Nadin (36), warga yang tinggal di sekitar Refuse-Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara mengeluhkan bau dari fasilitas tersebut kepada Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung usai peresmian Taman Kelinci Rorotan Cilincing (Roci), Jakarta Utara pada Jumat (30/1).
Ketika Pramono sedang memberikan keterangan pers, Nadin seketika mengungkapkan keluhannya.
“Kemarin masih bau, Pak,” ujar warga Jakarta Garden City itu.
Nadin menambahkan, para warga mengidap sejumlah penyakit akibat fasilitas RDF tersebut, antara lain infeksi saluran pernapasan seperti radang, gangguan pada paru-paru, batuk, dan pilek.
“Kita sakit sampai muntah-muntah loh, Pak. Dan biayanya kan kita juga bayar sendiri, Pak,” tuturnya lirih.
Merespons itu, Pramono mengatakan bahwa segala biaya pengobatan menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Kalau ada biaya itu sebenarnya Pemerintah DKI Jakarta bisa bertanggung jawab,” ujarnya.
Nadin sendiri meminta fasilitas RDF itu ditutup.
“Tapi kita enggak mau sakit, Pak. Kenapa harus kita sakit gitu lho kalau bisa dicegah. Kita minta RDF itu ditutup. Karena dari awal, saya setengah mati loh tinggal di sini. Cicilannya juga. Saya enggak mau hidup kayak gini loh, Pak beneran. Saya berjuang setengah mati, Pak untuk RDF ini,” katanya seraya mengusap air mata.
Kepada wartawan, Nadin mengatakan masalah terletak pada operasional fasilitas RDF, bukan hanya soal air lindi dari transportasi pengangkut sampah. Jarak antara rumah Nadin dan RDF sepanjang 500 meter jika ditarik garis lurus.
“Enggak. Jadi sampah masuk itu kan sampah basah juga. Tahu sendiri kan kalau lewat tempat penampungan sampah habis hujan becek kan bau banget kan? Kayak gitu baunya setiap hari dan setiap detik. Gimana saya enggak nangis gitu loh?” ucapnya.
“Rumah kita itu kan lembab. Saat buka jendela mau ganti udara, udaranya juga udara sampah,” tambah Nadin.
Pemprov DKI Stop Angkut Sampah Sementara
Pram menilai, permasalahan terletak pada air lindi dari kendaraan pengangkut sampah di RDF Rorotan. Atas hal itu, ia menyatakan akan memberhentikan operasi pengangkutan sampah sementara.
“Untuk sementara ini saya minta untuk di-stop. Mudah-mudahan akan bisa mengatasi persoalan transportasi sampah yang ada,” ujarnya.
“Masalahnya adalah transportasi dan untuk itu saya sudah minta untuk dilakukan perbaikan. Maka kami di tahun 2025 kemarin membeli alat transportasi untuk mengangkut sampah yang baru. Yang lama saya tidak izinkan digunakan,” sambung Pram.




