EtIndonesia. Situasi politik dan militer di jantung kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) dalam beberapa hari terakhir dilaporkan memasuki fase paling mencekam dalam beberapa dekade terakhir. Bocoran yang berasal dari kalangan internal PKT menggambarkan kondisi di Zhongnanhai bukan lagi sekadar “pembersihan politik”, melainkan menyerupai sebuah “pembantaian tengah malam” yang berlangsung senyap namun brutal.
Pembersihan yang dipimpin langsung oleh Xi Jinping terhadap jajaran militer tidak lagi terbatas pada penangkapan untuk penyelidikan, tetapi disebut telah meningkat ke metode yang jauh lebih ekstrem. Di saat bersamaan, dunia menghadapi tiga jalur krisis besar yang saling bertumpuk: gejolak internal militer PKT, pengumuman rencana militer besar Amerika Serikat, serta meningkatnya konfrontasi dengan Iran yang disebut telah menginjak “garis merah” Donald Trump. Banyak pengamat menilai ketiganya kini memasuki fase hitungan mundur secara serentak.
Penangkapan Tengah Malam: Zhang Youxia dan Liu Zhenli Dilumpuhkan
Pada 28 Januari 2026, seorang mantan perwira tinggi PKT yang telah lama meninggalkan lingkaran kekuasaan mengungkapkan informasi terbaru kepada analis politik Kanada, Sheng Xue. Menurut pengakuannya, Xi Jinping telah melancarkan operasi berskala penuh untuk mengamankan kendali mutlak atas militer.
Dua tokoh kunci militer, Zhang Youxia, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (CMC)) dan Liu Zhenli (Kepala Staf Gabungan CMC), dilaporkan ditangkap secara terpisah di kediaman masing-masing pada larut malam hingga dini hari. Penangkapan dilakukan dengan sangat cepat dan tertutup.
Yang lebih mengejutkan, seluruh ajudan militer yang berada di sekitar kedua jenderal tersebut disebut telah “dibungkam”. Sumber internal menyebutkan tidak ada saksi hidup yang tersisa, meski klaim ini hingga kini belum dapat diverifikasi secara independen.
Penangkapan Massal di Komando Wilayah: Dua Perlawanan Berujung Tembakan
Setelah melumpuhkan dua tokoh puncak militer, Xi Jinping dilaporkan langsung menjalankan strategi “memecah dan menaklukkan” terhadap seluruh struktur komando wilayah.
- Di Komando Wilayah Selatan, lebih dari 200 personel militer dilaporkan ditangkap dalam operasi beruntun.
- Komando Wilayah Timur juga mengalami pembersihan besar-besaran.
- Dalam dua insiden terpisah, sumber menyebutkan bahwa dua personel yang mencoba melakukan perlawanan di lokasi langsung ditembak mati.
Langkah ini mengejutkan banyak pihak, mengingat sebelumnya kendali nyata atas senjata dan kekuatan tempur diyakini berada di tangan Zhang Youxia. Pertanyaan besar pun muncul: apa modal Xi Jinping untuk mengambil langkah ekstrem ini?
Dua Lapis Perlindungan Xi Jinping: Dari Pengawal hingga “Dongchang Modern”
Mantan perwira PKT tersebut mengungkap bahwa Xi Jinping telah lama menyiapkan dua lapis sistem perlindungan:
Pertama, Biro Pengawal Pusat diperluas secara drastis, dari sekitar 1.000 personel menjadi sekitar 12.500 personel, menjadikannya kekuatan pengamanan elite terbesar dalam sejarah modern Tiongkok.
Kedua, Xi Jinping membentuk sebuah lembaga silang super yang oleh banyak pengamat disamakan dengan “Dongchang dan Xichang”—lembaga intelijen rahasia paling ditakuti pada era Dinasti Ming.
