Masjid Sultan Kasimudin, Pusat Peradaban Islam Kesultanan di Kalimantan Utara

tvrinews.com
10 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Lidya Thalia.S

TVRINews, Tanjung Palas Timur

Masjid Sultan Kasimudin menjadi salah satu saksi sejarah penting perkembangan Islam dan peradaban Kesultanan di wilayah Kalimantan Utara. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat sejak ratusan tahun silam.

Hal tersebut disampaikan Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, saat memberikan penjelasan sejarah Masjid Sultan Kasimudin kepada masyarakat, Kamis.

Ia menjelaskan, masjid tersebut awalnya bernama Masjid Jami, yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Azimuddin, sebagai upaya menyebarkan ajaran Islam secara luas sekaligus menjadi tempat berkumpul masyarakat.

“Masjid ini dibangun setelah Islam berkembang di wilayah kesultanan. Tujuannya untuk tempat ibadah, pusat dakwah, dan pemersatu masyarakat,” ujar Maulana dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 29 Januari 2026.

Menurutnya, pada masa itu kawasan sekitar masjid telah menjadi pusat pemerintahan kesultanan, ditandai dengan keberadaan Istana Tua Sultan Azimuddin beserta lingkungan pendukungnya.

Sultan Tajimudin diketahui memiliki tiga putra, yakni Sultan Kasimudin, Datuk Piras, dan Datuk Muhammad. Nama Sultan Kasimudin kemudian diabadikan sebagai nama masjid.

Ornamen Sarat Makna Filosofis

Masjid Sultan Kasimudin dibangun dengan ornamen yang sarat makna. Di antaranya kaligrafi Islam, mimbar ukiran khas kesultanan, serta tiang penyangga utama setinggi sekitar 10 meter.

“Orang-orang dulu membangun tidak asal bangun. Semua punya makna, termasuk tiang-tiang yang mengarah ke atas sebagai simbol permohonan manusia kepada Allah SWT,” jelasnya.

Bangunan masjid juga dilengkapi gapura masuk, yang melambangkan adab umat Islam saat memasuki rumah ibadah dengan mengucap salam.

Di bagian belakang masjid terdapat kompleks makam para sultan, termasuk makam Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin, Sultan ke-10 yang dikenal memiliki kiprah besar dalam pengembangan Islam.

Sultan tersebut disebut pernah menimba ilmu ke berbagai daerah, termasuk ke Bandung dan wilayah Eropa, sebelum kembali ke kesultanan untuk memperkuat sistem keislaman. Pada masa itu pula dikenal jabatan kadi sebagai pejabat keagamaan istana dan naib sebagai pengelola masjid.

Bahan bangunan masjid, termasuk keramik, didatangkan dari Eropa dan Belanda, menyesuaikan dengan arsitektur istana kesultanan pada era tersebut.

“Dulu wilayah ini menjadi pusat ekonomi, budaya, dan sosial masyarakat, bukan di tempat lain,” ucapnya.

Pusat Tradisi Keagamaan dan Budaya

Masjid Sultan Kasimudin juga menjadi pusat pelaksanaan berbagai tradisi keislaman masyarakat, mulai dari perayaan Maulid Nabi hingga penyambutan tahun baru Islam.

Dalam peringatan Maulid Nabi, masyarakat menggelar tradisi Nasi Rasul, yakni ketan kuning berukuran besar yang dihiasi telur dan kain kuning, sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.

Tradisi tersebut melibatkan seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang, termasuk masyarakat Dayak, Arab, dan Tionghoa yang hidup berdampingan sejak masa kesultanan.

Selain itu, penyambutan tahun baru Islam juga diramaikan dengan arak-arakan perahu hias (biduk kembang) yang menjadi ciri khas budaya maritim kesultanan.

Sementara pada bulan Safar, masyarakat melaksanakan ritual doa keselamatan sebagai bentuk ikhtiar spiritual menghadapi berbagai kemungkinan musibah.

Tradisi Ramadhan hingga Idul Fitri

Menjelang bulan Ramadhan, masyarakat melaksanakan tradisi Jalikur, yakni doa bersama sebagai tanda dimulainya persiapan puasa. Setelah itu, rumah-rumah warga memasang obor bambu atau silu sebagai simbol penyambutan bulan suci.

Selama Ramadhan, masjid menjadi pusat aktivitas ibadah, mulai dari tarawih, zikir, hingga tradisi pukul bedug dan membangunkan sahur secara berkeliling.

Menjelang Idul Fitri, masyarakat bergotong royong membersihkan rumah dan membuka open house untuk seluruh warga tanpa memandang status maupun latar belakang.

Pada masa kesultanan, Sultan juga memberikan sedekah berupa uang, pakaian, dan kebutuhan lainnya kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial.

Penentuan Hari Raya dilakukan melalui musyawarah, dengan tanda resmi berupa dentuman Meriam Sebenua sebanyak tujuh kali, yang terbuat dari logam sumbangan masyarakat.

“Meriam itu menjadi penanda resmi dimulainya puasa dan Hari Raya, agar seluruh masyarakat menjalankan ibadah secara serentak,” ungkapnya.

Pesan untuk Generasi Muda

Raja Muda Sultan Maulana Muhammad Djalaluddin berharap generasi muda tidak melupakan warisan sejarah dan budaya yang melekat pada Masjid Sultan Kasimudin.

“Budaya dan sejarah ini sangat mahal nilainya. Jangan sampai generasi muda tidak peduli,” tegasnya.

Ia menilai pelestarian budaya perlu terus dilakukan melalui perbaikan, pengenalan, dan keterlibatan langsung anak-anak muda agar identitas daerah tetap terjaga seiring perkembangan zaman.

“Kami yang tua berusaha memberi contoh. Harapannya anak-anak muda mau bersama-sama memikul tanggung jawab untuk kemajuan daerah,” pungkasnya.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Final DSC Season 16 Perkuat Fondasi Ekonomi Nasional lewat Ekosistem Wirausaha Berkelanjutan
• 18 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pramono Minta Jalan Berlubang di Jakarta segera Diperbaiki agar Tak Makan Korban
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Persib Datangkan Layvin Kurzawa, Alfeandra Dewangga Tidak Merasa Terancam
• 23 jam lalumerahputih.com
thumb
Meski kerap diprotes, Pramono sebut RDF Rorotan tidak mungkin ditutup
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
BRI Super League Pekan ke-19: Persita Uji Konsistensi Persija-Kabar Daerah
• 21 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.