Bisnis.com, JAKARTA – Pembekuan rebalancing indeks MSCI terhadap saham-saham Tanah Air, dinilai bukan menjadi penyebab utama amblesnya pasar saham Indonesia belakangan. Koreksi tajam yang terjadi dinilai lebih disebabkan oleh tata kelola pasar modal yang membutuhkan lebih banyak perbaikan.
Analis Ekonomi Politik Kusfiardi, menerangkan bahwa kondisi serupa di Tanah Air pernah terjadi sebelumnya, di mana lembaga keuangan global sempat memberikan sinyal negatif terhadap pasar modal Indonesia. Hal itu tampak dari penurunan peringkat, rekomendasi underweight, hingga teranyar kebijakan pengetatan metodologi indeks.
Pada Maret 2025 misalnya, Goldman Sachs memperingkat rating saham Indonesia menjadi market weight dari semula overweight. Sebulan berselang, Morgan Stanley menurunkan rating saham Indonesia ke peringkat underweight. Pada Juni 2024, kedua lembaga tersebut juga menurunkan rekomendasi ekuitas Indonesia dalam alokasi Asia dan Emerging Markets
Kusfiardi menilai bahwa keputusan MSCI untuk menerapkan interim freeze terhadap penyesuaian saham Indonesia dalam rebalancing hanya menjadi pemicu dari masalah fundamental pasar saham Tanah Air selama ini, yaitu tata kelola pasar.
“MSCI tidak menyoroti kejadian insidental. Yang disorot adalah isu-isu struktural yang berulang dan belum ditangani secara meyakinkan,” kata Kusfiardi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (30/1/2026).
Pasalnya, MSCI dalam suratnya berfokus pada tiga persoalan utama, seperti ketidakterangan struktur kepemilikan saham, rendahnya free float efektif, hingga indikasi perdagangan terkonsentrasi yang berpotensi mengganggu mekanisme pasar.
Kusfiardi menilai, ketiga isu itu merupakan konsekuensi dari penegakan tata kelola pasar modal yang permisif. Hal itu tampak dari toleransi regulator terhadap emiten dengan free float yang sangat rendah.
"Fenomena saham berisiko tinggi yang populer disebut saham gorengan berkembang bukan karena ketiadaan regulasi, melainkan akibat pengawasan yang lambat, penegakan yang tidak konsisten, serta sanksi yang gagal menciptakan efek jera," katanya.
Alhasil, koreksi yang terjadi belakangan terhadap IHSG dinilai lebih mencerminkan krisis kepercayaan investor dibandingkan pelemahan kinerja fundamental ekonomi nasional.
Dengan begitu, dia menilai arah pasar modal Tanah Air selanjutnya akan ditentukan oleh tindakan konkret dari regulator, serta perbaikan tata kelola pasar yang terukur.
“Pasca-keputusan MSCI, ruang kompromi terhadap praktik lama praktis telah tertutup. Dalam beberapa bulan ke depan, pasar akan melihat apakah reformasi ini benar-benar mengubah struktur kekuasaan dan insentif di bursa, atau hanya menunda koreksi berikutnya,” ujarnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



