Perilaku Serba Instan dan Erosi atas Nalar Manusia

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Kutipan Nicholas Carr pada buku yang diterbitkannya pada 2010 lalu nampaknya semakin relevan untuk melihat kondisi saat ini. Dahulu media sosial hadir sebagai jalan pintas yang tampak membebaskan manusia. Orang dapat mengabarkan peristiwa tanpa perlu menunggu redaksi media, kita dapat membangun jejaring tanpa batas geografis, dan menemukan hiburan tanpa harus patuh pada jadwal televisi.

Saat ini, Kecerdasan Artifisial (KA) mempercepat arus itu. Banyak ruang digital kini menyediakan jawaban yang muncul seketika, lengkap dengan gaya bahasa yang rapi. Kecepatan ini mengubah harapan sosial. Banyak orang mulai menganggap waktu jeda pun harus diisi dengan kegiatan, yang sebagian besar bentuknya adalah menghanyutkan diri di dunia maya. Hal ini menjauhkan manusia dari kemampuan kontemplasi diri.

Pew Research Center melaporkan 73 persen remaja di Amerika Serikat mengakses Youtube setiap hari, dan sekitar enam dari sepuluh mengakses TikTok tiap hari, sementara hampir separuh remaja menyebut diri online hampir terus menerus (Faverio & Sidoti, 2024). Common Sense Media (2023) menemukan lebih dari separuh partisipan remaja menerima 237 notifikasi atau lebih per hari.

Notifikasi yang menumpuk mengajari otak untuk memecah perhatian menjadi fragmen kecil. Pola ini menyulitkan pembacaan panjang, pemikiran bertahap, dan pemrosesan emosi yang stabil. Media sosial lalu bertemu KA yang menawarkan jawaban instan, dan kombinasi itu membuat manusia membuat jarak yang pendek antara rasa ingin tahu dan rasa puas.

Bila coba melakukan refleksi pribadi, kita mungkin cenderung susah lepas dari akses internet yang ada pada genggaman. Ketika mengantre di bank, ketika duduk di kereta komuter, ketika mendengarkan orang presentasi, atau bahkan ketika istirahat, otak kita tidak diberi jeda untuk rehat. Kita pernah gelisah untuk segera mengecek email, membuka aplikasi berbagi pesan instan ataupun status sosial media orang lain yang muncul di linimasa. Melihat potensi bahaya yang ada, bahkan Youtube membuat fitur untuk menanggulangi perilaku scroll dooming anak-anak pada video Youtube Shorts.

Dalam ilmu komunikasi, agenda setting menjelaskan bagaimana media memengaruhi sebuah isu yang terasa penting di benak publik (McCombs & Shaw, 1972). Pada ekosistem digital hari ini, tren bergerak cepat sehingga perhatian pun bergeser cepat. Meskipun bukan lagi dikendalikan redaksi, namun kecepatan itu tidak netral. Isu yang membutuhkan waktu untuk dipahami sering kalah oleh isu yang menawarkan reaksi cepat. Perdebatan publik lalu mengejar topik yang mudah dibagikan, bukan topik yang perlu diselesaikan. Banyak orang merayakan partisipasi karena komentar dan unggahan sudah tampak sebagai keterlibatan. Padahal keterlibatan yang sehat biasanya menuntut waktu untuk membaca, memeriksa, dan menimbang bobot konsekuensinya.

Kecerdasan Artifisial (KA) generatif menambah risiko baru karena sistem ini meniru bentuk pengetahuan manusia. UNESCO menekankan perlunya pendekatan berpusat pada manusia dalam penggunaan KA generatif di pendidikan dan riset, karena teknologi ini membawa risiko akurasi, bias, privasi, dan ketergantungan pada hasil yang instan. Masalahnya, risiko tersebut sulit untuk disadari oleh manusia. Bahaya itu tidak selalu muncul sebagai sebuah kebohongan yang terang benderang seperti layaknya kabar hoaks di media sosial yang selama ini kita kenal. Risiko sering muncul sebagai kalimat yang meyakinkan, logis, namun menyesatkan. Ketika KA melayani permintaan dalam hitungan detik, banyak orang menukar proses belajar dengan ilusi pemahaman.

