Judi Online Bebani Fintech, Biaya Pengawasan dan Keamanan Terus Meningkat

metrotvnews.com
11 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Maraknya praktik judi online tidak hanya berdampak pada masyarakat, tetapi juga menciptakan beban ekonomi baru bagi sektor teknologi keuangan. Penyedia layanan pembayaran digital harus menanggung biaya tambahan untuk pengawasan transaksi, penguatan sistem keamanan, hingga perlindungan konsumen dari penyalahgunaan platform.

Dalam diskusi Judi Pasti Rugi: Perjalanan Lintas Nusantara Berantas Judi Online, perwakilan GoPay mengungkapkan aktivitas judi online memaksa industri fintech meningkatkan investasi teknologi guna mendeteksi pola transaksi ilegal sejak dini. Sistem pembayaran digital kini tidak lagi hanya berfungsi memfasilitasi transaksi, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam mitigasi risiko kejahatan finansial.

Senior Brand Manager GoPay, Irwan Ari Wibowo, menjelaskan pengawasan dilakukan secara otomatis dengan memanfaatkan sistem analitik berbasis teknologi. Setiap transaksi dianalisis untuk memastikan tidak mengandung pola mencurigakan yang berkaitan dengan judi online.

“Saat terjadi transaksi, sistem langsung menganalisis apakah pola transaksi itu mencurigakan dan akan langsung terdeteksi,” ujar Irwan dalam diskusi, Kamis, 28 Januari 2026.

Pengawasan tersebut mencakup penerapan know your customer (KYC), pemantauan perilaku transaksi, hingga penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi anomali. Namun, penguatan sistem ini membutuhkan investasi yang tidak kecil, baik dari sisi pengembangan teknologi maupun operasional.

Baca Juga :

Tekan Transaksi Judi Online, Aliran Dana Ilegal Turun
 


(Ilustrasi. Foto: Dok Metrotvnews.com) Perlindungan secara menyeluruh Head of GoPay Wallet, Kelvin Timotius, menegaskan bahwa perlindungan dilakukan secara menyeluruh sejak pengguna masuk ke dalam sistem hingga pascatransaksi. Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan peluang penyalahgunaan akun sebagai sarana judi online.

“Dari awal masuk akun kami proteksi, saat transaksi kami proteksi, dan setelah transaksi juga kami blok,” kata Kelvin.

Menurut dia, upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen menjaga kepercayaan pengguna terhadap layanan keuangan digital. Namun, di sisi lain, semakin masifnya praktik judi online membuat biaya kepatuhan (cost of compliance) dan pengamanan sistem terus meningkat.

Dari perspektif ekonomi, judi online dipandang sebagai beban eksternal bagi industri fintech. Dana dan sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk inovasi produk dan peningkatan layanan harus dialihkan untuk mitigasi risiko dan pengawasan aktivitas ilegal. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya operasional sektor keuangan digital.

Pemerintah dan pelaku industri sepakat pemberantasan judi online tidak dapat dibebankan hanya kepada penyedia layanan pembayaran. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar biaya ekonomi akibat judi online tidak terus membesar dan menghambat pertumbuhan ekosistem keuangan digital yang sehat. (Muhammad Adyatma Damardjati)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sidang Isbat Awal Puasa 1447 H Dijadwalkan Kemenag 17 Februari 2026, Persiapan Menuju Bulan Suci Ramadhan!
• 4 jam laludisway.id
thumb
Kemenimipas Resmikan Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Garut untuk Perluas Akses Layanan Publik
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Mau Beli Mobil Listrik Murah Rp200 Jutaan? Nih Pilihannya!
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Api di Timur Tengah dan Ancaman Perang Global
• 14 jam lalukompas.com
thumb
Si Jago Merah Mengamuk di Kedubes Italia Menteng, Petugas Berjibaku Padamkan Api di Ruang Server
• 23 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.