API konflik kembali menyala di Timur Tengah. Potensi eskalasi serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran tidak lagi dapat dipahami sebagai ketegangan regional semata. Dalam sistem global yang saling terhubung, konflik ini membawa risiko nyata terhadap stabilitas energi, ketahanan pangan, keberlanjutan lingkungan hidup, hingga ancaman eksistensial umat manusia jika eskalasi berujung pada penggunaan senjata nuklir.
Secara geografi politik, Timur Tengah merupakan simpul strategis dunia. Halford J. Mackinder sejak 1904 melalui The Geographical Pivot of History telah menegaskan bahwa kawasan di sekitar Eurasia berfungsi sebagai poros keseimbangan kekuatan global. Iran berada tepat di simpul tersebut, menghubungkan Asia Tengah, Teluk Persia, dan kawasan Eurasia. Karena itu, gangguan serius terhadap stabilitas Iran hampir pasti mengguncang tatanan geopolitik global.
Dampak paling cepat dan terukur dari eskalasi konflik ini terlihat pada sektor energi. Data International Energy Agency (IEA, World Energy Outlook, 2023) menunjukkan bahwa kawasan Teluk Persia menyumbang sekitar 30 hingga 33 persen produksi minyak mentah dunia. Sementara itu, menurut U.S. Energy Information Administration (EIA, 2023), Selat Hormuz menjadi jalur distribusi sekitar 18-20 juta barel minyak per hari atau hampir 20 persen pasokan minyak global.
Bank Dunia dalam Commodity Markets Outlook (2024) memperingatkan bahwa konflik terbuka di kawasan ini berpotensi mendorong harga minyak melampaui USD 100 per barel, bahkan dalam skenario ekstrem dapat mencapai USD 120-150 per barel. Lonjakan harga energi semacam itu bukan sekadar statistik makroekonomi. International Monetary Fund (IMF, World Economic Outlook, 2023) mencatat bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dapat mendorong inflasi global hingga 0,4 persen.
Baca juga: Sudah Kerahkan Kapal ke Timur Tengah, Apa Jadinya jika AS Benar-benar Serang Iran?
Indonesia sebagai negara yang masih bertumpu pada impor untuk memenuhi kebutuhan energinya, hingga mencapai 60 persen kebutuhan minyak nasional, lonjakan harga tersebut berarti tekanan fiskal besar, peningkatan subsidi energi, dan risiko pelemahan daya beli masyarakat.
Krisis energi hampir selalu bertransformasi menjadi krisis pangan. Food and Agriculture Organization (FAO, The State of Food and Agriculture, 2022) mencatat bahwa energi menyumbang sekitar 30-40 persen biaya produksi pangan global, terutama melalui pupuk, irigasi, dan transportasi. FAO juga mencatat bahwa kenaikan harga minyak sebesar 10 persen dapat mendorong harga pangan internasional naik 2–3 persen dalam waktu relatif singkat.
Dalam konteks konflik berskala besar, dampak ini akan jauh lebih destruktif. Ancaman tersebut meningkat drastis apabila eskalasi berujung pada penggunaan senjata nuklir. Penelitian Alan Robock dan Owen Toon yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS, 2019) menunjukkan bahwa perang nuklir regional dengan sekitar 100 hulu ledak nuklir dapat melepaskan lebih dari 5 juta ton jelaga ke atmosfer.
Efek dominonya akan menurunkan suhu global hingga 1,5 derajat Celsius. Dampaknya, produksi jagung global diproyeksikan turun sekitar 15 persen, gandum 11 persen, padi 10 persen, dan kedelai 17 persen dalam lima tahun pertama pascakonflik.
Baca juga: Armada Tempur AS Tiba di Timur Tengah, Trump Mengaku Ditelepon Iran Berkali-kali
Risiko yang lebih ekstrem dipaparkan oleh studi Lili Xia dkk. dalam Nature Food (2022), yang memperkirakan bahwa perang nuklir skala besar dapat menurunkan produksi pangan global hingga 80-90 persen dan memicu kelaparan yang mengancam lebih dari 5 miliar jiwa. Temuan ini menegaskan bahwa perang nuklir bukan sekadar isu strategis militer, melainkan ancaman langsung terhadap kelangsungan hidup umat manusia.
Dampak lingkungan hidup dari konflik berskala besar juga bersifat masif dan jangka panjang. United Nations Environment Programme (UNEP, 2023) mencatat bahwa perang modern merusak lahan pertanian, mencemari air tanah, dan meningkatkan emisi karbon secara signifikan.
Studi terkait merujuk pada konflik yang sedang terjadi sejak 2022 antara Rusia-Ukraina memperkirakan tambahan emisi lebih dari 150 juta ton CO2 ekuivalen hanya dalam dua tahun pertama perang. Konflik berskala lebih luas di Timur Tengah, kawasan dengan konsentrasi infrastruktur energi tinggi, berpotensi menghasilkan kerusakan ekologis lintas generasi, terutama jika melibatkan senjata nuklir.
Baca juga: Sederet Fakta AS Kirim Armada Laut dan Udara ke Timur Tengah, Apa Skenarionya?
Kondisi eskalasi konflik Timur Tengah ini, menurut John H. Herz (1950), menyebutnya sebagai security dilemma. Tindakan yang dimaksudkan sebagai langkah defensif justru dipersepsikan sebagai ancaman eksistensial oleh pihak lain. Thomas C. Schelling dalam The Strategy of Conflict (1960) memperingatkan bahwa logika pencegahan nuklir sangat rapuh ketika aktor merasa tidak memiliki ruang untuk mundur.
Kenneth Waltz (1979) menegaskan bahwa ketidakseimbangan kekuatan dalam sistem internasional hampir selalu memicu eskalasi berantai. Akumulasi risiko tersebut tercermin dalam Doomsday Clock yang diterbitkan Bulletin of the Atomic Scientists (2024), yang kini berada di posisi 90 detik menuju tengah malam, level terdekat sejak indikator ini diperkenalkan pada 1947.
Penilaian ini didasarkan pada kombinasi ancaman perang nuklir, konflik geopolitik, dan krisis lingkungan global.
Bagi Indonesia dan ASEAN, eskalasi konflik ini bukan persoalan jauh. Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia (2022-2023) dan Kementerian Keuangan melalui Nota Keuangan dan APBN (2023) mencatat bahwa setiap kenaikan harga minyak mentah internasional sebesar USD 10 per barel berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi Indonesia hingga Rp25-30 triliun per tahun.



