jpnn.com, JAKARTA - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benyamin Paulus Octavianus menegaskan hingga kini virus Nipah belum masuk ke Indonesia.
Virus Nipah adalah virus patogenik. Virus ini awalnya menular dari binatang seperti kelelawar dan babi ke manusia, tetapi sekarang bisa menular dari manusia ke manusia, antara lain melalui makanan yang terkontaminasi.
BACA JUGA: Waspadai Virus Nipah, Pakar Sarankan Cuci Tangan Pakai Sabun sebagai Proteksi Utama
"Memang hari ini belum sampai Indonesia," ujar Wamenkes Benyamin Paulus dikutip Jumat (30/1).
Benyamin menjelaskan virus Nipah telah dikenal sejak 1998 dan hingga saat ini jumlah kasusnya secara global masih terbatas.
BACA JUGA: Antisipasi Virus Nipah, BBKK Denpasar Perketat Pengawasan di Bandara Ngurah Rai
Tahun ini, kata dia, hanya terdapat dua kasus yang dilaporkan di India, meskipun tingkat kematian akibat virus tersebut tergolong tinggi.
"Jumlah kasus di dunia ini belum sampai 1.000 kasus. Jadi, belum sampai Indonesia," katanya.
Menurut dia, Pemerintah India langsung mengambil langkah penanganan ketat untuk mencegah penyebaran virus ke negara lain.
Kemudian, Thailand sebagai negara transit juga telah meningkatkan kewaspadaan melalui skrining.
"Jadi di India pun sudah langsung melakukan lockdown. Mereka juga tidak mau kasus itu terbang ke negara lain. Tapi Thailand sebagai tempat transit, itu segera jaga-jaga," ucap Wamenkes Benyamin.
Terkait langkah antisipasi di dalam negeri, Wamenkes mengatakan Indonesia telah memiliki mekanisme deteksi di bandara, termasuk pemantauan suhu tubuh penumpang.
Namun Wamenkes menegaskan skrining ketat, seperti yang diterapkan saat pandemi COVID-19, belum diberlakukan.
"Indonesia itu otomatis sudah melakukan skrining. Jadi kita punya alat deteksi di bandara yang suhu tinggi sudah bisa dideteksi. Tapi memang proses skrining seperti COVID belum kita lakukan," pungkas dia.
Penularan virus yang dapat menyebabkan infeksi pernapasan sampai radang otak pada manusia itu belakangan merebak di India.
Di seluruh dunia, ada sekitar 750 kasus infeksi virus Nipah dari tahun 1998 sampai 1999. Kasus infeksi ini mulanya ditemukan di Malaysia, tetapi kemudian dilaporkan terjadi pula di wilayah Bangladesh, India, Filipina, dan Singapura.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara Prof. Tjandra Yoga Aditama mengatakan, masa inkubasi virus Nipah antara empat dan 21 hari atau lebih lama. Gejala awalnya bisa seperti gejala flu, demam, sakit kepala, dan nyeri otot.
Setelah itu, bisa muncul gangguan paru-paru yang ditandai dengan batuk, sesak napas, dan pneumonia.
Infeksi virus Nipah juga bisa menyebabkan peradangan pada otak.(antara/jpnn)
Redaktur & Reporter : Elvi Robiatul



