Beberapa waktu terakhir, istilah open to work kembali muncul di linimasa. Ada cerita tentang seorang ASN yang juga aktif sebagai kreator konten memasang label tersebut di LinkedIn. Di waktu yang hampir bersamaan, Prilly Latuconsina juga menulis bahwa dirinya open to work, bukan karena kehilangan pekerjaan, melainkan karena ingin mencoba hal baru.
Awalnya saya sempat bertanya-tanya: apakah makna open to work hari ini masih sama seperti beberapa tahun lalu?
Dulu, label ini terasa sangat tegas. Ia identik dengan seseorang yang sedang mencari pekerjaan karena sudah tidak bekerja. Namun kini, maknanya tampak lebih lentur. Ada yang masih bekerja penuh waktu, tetap menjalankan perannya, tetapi memilih untuk terbuka pada kemungkinan lain.
Makna yang Mulai BergeserDalam praktiknya, open to work kini sering digunakan sebagai sinyal keterbukaan, bukan pernyataan akan segera pindah. Sebagian orang menggunakannya untuk mencari pekerjaan tambahan atau proyek sampingan. Sebagian lain ingin menjajal peran baru, industri berbeda, atau bentuk kerja yang lebih sesuai dengan fase hidupnya saat ini.
Ada pula yang sekadar ingin membuka percakapan profesional—membangun jejaring, berdiskusi, atau mengetahui bagaimana respon market terhadap kompetensi yang dimilikinya. Tidak selalu ada rencana besar di baliknya. Kadang, hanya rasa ingin tahu yang wajar.
Masih Bekerja, Tapi Tetap Membuka OpsiDari sudut pandang SDM, kondisi ini cukup menarik. Banyak individu yang memasang open to work justru masih merasa bertanggung jawab pada pekerjaannya. Mereka tetap hadir, tetap menyelesaikan tugas, dan tetap berkontribusi.
Namun di saat yang sama, mereka juga sedang berpikir tentang arah karier ke depan. Apakah peran saat ini masih relevan? Apakah ruang belajarnya masih cukup? Atau adakah pengalaman lain yang bisa memperkaya, tanpa harus benar-benar meninggalkan yang sekarang?
Dalam konteks ini, open to work lebih menyerupai ruang bernapas. Sebuah jeda kecil untuk melihat ke sekitar, tanpa harus langsung melangkah pergi.
Perspektif SDM: Adaptasi yang WajarDalam kajian SDM modern, perilaku ini dapat dibaca sebagai bentuk adaptasi. Dunia kerja berubah cepat, begitu pula kebutuhan individu di dalamnya. Karier tidak lagi selalu berjalan lurus, dan tidak semua orang ingin menunggu sampai “waktunya tiba” baru mulai mencari opsi lain.
Karyawan hari ini cenderung lebih aktif mengelola dirinya sendiri. Mereka menyadari bahwa keberlanjutan karier tidak hanya bergantung pada satu institusi, tetapi juga pada kemampuan untuk terus belajar dan membangun relasi profesional.
Dalam konteks itu, keterbukaan terhadap peluang justru menjadi strategi bertahan, bukan tanda ketidaksetiaan.
Bukan Selalu Soal PergiMenariknya, tidak semua yang open to work benar-benar ingin pindah. Sebagian justru sedang mencari bentuk kerja yang lebih seimbang. Sebagian ingin menguji diri di ruang yang berbeda. Sebagian lainnya hanya ingin memastikan bahwa dirinya tidak berhenti tumbuh.
Barangkali yang berubah bukan orang-orangnya, melainkan cara mereka menamai prosesnya.
PenutupFenomena open to work hari ini tampaknya lebih tepat dibaca sebagai bahasa baru dunia kerja. Bahasa tentang keterbukaan, pencarian, dan keinginan untuk tetap relevan.
Dan mungkin, alih-alih bertanya mengapa seseorang memasang label itu, pertanyaan yang lebih menarik adalah:
apa yang membuat semakin banyak orang merasa perlu memberi ruang bagi kemungkinan lain?




