Minim Regenerasi, Kerajinan Manik-Manik Dayak Kian Terpinggirkan

tvrinews.com
20 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Lidya Thalia.S

TVRINews, Tanjung Palas Timur

Keberlangsungan kerajinan manik-manik Dayak di Desa Metun Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, menghadapi tantangan serius. Minimnya keterlibatan generasi muda membuat para pengrajin khawatir warisan budaya tersebut perlahan akan ditinggalkan.

Norfi Yunita Usan, salah satu pengrajin manik-manik Dayak di desa tersebut, menyebut ketertarikan anak muda terhadap kerajinan tradisional hampir tidak terlihat lagi. Padahal, manik-manik Dayak bukan sekadar perhiasan, melainkan simbol identitas dan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

“Sekarang ini hampir tidak ada anak muda yang mau belajar. Itu yang membuat saya paling khawatir,” ujar Norfi, Kamis, 29 Januari 2026

Menurutnya, kemampuan merangkai manik-manik sebenarnya masih dimiliki oleh sejumlah perempuan di desa. Namun, proses pembuatan yang membutuhkan ketelatenan dan waktu panjang membuat tidak semua orang mampu bertahan menekuninya.

Norfi mengaku tidak menutup diri untuk berbagi ilmu. Ia berharap generasi muda dapat kembali melirik kerajinan manik-manik sebagai bagian dari jati diri masyarakat Dayak.

“Kalau ada yang mau belajar, saya siap mengajarkan,” katanya.

Ia menilai pelestarian budaya akan terasa timpang apabila hanya dilanjutkan oleh pihak luar, sementara generasi asli justru semakin menjauh.

“Bagus kalau ada yang meneruskan, tapi jangan sampai orang Dayak sendiri yang tidak lagi mengenalnya,” ungkap Norfi.

Di tengah keterbatasan modal dan fasilitas produksi, Norfi tetap menyisihkan waktu di malam hari, setelah berkebun dan menyelesaikan pekerjaan rumah, untuk merangkai manik-manik. Setiap rangkaian dibuat dengan motif khas yang memiliki makna filosofis tersendiri.

Bagi Norfi, menjaga kerajinan manik-manik Dayak berarti menjaga identitas. Ia berharap ada perhatian lebih agar generasi muda tidak hanya mengenal budaya dari cerita, tetapi juga ikut merawatnya secara langsung.

“Kalau tidak ada penerus, pelan-pelan budaya ini bisa hilang,” ujarnya.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pemuda Palestina tewas ditembak pasukan Israel di Hebron, Tepi Barat
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Dirut BEI Iman Rachman Mundur, Ini Profil dan Perjalanan Karirnya
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kevin Warsh Disebut Jadi Pilihan Trump sebagai Ketua The Fed Baru
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Rapat Bareng Menteri PKP, Bahas Groundbreaking 141.000 Rumah Subsidi
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Butuh Bek Berpengalaman tapi Hemat Biaya, AC Milan Incar Bintang Manchester City di Detik Akhir Bursa Transfer
• 20 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.