Teheran: Staf Umum Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran memperingatkan bahwa konsekuensi dari keputusan Uni Eropa yang menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris akan secara langsung berdampak pada para pengambil kebijakan di Eropa.
“Langkah Uni Eropa yang tidak rasional, tidak bertanggung jawab, dan sarat kebencian ini jelas diambil dalam kepatuhan buta terhadap kebijakan hegemonik dan tidak manusiawi Amerika Serikat serta rezim Zionis,” demikian bunyi pernyataan resmi yang dikeluarkan, dikutip dari PressTV, Jumat, 30 Januari 2026.
Pernyataan tersebut menambahkan bahwa keputusan itu mencerminkan “kedalaman permusuhan dan kebencian para pemimpin kelompok ini terhadap bangsa Iran yang mulia, angkatan bersenjatanya, serta keamanan dan kemerdekaan Republik Islam Iran yang kuat.”
Baca Juga :
Uni Eropa Tetapkan IRGC Iran Sebagai Organisasi TerorisUni Eropa memasukkan IRGC ke dalam daftar organisasi teroris sebagai respons atas langkah Iran dalam menangani kerusuhan yang terjadi pada akhir Desember lalu. Kerusuhan tersebut disebut dipicu oleh seruan kelompok monarkis serta hasutan publik dari para pemimpin Amerika Serikat dan Israel.
Menurut pernyataan itu, protes damai yang sporadis terkait masalah ekonomi pada 8 dan 9 Januari dibajak oleh perusuh bersenjata dan kelompok teroris yang didukung asing. Aksi tersebut berubah menjadi kekerasan, termasuk pembunuhan, pembakaran masjid, klinik, ambulans, dan bus umum, serta perusakan fasilitas publik dan properti pribadi.
Otoritas Iran menyatakan badan intelijen Amerika Serikat dan Israel terlibat langsung dengan menyediakan pendanaan, pelatihan, dan dukungan media bagi para perusuh dan teroris bersenjata yang beraksi di lapangan.
Keputusan UE Dianggap Irasional Dalam pernyataan yang sama, Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran menyebut penetapan IRGC sebagai keputusan yang tidak berdasar dan irasional, yang diambil di bawah tekanan Presiden AS Donald Trump, yang disebut “delusional”, serta rezim Israel yang digambarkan sebagai “teroris dan pembunuh anak-anak”.
Keputusan tersebut dinilai sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional, Piagam PBB, dan prinsip fundamental penghormatan terhadap kedaulatan nasional.
Staf Umum menegaskan bahwa IRGC merupakan institusi yang sah dan kuat, serta berada di garis depan dalam menghadapi apa yang mereka sebut sebagai terorisme negara Amerika Serikat dan rezim Israel yang “berbahaya”.
IRGC juga disebut memainkan peran utama dalam membela Iran dan membantu negara-negara yang terdampak kelompok teroris terorganisasi, yang menurut pernyataan itu didukung oleh Amerika Serikat, Israel, serta kekuatan destabilisasi dengan sokongan sejumlah negara Eropa.
Disebutkan pula bahwa ribuan anggota IRGC telah gugur atau terluka dalam upaya tersebut.
Pernyataan itu mempertanyakan bagaimana Uni Eropa dapat, “secara terbuka”, menuduh sebuah institusi anti-terorisme demi menyenangkan Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang dituding telah memupuk terorisme.
Iran menilai tuduhan terhadap IRGC justru bertujuan mendukung, memperluas, dan melegitimasi terorisme baik di kawasan maupun secara global.
Merujuk pada peran IRGC dalam memerangi kelompok seperti Daesh dan Organisasi Mujahidin Khalq, yang disebut mendapat dukungan dari pemimpin AS dan Eropa, Staf Umum menyatakan langkah-langkah tersebut merupakan bukti nyata kontribusi IRGC terhadap perdamaian dan keamanan regional.
Menegaskan kembali tekadnya untuk menghadapi kelompok teroris, Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran memperingatkan bahwa tanggung jawab atas “konsekuensi berbahaya” dari keputusan yang bersifat bermusuhan dan provokatif itu akan sepenuhnya berada di tangan para pembuat kebijakan Uni Eropa.




