Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketersediaan stok pangan pokok strategis nasional berada dalam kondisi aman dan mencukupi menjelang Ramadan hingga Lebaran 2026.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bapanas Maino Dwi Hartono mengatakan pemerintah terus mengawal kecukupan pasokan, khususnya menjelang meningkatnya kebutuhan masyarakat.
“Sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Andi Amran Sulaiman, agar Bapanas terus memastikan ketersediaan bagi masyarakat, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri dalam waktu dekat ini,” kata Maino dalam keterangan tertulis, dikutip pada Jumat (30/1/2026).
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Nasional per 6 Januari 2026, sejumlah komoditas utama seperti beras, daging ayam ras, telur ayam ras, gula konsumsi, serta daging sapi dan kerbau dipastikan mencukupi untuk kebutuhan tiga bulan ke depan. Kondisi ini mencakup periode Ramadan dan Idulfitri yang diperkirakan berlangsung sejak pertengahan Februari hingga Maret.
Untuk komoditas beras, total ketersediaan nasional pada Januari—Maret 2026 diproyeksikan mencapai 22,2 juta ton, yang berasal dari stok awal tahun sebesar 12,4 juta ton dan produksi tiga bulan sekitar 9,8 juta ton. Dengan kebutuhan konsumsi sebesar 7,7 juta ton, Indonesia diperkirakan masih memiliki surplus beras 14,5 juta ton pada akhir Maret.
Kondisi serupa juga terjadi pada daging ayam ras dengan total ketersediaan 1,6 juta ton selama tiga bulan, atau melampaui kebutuhan konsumsi nasional sebesar 1,01 juta ton. Di sisi lain, telur ayam ras diproyeksikan tersedia 1,9 juta ton hingga Maret, dengan surplus akhir periode mencapai 305,8 ribu ton.
Baca Juga
- Wilayah Indonesia Timur Alami Disparitas Harga Pangan Tertinggi Jelang Ramadan
- Kemendag Waswas Dampak Cuaca Ekstrem ke Distribusi & Harga Pangan
- Bukan Lapangan Kerja, Kepala Bappenas: Program MBG Lebih Mendesak
Sementara itu, ketersediaan gula konsumsi hingga Maret diperkirakan mencapai 1,46 juta ton, jauh di atas kebutuhan konsumsi nasional Januari—Maret sebesar 712,5 ribu ton.
Adapun, daging sapi dan kerbau diproyeksikan tersedia 185.400 ton, relatif seimbang dengan kebutuhan konsumsi nasional sebesar 179.000 ton.
Lebih lanjut, Maino menuturkan Bapanas bersama pemangku kepentingan pangan juga menggencarkan berbagai program intervensi langsung ke masyarakat untuk menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. Salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah (GPM).
Hingga pekan ketiga Januari 2026, program GPM telah dilaksanakan sebanyak 264 kali di 106 kabupaten/kota, meningkat 52,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah menargetkan intensitas GPM terus ditingkatkan hingga Idulfitri.
Selain itu, program SPHP beras juga masih dilanjutkan Perum Bulog sebagai perpanjangan dari program tahun sebelumnya, dengan realisasi penjualan Januari 2026 mencapai sekitar 63.000 ton.
Di sisi lain, pemerintah juga memperketat pengawasan harga dan mutu pangan melalui Satuan Tugas (Satgas) Sapu Bersih (Saber) Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan Tahun 2026. Pengawasan dilakukan dari hulu hingga hilir, mencakup produsen, distributor, pedagang eceran, hingga ritel modern.



