Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto membawa Indonesia bergabung dalam inisiatif Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian sebagai langkah yang tepat untuk memperjuangkan kepentingan Palestina.
Peluncuran BoP secara resmi dilangsungkan di sela World Economic Forum (WEF) yang digelar di Davos, Swiss, Kamis (22/1). Presiden Prabowo Subianto turut menandatangani piagam organisasi bentukan Trump tersebut.
Gus Yahya mengatakan, meskipun inisiatif yang digagas Presiden Amerika Serikat itu dipandang kontroversial oleh berbagai kalangan, Presiden tentu memiliki pertimbangan tersendiri dalam mengambil keputusan tersebut.
“Dalam pandangan kami, saya sudah pernah menyatakan berkali-kali sebetulnya, bahwa membantu Palestina adalah bagian dari amanat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Gus Yahya dalam jumpa pers di Kantor PBNU, Jakarta Pusat pada Jumat (30/1).
Ia menegaskan, aspirasi Proklamasi bukan hanya milik Indonesia, melainkan aspirasi seluruh bangsa, sehingga Indonesia tidak boleh berhenti untuk terus membantu Palestina.
Namun, menurutnya, pertanyaan penting yang harus dijawab adalah bagaimana cara membantu Palestina secara konkret.
Gus Yahya menyebut dukungan kepada Palestina harus dimaknai sebagai upaya memberi kesempatan bagi bangsa Palestina untuk membangun masa depan mereka, dengan cara apa pun, di tengah dinamika internasional yang penuh ketidakpastian.
“Kita harus berpikir bahwa bantuan dan dukungan kepada Palestina itu adalah bantuan dukungan bagi mereka untuk mendapatkan kesempatan membangun masa depan mereka. Sekarang kita berada di tengah-tengah dinamika internasional yang penuh dengan ketidakpastian,” kata dia.
Dalam situasi tersebut, Gus Yahya menilai Indonesia harus hadir di seluruh arena dan platform internasional yang tersedia jika benar-benar ingin membantu Palestina mencari jalan keluar dari persoalannya.
“Kalau kita tidak hadir, kita hanya akan menonton dan membiarkan orang menentukan jalannya dinamika dan proses-proses yang berlangsung sesudahnya,” ujarnya.
Menurutnya, Dewan Perdamaian dibentuk sebagai wadah untuk membicarakan perdamaian bagi Palestina. Karena itu, sangat penting ada pihak yang sungguh-sungguh memiliki komitmen membela kepentingan Palestina di dalam forum tersebut.
“Maka menurut saya, keputusan Presiden untuk bergabung di dalam Board of Peace ini, saya kira adalah keputusan yang tepat berdasarkan komitmen yang abadi untuk membantu Palestina. Telah dinyatakan bahwa Board of Peace ini dibuat untuk menjadi wahana membicarakan tentang perdamaian di Palestina, untuk Palestina,” tegas Gus Yahya.
“Kalau tidak ada pihak yang sungguh-sungguh punya komitmen membantu Palestina ada di dalamnya, siapa yang akan bersuara demi Palestina?” imbuh dia.
Gus Yahya mengakui bahwa di dalam Board of Peace pasti terdapat berbagai kepentingan, termasuk kepentingan Israel dan negara-negara besar lainnya. Namun, ia menilai perdamaian tidak mungkin tercapai tanpa menyelaraskan perbedaan kepentingan.
“Kita tahu bahwa di dalamnya pasti ada banyak kepentingan. Pasti ada kepentingan-kepentingan Israel, pasti. Enggak mungkin tidak. Tapi bagaimana mungkin perdamaian bisa tercapai tanpa men-dialog-kan kepentingan-kepentingan yang berbeda?” ucapnya.
Karena itu, Gus Yahya mendukung penuh Presiden Prabowo Subianto untuk memainkan peran tersebut secara sungguh-sungguh agar Indonesia tidak absen dalam setiap ikhtiar membantu Palestina.
“Maka kalau ada pihak-pihak yang di dalamnya mewakili kepentingan-kepentingan Israel katakanlah, dan sebagainya, harus ada aktor yang berpartisipasi untuk menyuarakan kepentingan-kepentingan Palestina. Saya sangat mendukung agar Presiden Prabowo Subianto memainkan peran itu dengan sungguh-sungguh, supaya dari waktu ke waktu terus menerus kita jangan sampai absen di dalam ikhtiar apa pun untuk membantu Palestina,” pungkas dia.




