EtIndonesia. Awal tahun 2026 ditandai dengan meningkatnya ketegangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di dalam tubuh Republik Rakyat Tiongkok. Dalam beberapa hari terakhir, berbagai rekaman video dan laporan warga dari sejumlah provinsi menunjukkan pergerakan militer besar-besaran yang tidak lazim, memicu kekhawatiran luas bahwa mesin kekuasaan Partai Komunis Tiongkok (PKT) tengah mengalami keguncangan serius, bahkan berpotensi mengarah pada konflik internal berskala nasional.
Pengamatan di jalan raya nasional, jalur kereta api, hingga aktivitas udara di berbagai wilayah menunjukkan satu pola yang sama: pengerahan kekuatan militer lintas matra dalam tempo singkat dan hampir serentak. Para analis menyebut kondisi ini sebagai indikasi pra-perang, bukan latihan rutin.
Utara Tiongkok: Konsolidasi Pasukan di Basis Lama Zhang Youxia
Di wilayah utara, khususnya Provinsi Liaoning, warganet melaporkan bahwa Grup Angkatan Darat ke-79, yang selama ini dikenal sebagai basis lama Zhang Youxia, melakukan konsolidasi kekuatan secara besar-besaran. Hampir bersamaan, Grup Angkatan Darat ke-80 yang bermarkas di Provinsi Shandong juga terpantau mulai bergerak.
Di jalan tol utama Shandong, warga merekam formasi helikopter militer yang terbang berkelompok hingga menutupi langit, diduga merupakan perpindahan siaga tempur brigade penerbangan darat. Sementara itu, di Stasiun Kereta Ordos, Mongolia Dalam, terlihat rangkaian panjang kereta militer yang mengangkut kendaraan lapis baja berat dan perlengkapan tempur.
Pertanyaan pun mencuat: ke mana pasukan-pasukan ini diarahkan, dan siapa target sesungguhnya?
Sebuah komentar warganet dari Shandong menjadi sorotan luas: “Perang di luar negeri mereka tak becus. Tapi perang saudara—itu keahlian mereka.”
Delta Sungai Yangtze: Rudal Pertahanan Udara Muncul di Jalan Tol Sipil
Ketegangan juga merambah wilayah selatan dan kawasan ekonomi paling makmur di Tiongkok, Delta Sungai Yangtze. Warga dari Taizhou dan Yixing, Provinsi Jiangsu, melaporkan pemandangan yang sangat tidak biasa: kendaraan peluncur rudal pertahanan udara melintas di jalan tol sipil menjelang Tahun Baru Imlek.
Keberadaan sistem pertahanan udara di jalur sipil memicu spekulasi luas. Para pengamat menilai pengerahan ini bukan untuk menghadapi ancaman eksternal, seperti pesawat pembom siluman Amerika Serikat, melainkan antisipasi ancaman dari dalam negeri.
Beberapa analis bahkan menyebut langkah ini sebagai persiapan menghadapi kemungkinan serangan udara internal terhadap kota-kota besar seperti Nanjing atau Shanghai.
Komando Militer Selatan: Jet Tempur Terbang Rendah di Guangdong
Di wilayah Maoming, Provinsi Guangdong, warga merekam jet tempur J-16 dan J-20 yang terbang rendah dengan suara menggelegar. Aktivitas Angkatan Udara ini dianggap sangat sensitif secara politik.
Dalam struktur militer Tiongkok, setiap penerbangan tempur harus mendapat persetujuan tertinggi dari Komisi Militer Pusat. Penerbangan sepihak dapat ditafsirkan sebagai bentuk pembangkangan atau bahkan pemberontakan.
Kini, pesawat dari Komando Militer Selatan telah bergerak. Apakah mereka diperintahkan untuk menuju utara, atau justru sedang bersiap mengambil sikap sendiri, masih menjadi tanda tanya besar.
Lingkar Pertahanan Beijing: Retakan di Jantung Kekuasaan
Sorotan utama tertuju pada cincin pertahanan ibu kota. Dua kekuatan kunci, yakni Grup Angkatan Darat ke-82 di Baoding (Hebei) dan Grup Angkatan Darat ke-83 di Xinxiang (Henan), selama ini berperan sebagai pelindung langsung Beijing.
