Antisipasi Penularan Nipah, Menkes: Surveilans Diperkuat, Belum Ada Penutupan Pintu Masuk Negara

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Penguatan surveilans atau pengamatan secara sistematis terhadap penularan virus Nipah terus dilakukan pemerintah. Sejumlah laboratorium kesehatan diperkuat untuk mendeteksi virus tersebut. Pemerintah pun memperketat pintu masuk negara, meski keputusan penutupan belum diberlakukan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dalam keterangan resmi, yang diterima di Jakarta, pada Jumat (30/1/2026) mengatakan, virus Nipah belum masuk ke Indonesia. Meski begitu, upaya pencegahan tetap diperkuat melalui skrining dan surveilans kesehatan.

“Sekarang kita siapkan skriningnya. Ini sama seperti Covid-19 yang menggunakan PCR (polymerase chain reaction). Kita sudah siapkan reagen-reagennya. Jadi kalau ada orang yang dicurigai, bisa diskrining apakah itu virus influenza, Covid-19, atau virus Nipah,” tuturnya.

Budi menyampaikan, seluruh reagen yang digunakan untuk pemeriksaan virus Nipah telah didistribusikan ke beberapa laboratorium pemeriksaan milik Kementerian Kesehatan. Hal itu diharapkan dapat mempercepat pemeriksaan dan penemuan kasus.

Baca JugaMenakar Ancaman Penyakit Nipah

Selain itu, penguatan pengawasan dilakukan di pintu masuk negara, terutama pada pelaku perjalanan luar negeri yang berasal dari negara-negara dengan kasus terinfeksi. Meski begitu, pemerintah belum memberlakukan penutupan pintu masuk negara.

“Sesuai rekomendasi WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) belum ada keputusan untuk menutup border (batas negara) karena kita lihat (kasus) masih sangat sedikit. Namun memang catatannya fatality rate (tingkat kematian) tinggi,” ujarnya.

Sesuai rekomendasi WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) belum ada keputusan untuk menutup border (batas negara) karena kita lihat (kasus) masih sangat sedikit.

Secara terpisah, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman menuturkan, pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan situasi global terkait kejadian penyakit infeksi virus Nipah.

Pengawasan di pintu masuk negara dilakukan terhadap orang, barang, dan alat angkut yang secara langsung maupun tidak langsung berasal dari negara yang melaporkan adanya kasus virus Nipah.

“Setiap pelaku perjalanan yang kembali ke Indonesia dari luar negeri wajib melapor pada aplikasi All Indonesia untuk menjaring pelaku perjalanan yang mengalami gejala dan berasal dari negara terjangkit untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan atau anamnesis lebih lanjut,” katanya.

Pemantauan

Aji menambahkan, pemantauan dan deteksi dini dilakukan dalam sistem yang sudah terbangun di Kementerian Kesehatan. Deteksi dini diperkuat, terutama di fasilitas kesehatan pada seseorang yang mengalami gejala yang mengarah ke infeksi virus Nipah, salah satunya memiliki riwayat perjalanan dari India dalam 14 hari terakhir.

“Apabila melakukan perjalanan ke India dan negara terjangkit penyakit virus Nipah, disarankan untuk mengikuti imbauan protokol kesehatan dari otoritas negara setempat. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala infeksi virus Nipah pascakepulangan dari India atau negara terjangkit,” ucap Aji.

Baca JugaBelum Ada Vaksin dan Obat Spesifik, Kewaspadaan Penularan Virus Nipah Mesti Diperkuat

Mengutip laman WHO, virus Nipah merupakan virus zoonosis yang bisa ditularkan dari hewan ke manusia. Namun, virus tersebut juga dapat ditularkan dari makanan yang terkontaminasi atau ditularkan langsung antarmanusia.

Penularan alami dari virus Nipah berasal dari kelelawar buah Pteropodidae yang ditemukan di berbagai wilayah di Asia dan Australia. Kelelawar tersebut juga diduga telah menyebar ke wilayah Afrika.

Penularan virus Nipah ke manusia bisa terjadi lewat kontak langsung dengan hewan terinfeksi, seperti kelelawar, babi, ataupun kuda. Hal itu biasanya melalui konsumsi buah-buahan atau produk buah yang terkontaminasi kelelawar buah yang terinfeksi.

Baca JugaWabah Nipah yang Berulang di India dan Risikonya di Indonesia

Sementara penularan antarmanusia paling banyak terjadi di fasilitas kesehatan pada tenaga kesehatan yang merawat pasien terinfeksi ataupun antarkeluarga dan pengasuh yang merawat pasien terinfeksi. Risiko penularan bisa meningkat di lingkungan padat, sirkulasi udara buruk, serta lingkungan dengan upaya pengendalian virus yang tidak memadai.

Penularan virus Nipah patut diwaspadai karena angka kematiannya cukup tinggi, sekitar 40-75 persen. Vaksin dan pengobatan yang spesifik pun belum tersedia. Karena itu, pencegahan dan pengendalian infeksi perlu diutamakan.

Dalam rekomendasinya, WHO menyampaikan, masyarakat bisa mengurangi risiko penularan dengan mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh, membuang buah yang menunjukkan adanya tanda-tanda gigitan kelelawar, dan menghindari area tempat kelelawar bersarang.

Pencegahan penularan dari hewan ke manusia dapat dilakukan pula dengan menggunakan pakaian pelindung dan sarung tangan saat menangani hewan yang sakit. Hindari juga kontak dekat dengan individu yang terinfeksi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Teka-teki Pemilik Bangkai Pesawat Deraya Air di Mojokerto
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Jelang Laga Malut United vs Bhayangkara FC: Hendri Susilo Ingatkan Pemain Fokus tanpa Remehkan Lawan
• 23 menit lalukompas.tv
thumb
Kemendagri: BUMD Harus Bisa Gerakan Ekonomi dan Potensi Daerah
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
Persik Kediri benahi lini pertahanan jelang hadapi Bali United
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Ciliwung Meluap, Bendung Katulampa Siaga 3 Banjir Jakarta Malam Ini
• 20 jam laluidntimes.com
Berhasil disimpan.