Lembaga ini secara formal dibungkus dengan nama Komisi Inspeksi Disiplin, namun memiliki kekuasaan melampaui struktur normal partai dan negara. Lembaga tersebut dikendalikan langsung oleh Cai Qi, orang kepercayaan Xi Jinping.
Keistimewaan lembaga ini terletak pada strukturnya yang berlapis hingga ke tingkat paling bawah, serta tidak bertanggung jawab kepada sekretaris partai daerah maupun Komite Tetap Politbiro, melainkan langsung kepada Xi Jinping.
Diperkirakan, jaringan ini mencakup 200.000 hingga 350.000 personel di seluruh negeri, dengan tugas utama menjalankan operasi kotor, pengawasan internal, dan eliminasi target politik.
Militer Tanpa Peluru: Sistem Lama yang Dimanfaatkan
Sumber tersebut juga mengungkap fakta penting di tubuh militer PKT: sejak lama berlaku prinsip pemisahan senjata dan amunisi. Prajurit umumnya tidak memegang peluru, bahkan senjata penjaga pos sering kali dalam kondisi tidak terisi.
Sistem ini, yang awalnya dirancang untuk mencegah kudeta, kini justru menjadi faktor kunci yang memudahkan Xi Jinping melakukan pembersihan cepat tanpa perlawanan bersenjata luas.
Perubahan Arah Propaganda: PLA Daily “Kehabisan Napas”
Jurnalis senior Gao Yu mencermati perubahan tajam dalam pemberitaan media militer resmi. Pada 25 Januari 2026, PLA Daily menerbitkan tajuk rencana bernada sangat keras, menuduh Zhang Youxia dan Liu Zhenli memiliki lima masalah politik serius.
Namun keesokan harinya, 26 Januari, nada pemberitaan tiba-tiba berubah. Media resmi berhenti menggempur individu dan justru memuat ulasan sejarah yang memuji kampanye antikorupsi secara umum, tanpa lagi menyebut satu pun “harimau militer”.
Mulai 27 Januari, PLA Daily sepenuhnya kembali ke pemberitaan rutin dan menghapus total penyebutan nama Zhang Youxia dan Liu Zhenli.
Menurut Gao Yu, propaganda ini jelas “kehilangan tenaga di tengah jalan”. Dia mempertanyakan: jika kesalahan kedua jenderal tersebut benar-benar tak terbantahkan, mengapa media resmi justru mundur sebelum menghantam hingga tuntas?
Langkah Judi Mati-matian Xi Jinping
Pemimpin redaksi Zonglan China, Chen Kuide, menilai penangkapan Zhang Youxia sebagai sebuah judi politik hidup-mati dari Xi Jinping. Banyak aturan tak tertulis dilanggar, dan yang paling mencolok adalah tidak adanya pernyataan dukungan terbuka dari para kepala lima komando wilayah militer.
Hal ini, menurut Chen, menjadi indikasi kuat bahwa berbagai faksi masih saling mengunci kekuatan dan situasi sama sekali belum stabil. Ia menegaskan bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan siapa yang akan menang.
Dia juga memperingatkan, jika pada titik ini muncul satu kekuatan yang secara terbuka menggalang perlawanan terhadap Xi Jinping, maka keruntuhan bisa terjadi dengan cepat dan tak terkendali.
Awal dari Sesuatu yang Lebih Besar?
Banyak pengamat melihat fase ini sebagai titik paling berbahaya. Jika Xi Jinping benar-benar bergerak menuju pembersihan ala Stalin, maka kejatuhan Zhang Youxia bisa jadi bukan akhir, melainkan awal dari rangkaian panjang teror internal.
Di dunia maya, mulai beredar seruan kepada prajurit PKT: “Ini baru permulaan. Jika tidak bertindak sekarang, maka hanya tinggal menunggu kematian.”
Sejarah menunjukkan, ketika setiap orang merasa dirinya bisa menjadi korban berikutnya, yang pertama kali runtuh biasanya bukan musuh di luar negeri, melainkan sistem internal itu sendiri.