Namun, laporan yang beredar menyebutkan bahwa sejumlah perwira di dalam kedua unit tersebut, khususnya yang dekat dengan Zhang Youxia dan Liu Zhenli, mulai menunjukkan sikap gelisah dan tidak patuh.
Media Jepang bahkan membocorkan informasi bahwa beberapa unit ini sedang membentuk aliansi internal, mendirikan pusat komando gabungan, dan bersiap menghadapi konfrontasi langsung dengan garis pertahanan terakhir Xi Jinping—Biro Pengawal Pusat.
Perang Simbol dan Isyarat Politik: Editorial PLA Daily Jadi Titik Balik
Ketegangan di lapangan diiringi pergeseran besar di medan opini. Beberapa hari sebelum pergerakan militer ini, Harian Pembebasan Tentara (PLA Daily) menerbitkan sebuah editorial keras yang mengkritik Zhang Youxia dan Liu Zhenli.
Yang menarik perhatian para pengamat adalah penggunaan frasa langka: “Mendorong Tentara Rakyat untuk lahir kembali dari penderitaan.”
Dalam budaya politik Tiongkok, simbol bahasa memiliki makna mendalam. Kata “换羽” (mengganti bulu) ditafsirkan sebagai permainan aksara yang bermakna “mengganti Xi”.
Lebih mencolok lagi, editorial tersebut secara sengaja menghapus penyebutan nama Xi Jinping saat membahas “sistem tanggung jawab Ketua Komisi Militer”, sebuah frasa yang selama satu dekade terakhir selalu dikaitkan langsung dengan Xi.
Langkah ini dipandang sebagai upaya memisahkan institusi dari individu, sebuah pola yang dalam sejarah PKT hanya muncul menjelang kejatuhan Mao Zedong dan Hua Guofeng.
Hu Chunhua: Sosok Kunci yang Menghilang dari Pemberitaan
Di tengah kekacauan, satu nama mencuat secara misterius: Hu Chunhua.
Pada 26 Januari 2026, situs resmi Pemerintah Provinsi Yunnan sempat merilis berita bahwa Hu Chunhua memimpin delegasi inspeksi ke Dehong dan Baoshan pada 21–25 Januari, tepat saat Beijing diguncang pengumuman penyingkiran Zhang Youxia.
Namun, tak lama kemudian, berita tersebut dihapus total dari Xinhua, People’s Daily, hingga portal besar seperti Sohu. Penghapusan serempak ini justru memperkuat spekulasi bahwa kehadiran Hu Chunhua memiliki bobot politik luar biasa.
Dalam foto yang sempat beredar, Hu Chunhua terlihat tersenyum santai, kontras dengan atmosfer tegang di Beijing. Banyak pihak menafsirkan ini sebagai pola klasik dalam sejarah kudeta: “putra mahkota” diamankan jauh dari pusat badai.
Legitimasi Runtuh, Kekosongan Kekuasaan Menganga
Di ruang publik daring, perubahan sentimen tampak jelas. Nasionalis garis keras menghilang, digantikan seruan simbolik dan interpretasi slogan resmi sebagai ajakan menjatuhkan pemimpin.
Para analis menilai, ketika slogan negara mulai ditafsirkan rakyat sebagai seruan perlawanan, legitimasi rezim telah runtuh secara de facto.
Penutup: Bahaya Terbesar adalah Kekosongan Kekuasaan
Awal 2026 menjadi periode paling berbahaya bagi Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir. Bukan semata soal siapa yang akan menang, melainkan risiko kekosongan kekuasaan di negara bersenjata besar dengan struktur komando yang retak.
Jika pertarungan elite tidak menghasilkan pemenang yang jelas, maka aktor bersenjata di lapangan dapat bertindak sendiri, membawa konsekuensi yang sulit dibayangkan.
Satu hal kian jelas: kapal tua bernama Partai Komunis Tiongkok sedang menghadapi badai terbesarnya.
Dalam situasi seperti ini, bagi masyarakat sipil, satu pesan paling realistis adalah:menjauh dari target militer, menjauh dari zona bahaya, dan bertahan melewati belokan sejarah yang brutal ini.





