Wabah Campak Menyebar di AS, Capai Rekor 789 Kasus

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Amerika Serikat kembali menghadapi lonjakan kasus campak yang mengkhawatirkan. Wabah yang masih berlangsung di South Carolina kini resmi menjadi yang terbesar sejak campak dinyatakan musnah di AS pada awal 2000-an. Hingga saat ini, tercatat 789 kasus, melampaui wabah besar di Texas Barat yang mencapai puncak 762 kasus pada 2025.

Sepanjang 2025, total kasus campak di AS juga menembus angka 1.500 untuk pertama kalinya sejak tahun 2000. Data federal bahkan mencatat 2.255 kasus terkonfirmasi di 45 yurisdiksi hingga akhir tahun lalu. Lonjakan ini sejalan dengan tren global, di mana campak kembali merebak di berbagai negara dalam beberapa tahun terakhir.

Departemen Kesehatan Masyarakat South Carolina menyebut wabah ini sebagai yang terburuk di negara bagian tersebut dalam lebih dari 30 tahun terakhir. Pusat penyebaran berada di Spartanburg County. Meski sebagian besar penularan terjadi kontak erat dengan penderita, otoritas kesehatan memperingatkan bahwa campak juga menyebar antar-komunitas.

“Ini meningkatkan risiko paparan dan infeksi, terutama bagi mereka yang tidak memiliki kekebalan karena belum divaksin atau belum pernah terinfeksi secara alami,” demikian peringatan otoritas kesehatan setempat sebagaimana dikutip IFL Science.

Data tahun 2025 menunjukkan 93 persen kasus campak terjadi pada individu yang tidak divaksin atau status vaksinasinya tidak diketahui. Dari 243 pasien yang harus dirawat di rumah sakit, proporsi terbesar atau sekitar 18 persen adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun. Tercatat pula tiga kematian akibat penyakit ini.

Penelitian terbaru yang memetakan cakupan vaksin MMR (measles, mumps, rubella) yang melindungi dari campak, gondongan, dan rubela, serta kadang dikombinasikan dengan vaksin cacar air, menemukan adanya wilayah dengan tingkat vaksinasi rendah di AS. Kondisi ini membuat populasi tertentu sangat rentan terhadap wabah besar seperti yang terjadi saat ini.

Salah satu faktor pendorong rendahnya vaksinasi adalah ketidakpercayaan terhadap vaksin, yang dipicu oleh misinformasi dari kelompok antivaksin yang cukup vokal. Padahal, berbagai bukti ilmiah telah menegaskan vaksin tidak menyebabkan autisme. Isu tersebut berakar dari sebuah studi pada akhir 1990-an yang kini telah ditarik, namun dampaknya masih sulit dihapus.

Ironisnya, misinformasi terkait vaksin juga sempat disebarkan oleh pejabat tinggi pemerintah AS. Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Robert F. Kennedy Jr., termasuk di antara tokoh yang belakangan dikritik karena pernyataannya soal vaksin.

Para ilmuwan dan tenaga medis terus berupaya melawan arus misinformasi dengan edukasi berbasis bukti. Namun, seperti ditunjukkan oleh studi pemetaan vaksinasi, masih ada celah besar yang harus ditutup.

Vaksinasi dinilai krusial untuk melindungi kelompok paling rentan, seperti bayi yang belum cukup usia untuk divaksin, orang dengan sistem imun lemah, serta mereka yang memiliki kondisi medis tertentu sehingga tidak bisa menerima vaksin.

Sementara dari 789 kasus di South Carolina, lebih dari 600 terjadi di awal tahun ini. Dalam konferensi pers pada 21 Januari 2026, Epidemiolog Negara Bagian South Carolina, Dr. Linda Bell, mengungkapkan bahwa saat itu 538 orang masih menjalani karantina dan 33 orang dalam isolasi.

Dilansir CNN, kasus campak di North Carolina, Washington, dan California juga telah dikaitkan dengan wabah di South Carolina. Kini, muncul spekulasi apakah Amerika Serikat akan kehilangan status eliminasi campak, seperti yang telah dialami Kanada, Inggris, dan sejumlah negara Eropa. Suatu penyakit dinyatakan muncul kembali jika terdapat bukti rantai penularan berkelanjutan selama 12 bulan berturut-turut.

Keputusan terkait status tersebut akan ditentukan dalam pertemuan Pan American Health Organization yang dijadwalkan pada 13 April 2026 mendatang. Dalam forum itu, Amerika Serikat dan Meksiko diundang untuk mempresentasikan data masing-masing.

Gejala, Penularan, dan Cara Mencegah

Campak adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus Morbilivirus dari keluarga paramyxovirus, ditandai dengan munculnya ruam kemerahan di beberapa bagian tubuh. Campak juga dikenal sebagai morbili atau measles, dan memang umumnya terjadi pada anak-anak, tapi tak menutup kemungkinan menginfeksi orang dewasa.

Virus penyebab campak bisa ditemukan di hidung maupun tenggorokan manusia. Mereka sangat menular dan menyebar lewat droplet atau percikan batuk dan bersin di udara. Virus ini menginfeksi saluran pernapasan lalu menyebar ke seluruh tubuh.

Menurut CDC, jika satu orang terinfeksi, 9 dari 10 orang yang ada di sekitarnya akan ikut terjangkit jika mereka tidak divaksinasi. Masa inkubasi virus penyebab campak sekitar 7 hingga 18 hari, dan gejala biasanya muncul selama 7 sampai 14 hari. Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus campak terbanyak di dunia.

Sebagian besar orang yang terinfeksi akan mengalami demam, ruam, dan batuk. Selain kematian, campak berpotensi menyebabkan komplikasi, seperti kebutaan dan pembengkakan otak. Campak sebenarnya bisa dicegah melalui pemberian dua dosis vaksin.

Penularan juga bisa dicegah dengan menerapkan social distancing, hindari kontak erat dengan orang yang terinfeksi, memakai masker, dan rajin mencuci tangan. Jika gejala muncul, segera berkonsultasi hubungi dokter atau mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut dan mencegah penularan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ibu Rumah Tangga Jatuh dan Tenggelam di Danau Bekasi, Ditemukan Tewas
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Kapolresta Sleman Dinonaktifkan Buntut Kasus Hogi Minaya, Hasil Audit ADTT Temukan Dugaan Lemahnya Pengawasan Pimpinan
• 5 jam laludisway.id
thumb
Kemenhaj Pastikan Hanya Petugas Haji Sesuai Standar yang Diberangkatkan ke Tanah Suci
• 3 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Sejumlah Ruas Jalan Jakarta Masih Banjir Kamis Sore, Lalu Lintas Tersendat
• 22 jam lalukompas.com
thumb
Iran Siap Hadapi Amerika Serikat (AS) Dengan Seribu Drone Baru
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.