Banyak orang mengira perubahan dari siswa SMA ke mahasiswa itu cuma soal ganti seragam jadi pakaian bebas. Padahal, perubahan yang paling terasa justru ada di pola pikir dan tanggung jawab.
Mahasiswa semester 1 sering masuk dengan bayangan kuliah itu santai karena jamnya tidak sepadat sekolah. Ada hari yang cuma satu kelas, bahkan ada yang kosong. Tapi justru di situlah tantangannya. Waktu yang terlihat longgar sering bikin mahasiswa terlena, sampai akhirnya tugas menumpuk dan deadline datang bersamaan.
Di bangku kuliah, tidak ada lagi guru yang mengejar murid soal tugas. Dosen memberi materi, menjelaskan garis besar, lalu sisanya kembali ke mahasiswa. Mau paham atau tidak, mau belajar atau tidak, semuanya jadi tanggung jawab pribadi. Sistem ini bikin banyak mahasiswa baru merasa “dilempar” ke situasi yang menuntut kemandirian secara tiba-tiba.
Selain akademik, perubahan juga terasa di kehidupan sosial. Mahasiswa datang dari berbagai daerah, latar belakang, dan sifat yang berbeda. Proses mencari teman yang satu frekuensi butuh waktu. Ada yang cepat dapat circle, ada juga yang butuh adaptasi lebih lama. Dan itu hal yang wajar.
Hal lain yang jarang dibahas adalah rasa ragu pada diri sendiri. Baru masuk kuliah, tapi sudah mulai muncul pikiran, “Aku salah jurusan nggak ya?”, “Aku sanggup nggak ngikutin pelajarannya?”. Perasaan seperti ini normal, apalagi saat masih di tahap awal mengenal dunia perkuliahan.
Kunci melewati semester 1 sebenarnya bukan soal jadi yang paling pintar, tapi yang paling bisa menyesuaikan diri. Belajar atur waktu, berani bertanya kalau tidak paham, dan pelan-pelan keluar dari zona nyaman. Tidak perlu langsung hebat di awal. Yang penting, mau bertumbuh.
Semester 1 adalah masa fondasi. Di sinilah mahasiswa belajar mengenal diri sendiri, cara belajar yang cocok, dan lingkungan yang mendukung. Memang terasa berat di awal, tapi fase ini akan jadi cerita yang nantinya bikin kita sadar: ternyata kita sudah sejauh itu berkembang.



