JAKARTA, KOMPAS.com - Eks Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas enggan menanggapi pertanyaan mengenai dugaan aliran dana ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam kasus dugaan korupsi kuota haji 2023–2024 di lingkungan Kementerian Agama.
Gus Yaqut yang mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi atas kasus tersebut, meminta wartawan untuk membuka jalan agar dia dapat masuk ke dalam.
“Ada aliran dana ke PBNU enggak sih, Gus?” tanya salah satu wartawan, Jumat (30/1/2026).
“Permis, permisi,” jawab Gus Yaqut.
Baca juga: Gus Yaqut Penuhi Panggilan KPK soal Kasus Korupsi Kuota Haji 2024
Setelahnya, eks Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pemuda (PP GP) Ansor itu memasuki pelataran Gedung KPK Merah Putih.
Gus Yaqut mengonfirmasi kehadirannya di KPK untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi dalam kasus tersangka Ishfah Abidal Aziz alias Gus Alex, yang berkaitan dengan jabatannya saat menjabat sebagai Menteri Agama.
Dalam konteks ini, Gus Yaqut dan Gus Alex ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi kuota haji 2023-2024.
“Ya saya dipanggil kembali untuk memberikan kesaksian atas saudara Isfah. Gitu saja,” ujar dia.
Bantahan PBNU
Ketua Bidang Ekonomi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Aizzudin membantah menerima aliran uang terkait kasus dugaan korupsi kuota haji 2023-2024 di Kementerian Agama.
“Enggak, enggak, enggak,” kata Aizzudin, usai menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Gedung Merah Putih, Jakarta, Selasa (13/1/2026).
Aizzudin juga membantah PBNU turut menerima aliran uang terkait kasus kuota haji.
“Enggak, enggak ada juga,” ujar dia.
Baca juga: TNI AD Resmi Tahan Serda Heri Usai Tuduh Pedagang Es Gabus Jualan Pakai Spons
Dia berharap, tak ada keterlibatan pengurus PBNU dalam kasus dugaan korupsi yang terjadi di era kepemimpinan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas tersebut.
Aizzudin mengatakan, kasus kuota haji menjadi evaluasi diri bagi seluruh pengurus PBNU.
“Insya Allah kita doakan semua yang terbaik, yang maslahat, enggak ada masalah apapun, dan ini menjadi titik muhasabah introspeksi untuk semuanya, khususnya ya pengurus Nahdlatul ulama lah, cukup sudah kemarin ramai seperti itu dan seterusnya, ada kepentingan yang lebih besar, yaitu umat, organisasi, bangsa dan negara,” ucap dia.