Pengunduran diri Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman dinilai menjadi sinyal kuat gejolak pasar yang memicu dihentikan sementara atau trading halt dua hari berturut-turut telah mencapai level serius dan membutuhkan evaluasi menyeluruh di tubuh otoritas bursa.
Pengamat pasar modal, Hendra Wardana, menilai langkah mundur pimpinan tertinggi BEI tak bisa dilepaskan dari menurunnya kepercayaan investor di tengah volatilitas ekstrem Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Pengunduran diri pimpinan tertinggi BEI ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika pasar yang sedang bergejolak. IHSG yang dalam waktu singkat mengalami koreksi tajam menunjukkan rapuhnya kepercayaan investor, khususnya investor asing, terhadap stabilitas dan mekanisme pasar,” ujar Hendra, Jumat (30/1).
Hendra menilai, penghentian sementara perdagangan yang terjadi dua hari berturut-turut pada Rabu (28/1) dan Kamis (29/1) menjadi indikator tekanan pasar telah berada di level yang mengkhawatirkan.
“Trading halt yang terjadi dua kali berturut-turut menjadi sinyal kuat bahwa volatilitas sudah berada di level ekstrem dan membutuhkan respons kelembagaan yang serius,” katanya.
Hendra memandang pengunduran diri Iman Rachman sebagai bentuk tanggung jawab institusional sekaligus momentum penting untuk melakukan pembenahan. Pelaku pasar saat ini cenderung bersikap menunggu kejelasan arah kebijakan BEI, terutama terkait kepemimpinan ke depan.
“Investor cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan arah kebijakan BEI ke depan, terutama terkait penunjukan Direktur Utama yang baru,” ujar Hendra.
Menurutnya, pasar membutuhkan sosok pemimpin yang mampu menjawab tuntutan global, khususnya dari lembaga indeks internasional.
“Pasar membutuhkan figur pemimpin yang mampu memperkuat transparansi, memperbaiki tata kelola, serta menjawab ekspektasi lembaga indeks global seperti MSCI yang selama ini menyoroti isu free float dan kualitas likuiditas pasar Indonesia,” tegasnya.
Hendra memperkirakan pergerakan IHSG dalam waktu dekat masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Dalam jangka pendek, indeks diproyeksikan bergerak dalam rentang 8.150 hingga 8.350.
Sementara itu, Global Market Economist Maybank, Myrdal Gunarto, melihat pengunduran diri Iman Rachman sebagai bentuk respons atas tekanan eksternal yang sudah muncul sejak lama, termasuk peringatan dari Morgan Stanley.
“Kalau kita lihat perkembangan ini kelihatannya sebagai respon dari Dirut Bursa Efek Indonesia sebagai bentuk pertanggung jawaban dia ya terhadap apa yang dilakukan oleh Morgan Stanley pada beberapa hari yang lalu dan memang warning dari Morgan Stanley ini kan bukan mendadak ya sebenarnya jadi sudah ada warning dari sebelum-sebelumnya,” kata Gunarto kepada kumparan.
Terkait transisi kepemimpinan di BEI, Gunarto menilai mekanisme internal kemungkinan takkan banyak berubah dalam jangka pendek.
“Kalau untuk masalah organisasi di sana ya jadi ya paling kalau ada PJS-nya (Penjabat Sementara) paling ada yang naik tapi kalau teknisnya saya nggak tahu sih,” ujarnya.
Dia juga menyinggung dinamika internal BEI sebagai self regulatory organization (SRO). “Karena dia kan SRO si Bursa Efek Indonesia dan kelihatannya kan ada gerbong-gerbong pemilihan atau gerbong kelompok ya setiap ada pemilihan direktur di Bursa Efek jadi ya kemungkinan kalaupun ada PJS ya masih dilingkup mereka-mereka juga,” kata Gunarto.