Di ruang kelas dan kampus, budaya instan juga mengubah relasi seseorang dengan pengetahuan. Uses and gratifications theory menjelaskan bahwa orang memakai media untuk memenuhi kebutuhan tertentu, seperti hiburan, identitas, relasi, atau informasi (Katz, Blumler, & Gurevitch, 1973). Ketika beban akademik, tekanan sosial, dan linimasa media sosial bertabrakan, banyak orang memilih jalur tercepat untuk meredakan cemas, yaitu mencari jawaban instan. KA dan media sosial menyediakan jalan itu dengan mudah. Hal itu membuat kebutuhan validasi mendominasi diri, sedangkan prestasi hanyalah ilusi.

Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang melakukan asesmen pada kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa berusia 15 tahun menunjukkan gejala itu. Rata-rata skor Indonesia tercatat hanya 369. Angka ini berada di bawah Thailand yang meraih 394, Malaysia 404, dan terpaut cukup jauh dari Vietnam yang mencapai 468 (Satria, 2026).

Jika dikaitkan dengan perilaku berinternet masyarakat Indonesia, skor ini tidaklah mengagetkan. Kita cenderung mengulangi tindakan yang sama atau serupa berulang kali yang biasanya dengan kecepatan tinggi atas konsumsi video pendek di media sosial. Kebiasaan tenggelam dalam lautan kata-kata ketika membaca buku, surat kabar dan majalah kemudian tergantikan dengan perilaku yang layaknya meluncur di permukaan air seperti orang mengendarai jetski.

Serba instan juga memengaruhi cara orang membangun pendapat. Spiral of silence menjelaskan kecenderungan sebagian orang menahan opini ketika merasa opini itu tidak populer (Neumann, 1974). Arus percakapan di media sosial yang bergerak cepat sering memberi sinyal palsu tentang suara mayoritas. Banyak orang menilai, opini yang perlu diikuti adalah dari intensitas unggahan, bukan dari kualitas argumen. KA memperkuat situasi ini karena ia mampu memproduksi banyak teks yang seolah seragam, sehingga kesan konsensus bisa muncul tanpa proses mufakat yang nyata. Ruang publik lalu kehilangan variasi suara, dan diskusi berubah menjadi lomba cepat akan siapa yang mampu memberikan respons tercepat.

Hal ini bisa dikaitkan dengan kasus sekelompok siswa yang melakukan pengeroyokan guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi pada 13 Januari 2026 yang lalu. Beberapa siswa menganggap bahwa proses pembelajaran di sekolah sebagai sebuah beban, yang memposisikan guru sebagai pemberi beban dan rasa tidak nyaman tersebut. Ketika siswa mendapatkan validasi yang “bebas” di media sosial, yang diperkuat dengan jawaban instan tanpa hati yang diberikan oleh Kecerdasan Artifisial (KA), maka peristiwa pengeroyokan ini hanyalah satu dari sekian banyak contoh risiko yang mungkin ditimbulkan media sosial dan KA.

Di titik ini, masalah utama bukan teknologi semata. Masalah utama muncul ketika masyarakat mengukur nilai sosial dari kecepatan, sehingga membuang jauh proses yang melatih kebijaksanaan. KA dan media sosial menawarkan kemudahan yang nyata, namun kemudahan itu perlu dibarengi dengan norma sosial yang menempatkan ketelitian sebagai kebajikan. Tanpa itu, budaya instan akan terus menjauhkan manusia untuk berperilaku layaknya manusia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
6 Manfaat Minum Cokelat Panas untuk Kesehatan
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
Layanan Informasi Unismuh Dinilai Unggul, Raih Dua Penghargaan pada Pameran LLDIKTI IX 2026
• 51 menit laluharianfajar
thumb
KPK Kembali Periksa Gus Alex Terkait Perkara Korupsi Kuota Haji
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Kemenhaj Tegaskan Petugas Haji Harus Penuhi 3 Syarat untuk Berangkat ke Tanah Suci
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Ini Pentingnya Hidrasi yang Tepat untuk Kesehatan Tubuh
• 1 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.