Pernah mendengar bahwa tumbuh kembang anak ditentukan oleh faktor sosial lingkungan di sekitarnya dan pola asuh (parenting). Dalam pembahasan tersebut, anak cenderung lebih banyak menghabiskan pengalaman hidup di luar rumah: bermain, bersosialisasi, dan bergaul. Sisanya terbentuk dari keluarga di rumah.
Lalu, bagaimana luka batin terbentuk ketika tumbuh kembang anak tidak berjalan sebagaimana mestinya? Maka di sinilah lingkungan tempat tinggal anak menjadi faktor yang menentukan. Banyak isu terkini terkait persoalan anak dan pergaulan bebas. Dalam kondisi tertentu, anak dapat terdorong pada perilaku berisiko sebagai bentuk pelarian atau pencarian penerimaan, seperti mabuk-mabukan, berjudi, tawuran, hingga kehamilan di luar nikah, dan lain-lain.
Fokus utama pembahasan ini bukan sekadar perilaku, melainkan luka batin dan ingatan emosional yang terbentuk sejak masa anak-anak hingga remaja. Salah satu pertanyaan penting yang sering terabaikan adalah:
“Apakah anak-anak ini merasa diterima di lingkungannya?”
Anak-anak hingga masa remaja yang terus mengalami penolakan—baik secara kehadiran, komunikasi, maupun pendapat—akan beradaptasi dengan cara yang tidak sehat. Mereka cenderung berusaha menyenangkan kelompoknya, mengikuti pembicaraan tanpa benar-benar terlibat, serta menekan pendapat dan perasaan pribadi. Ketika anak mengutarakan pendapat atau haknya untuk berbicara, tidak jarang ia mengalami penolakan: tidak didengar, disepelekan, atau dianggap bahwa opininya tidak berguna. Dari sinilah anak belajar satu hal berbahaya—diam terasa lebih aman daripada jujur.
Kondisi ini dalam jangka panjang dapat membentuk pola kepribadian yang menyerupai kecenderungan perilaku menghindar (avoidant traits), di mana seseorang terbiasa menarik diri, merasa tidak layak diterima, dan takut ditolak. Ironisnya, meski lingkungan tersebut tidak memberikan rasa aman, individu tetap bertahan di dalamnya karena itulah satu-satunya pola relasi yang ia kenal. Seseorang terbiasa mencari rasa aman pada individu atau lingkungan sosial yang sebenarnya tidak menerima atau menghargainya. Penerimaan semu itu terasa familiar, sehingga mereka bertahan di dalamnya tanpa disadari.
Dalam kehidupan dewasa, pola ini menjadi hambatan serius. Mereka cenderung takut mengutarakan pendapat, perasaan, dan kebutuhan emosionalnya. Ketika orang lain bersikap baik, sistem kewaspadaan dalam otak mereka justru aktif: “Mengapa mereka sebaik ini? Apa karena ada tipu daya? Manipulasi?” Otak yang terbiasa dengan penolakan dan kehadiran palsu akan memicu peringatan untuk menjaga jarak dan menjauh.
Pada akhirnya, luka ini bukan tentang lemahnya individu, melainkan tentang sejarah penerimaan yang tidak pernah mereka miliki.





