 Juta
• 22 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.