Petani & Peternak di Bengkulu Terdampak Bencana Hidrometeorologi, Prof. Hamid: Melemahkan Sendi Utama Ekonomi Pedesaan

jpnn.com
12 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Bencana hidrometeorologi berupa banjir, hujan ekstrem, dan longsor telah menyebabkan penurunan drastis produksi pertanian di Provinsi Bengkulu.

Dampak ini menimbulkan efek berantai yang sangat berat bagi peternak rakyat, mulai dari krisis pakan hingga menurunnya produktivitas ternak.

BACA JUGA: Belajar dari Bencana di Sumatra, Peneliti Utama Prof. Hamid Ingatkan Ancaman di Jawa Timur

Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Umum Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) yang menghadirkan akademisi dan peneliti lintas bidang.

Peneliti Utama Kebijakan Publik BRIN/BRIDA Jawa Timur Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid menegaskan penurunan produksi pertanian akibat iklim ekstrem telah melemahkan sendi utama ekonomi pedesaan Bengkulu.

“Ketika sawah dan kebun gagal panen, peternak langsung terdampak. Hijauan pakan berkurang, limbah pertanian tidak tersedia, dan biaya pakan melonjak tajam,” ujar Prof. Hamid.

Dia menjelaskan banjir dan longsor yang terjadi berulang telah menyebabkan gagal panen (puso) pada tanaman pangan, rusaknya jaringan irigasi serta penurunan kesuburan tanah akibat erosi dan sedimentasi.

Menurut Prof Hamid, kondisi ini membuat produksi padi, jagung, dan tanaman pakan ternak terus menurun dari musim ke musim.

“Penurunan produksi tersebut berdampak langsung pada kelangsungan usaha peternakan rakyat,” ujarnya.

Dia menyebutkan banyak kandang rusak terendam banjir, ternak mati atau sakit pascabanjir, serta produktivitas ternak menurun akibat stres dan wabah penyakit hewan.

“Peternak kecil berada pada posisi paling rentan. Modal terbatas, kandang tradisional, dan ketergantungan tinggi pada pakan alami membuat mereka sangat terpukul ketika bencana datang berulang kali,” tegasnya.

Lebih lanjut, Prof Hamid menilai persoalan ini tidak semata teknis, tetapi juga masalah kebijakan publik.

Dia menegaskan pendekatan yang selama ini ditempuh masih bersifat reaktif dan sektoral.

“Selama kebijakan hanya berfokus pada bantuan pasca-bencana, kerugian petani dan peternak akan terus berulang. Investasi pada mitigasi dan adaptasi jauh lebih efisien dibanding rehabilitasi setiap kali bencana terjadi,” ujarnya.

Lebih jauh, Prof. Hamid mendorong langkah yang lebih tegas dan terkoordinasi. Ia menilai, bila diperlukan, seluruh fakultas pertanian se-Provinsi Bengkulu harus difokuskan untuk melakukan gelar perkara lapangan, guna benar-benar mencari solusi nyata bagi petani dan peternak.

“Harus dicari secara sungguh-sungguh varietas yang tahan iklim ekstrem, pola tanam yang adaptif, dan teknologi yang sesuai kondisi Bengkulu. Bahkan, dinas pertanian pun perlu diterjunkan langsung ke lapangan untuk memastikan petani menanam sesuai musim, meskipun itu harus menyesuaikan atau bahkan melampaui pola tahun anggaran pelaksanaan,” tegas Prof. Hamid.

Menurutnya, keberanian mengubah pendekatan birokrasi sangat dibutuhkan agar kebijakan pertanian tidak kalah cepat dibanding perubahan iklim di lapangan.

Menutup seminar, Prof. Hamid menegaskan jika penurunan produksi pertanian dan peternakan terus dibiarkan, maka yang terancam bukan hanya petani dan peternak, tetapi juga ketahanan pangan serta ketersediaan protein hewani masyarakat Bengkulu.

Dalam kesempatan yang sama, Panitia Seminar Dr. Ir. Fiana Fodesta dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu menyampaikan seminar ini digelar karena petani Bengkulu benar-benar merasakan langsung dampak perubahan iklim terhadap usaha mereka.

“Petani dan peternak Bengkulu sudah merasakan sendiri dampak iklim terhadap hasil produksi. Karena itu, salah satu tujuan utama seminar ini adalah mencari solusi terbaik dan paling realistis yang bisa diterapkan di lapangan,” kata Dr. Fiana.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kemendikdasmen Dorong Kemitraan Industri–LKP Siapkan SDM Berdaya Saing Global
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
Aksi bersih Teluk Palu kumpulkan 100 ton sampah
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Diklat PPIH Arab Saudi 2026 Resmi Ditutup
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Langsung Turun Tangan Urai Kepadatan Kapal Perikanan di PPN Muara Angke, KKP Relokasi Kapal Nelayan
• 9 jam laludisway.id
thumb
LPSK Ungkap Bahaya Child Grooming, Pelaku Bisa Dikenai Pidana Kekerasan Seksual
• 5 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.