Gustavo Petro Presiden Kolombia menyerukan persatuan negara-negara Amerika Latin dan Karibia sebagai respons atas meningkatnya ketegangan militer di kawasan, termasuk intervensi militer terhadap Venezuela.
Pernyataan itu disampaikan Petro saat membuka “Latin America and the Caribbean International Economic Forum” yang digelar Bank Pembangunan Amerika Latin dan Karibia (CAF) di Panama City, Rabu (28/1/2026) waktu setempat.
Tanpa menyebut nama Amerika Serikat (AS) secara langsung, Petro mengkritik serangan militer yang terjadi awal bulan ini terhadap Venezuela dan menegaskan bahwa kawasan Amerika tidak boleh menjadi sasaran rudal atau serangan militer dari pihak mana pun.
“Kami tidak ingin Caracas atau negara lain di Amerika menjadi sasaran rudal, baik dari utara maupun dari selatan,” katanya seperti dilansir Anadolu, Kamis (29/1/2026).
Petro menekankan bahwa bangsa-bangsa di Amerika Latin dan Karibia telah membentuk sejarah yang saling terhubung dan beragam. Sehingga, sudah saatnya mereka melihat diri sebagai satu peradaban yang utuh, bukan terpecah-pecah.
Presiden Kolombia itu juga menggarisbawahi bahwa kekuatan sejati kawasan tidak berasal dari rudal atau uang semata, tetapi dari kehidupan, alam, dan keberagaman budaya.
Menurutnya, kekayaan sejati terletak pada kemampuan kawasan untuk menawarkan alternatif damai kepada dunia daripada bergantung pada kekuatan militer.
“Apakah kita akan sepakat untuk terpecah belah dan terisolasi, atau membangun persatuan yang sejati?” ucap Petro.
Petro menyatakan bahwa tantangan global seperti perdagangan narkoba, krisis iklim, dan konflik yang meningkat hanya dapat dihadapi secara efektif melalui integrasi regional yang kuat.
Forum yang dihadirinya juga diikuti oleh para pemimpin dari Brasil, Panama, Bolivia, Jamaika, Ekuador, Guatemala, serta Presiden terpilih Chile, Jose Antonio Kast, yang turut menekankan pentingnya kerjasama regional. (bil/ham)

