Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan tidak mungkin ditutup meskipun seringkali mendapatkan protes dari warga setempat.
Saat mengunjungi Taman Kelinci Roci di Cilincing, Jakarta Utara, seorang warga bahkan menghampiri Pramono dan menyampaikan secara langsung keluhannya terkait RDF Rorotan.
“Jadi, RDF ini terus terang kan dibangun bukan di era saya. Biayanya cukup tinggi. Kalau kemudian saya tutup, ini problemnya lebih rumit lagi, nggak mungkin,” kata Pramono saat dijumpai di Jakarta Utara, Jumat.
Dia pun mengaku sudah dua kali menemui warga yang tinggal di sekitar RDF Rorotan untuk mendengarkan keluhan mereka dan berdiskusi bersama.
Namun, jika diminta untuk menutup RDF Rorotan, Pramono menegaskan tidak dapat melakukannya.
Menurut dia, sumber permasalahan utama yang menimbulkan bau di sekitar daerah tersebut, yaitu karena transportasi pengangkut sampah yang bocor.
“Untuk RDF Rorotan, memang problem utamanya adalah angkutan. Jadi, sekarang ini, begitu angkutan dilakukan, ada air lindinya jatuh, netes-netes, inilah yang kemudian menyebabkan protes masyarakat. Sedangkan Rorotan sendiri sudah berulang kali dilakukan komisioning, itu relatif tidak masalah,” ujar Pramono.
Baca juga: Bau tak sedap di RDF Rorotan karena sampah organik-anorganik tercampur
Oleh karena itu, dia meminta agar dilakukan pengadaan armada baru untuk mendukung operasional RDF Plant Rorotan.
Pada 2025, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta memiliki 148 armada truk compactor tertutup yang siap mengangkut sampah ke fasilitas RDF Plant Rorotan guna memastikan pengangkutan sampah minim dampak bagi lingkungan perkotaan.
Dari 148 armada truk compactor yang dimiliki, 97 unit truk di antaranya merupakan hasil pengadaan Tahun Anggaran 2024, sementara 51 unit lainnya hasil pengadaan Tahun Anggaran 2025.
Ke depannya, Pramono secara tegas melarang transportasi pengangkut sampah yang lama untuk beroperasi.
Selain itu, dia juga meminta agar RDF Rorotan berhenti beroperasi untuk sementara.
“Mudah-mudahan, ini akan bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada di Rorotan ini,” ungkap Pramono.
Baca juga: Operasional bertahap RDF Rorotan di Jakut dinilai sudah tepat
Baca juga: Armada baru diharapkan dapat mendukung pengoperasian RDF Plant Rorotan
Saat mengunjungi Taman Kelinci Roci di Cilincing, Jakarta Utara, seorang warga bahkan menghampiri Pramono dan menyampaikan secara langsung keluhannya terkait RDF Rorotan.
“Jadi, RDF ini terus terang kan dibangun bukan di era saya. Biayanya cukup tinggi. Kalau kemudian saya tutup, ini problemnya lebih rumit lagi, nggak mungkin,” kata Pramono saat dijumpai di Jakarta Utara, Jumat.
Dia pun mengaku sudah dua kali menemui warga yang tinggal di sekitar RDF Rorotan untuk mendengarkan keluhan mereka dan berdiskusi bersama.
Namun, jika diminta untuk menutup RDF Rorotan, Pramono menegaskan tidak dapat melakukannya.
Menurut dia, sumber permasalahan utama yang menimbulkan bau di sekitar daerah tersebut, yaitu karena transportasi pengangkut sampah yang bocor.
“Untuk RDF Rorotan, memang problem utamanya adalah angkutan. Jadi, sekarang ini, begitu angkutan dilakukan, ada air lindinya jatuh, netes-netes, inilah yang kemudian menyebabkan protes masyarakat. Sedangkan Rorotan sendiri sudah berulang kali dilakukan komisioning, itu relatif tidak masalah,” ujar Pramono.
Baca juga: Bau tak sedap di RDF Rorotan karena sampah organik-anorganik tercampur
Oleh karena itu, dia meminta agar dilakukan pengadaan armada baru untuk mendukung operasional RDF Plant Rorotan.
Pada 2025, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta memiliki 148 armada truk compactor tertutup yang siap mengangkut sampah ke fasilitas RDF Plant Rorotan guna memastikan pengangkutan sampah minim dampak bagi lingkungan perkotaan.
Dari 148 armada truk compactor yang dimiliki, 97 unit truk di antaranya merupakan hasil pengadaan Tahun Anggaran 2024, sementara 51 unit lainnya hasil pengadaan Tahun Anggaran 2025.
Ke depannya, Pramono secara tegas melarang transportasi pengangkut sampah yang lama untuk beroperasi.
Selain itu, dia juga meminta agar RDF Rorotan berhenti beroperasi untuk sementara.
“Mudah-mudahan, ini akan bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada di Rorotan ini,” ungkap Pramono.
Baca juga: Operasional bertahap RDF Rorotan di Jakut dinilai sudah tepat
Baca juga: Armada baru diharapkan dapat mendukung pengoperasian RDF Plant Rorotan




