Bagaimana Cara Mencegah dan Mengendalikan Wabah Virus Nipah yang Kini Menyebar di India dan Bangladesh?

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Baru-baru ini, wilayah perbatasan India dan Bangladesh mengalami wabah Virus Nipah . Saat ini telah dilaporkan 5 kasus terkonfirmasi, dengan setidaknya 2 kasus dalam kondisi kritis.

Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Taiwan melalui CDC (Pusat Pengendalian Penyakit) memperkirakan pada  Maret akan secara resmi memasukkan Virus Nipah sebagai penyakit menular kategori lima, dengan tujuan memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan kesadaran pencegahan masyarakat, serta merespons potensi wabah dengan cepat.

Apa itu “Virus Nipah”?

Virus Nipah termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae, genus Henipavirus, merupakan virus RNA untai tunggal. Inang alaminya adalah kelelawar buah (famili Pteropodidae).

 Virus ini dapat menginfeksi berbagai inang perantara seperti babi, kambing, anjing, dan kucing, kemudian menular ke manusia, sehingga memiliki kemampuan penularan lintas spesies.

Cara Penularan dan Gejala Klinis Infeksi Virus Nipah

(Data disediakan oleh CDC Taiwan)

Jalur penularan utama terbagi menjadi tiga jenis:

  1. Dari hewan ke manusia:
    Kontak langsung dengan sekresi mulut atau hidung, jaringan, atau kotoran babi sakit atau hewan lain yang terinfeksi.
  2. Melalui makanan:
    Mengkonsumsi buah-buahan atau nira kurma yang terkontaminasi urin, air liur, atau kotoran kelelawar buah.
  3. Penularan terbatas antar manusia:
    Kontak erat dengan darah, cairan tubuh, sekresi saluran pernapasan, atau kotoran pasien, terutama mudah terjadi penularan nosokomial (di rumah sakit).
Gejala Klinis dan Tingkat Kematian Tinggi

Masa inkubasi Virus Nipah umumnya 4–14 hari, namun dapat mencapai hingga 45 hari. Setelah terinfeksi, virus dapat menyerang paru-paru dan otak.
Gejala bervariasi dari tanpa gejala, gangguan pernapasan ringan, hingga demam tinggi, sakit kepala, mengantuk, gangguan kesadaran, kejang, radang otak (ensefalitis), bahkan koma.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan tingkat kematian mencapai 40%–75%. Hingga kini belum ada obat khusus atau vaksin yang disetujui, sehingga penanganan terutama berupa perawatan suportif.

Rekomendasi Pencegahan dan Langkah Pengendalian di Taiwan

CDC Taiwan menyatakan bahwa pada bulan Maret tahun ini akan menyelesaikan prosedur untuk secara resmi menetapkan Virus Nipah sebagai “penyakit menular kategori lima”, yaitu tingkat klasifikasi tertinggi untuk penyakit menular baru berisiko tinggi.

Setelah diberlakukan, setiap kasus wajib segera dilaporkan, dan langkah-langkah pencegahan serta pengendalian khusus akan langsung diaktifkan.

Direktur CDC Taiwan Lo Yi-chun (kiri) pada 27 Januari menyatakan bahwa pada pertengahan Maret akan memasukkan infeksi Virus Nipah yang bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia) ke dalam kategori lima penyakit menular. Saat ini telah dilakukan pengumuman awal dan RS Universitas Nasional Taiwan (NTUH) ditugaskan untuk menyusun pedoman diagnosis dan perawatan domestik.

CDC Taiwan saat ini masih menetapkan peringatan perjalanan tingkat dua (kuning) untuk wilayah India dan Bangladesh, serta mengingatkan wisatawan agar meningkatkan kewaspadaan. Direktur Lo Yi-chun mengimbau masyarakat menghindari perjalanan ke daerah wabah. Jika terpaksa pergi, wajib:

CDC Taiwan menekankan bahwa alkohol, sabun, dan pemanasan yang memadai dapat secara efektif membunuh virus. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui situs resmi CDC Taiwan pada bagian “Infeksi Virus Nipah”, atau menghubungi hotline pencegahan wabah 1922.

Asal-usul Virus Nipah dan Situasi Epidemi Terkini

Virus Nipah pertama kali muncul pada manusia pada tahun 1998 di Malaysia, menyebabkan 265 kasus ensefalitis akut, dengan 105 kematian, dan kemudian menyebar ke Singapura.

Penelitian menunjukkan bahwa wabah tersebut dipicu oleh kekeringan akibat El Niño, yang mendorong migrasi kelelawar buah ke sekitar peternakan babi. Kotoran kelelawar mencemari pakan babi, sehingga virus menular dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia.

Sejak itu, Bangladesh dan India menjadi wilayah epidemi utama. Di Bangladesh, wabah bersifat musiman (biasanya dari Desember hingga Mei tahun berikutnya), dan sangat berkaitan dengan kebiasaan mengkonsumsi nira kurma mentah.

Dalam beberapa tahun terakhir, wabah menunjukkan tren dari musiman menjadi sepanjang tahun, serta dari lokal menuju penyebaran nasional. Dari 64 distrik, lebih dari 35 distrik telah mencatat kasus.

Di India, wabah sebelumnya terkonsentrasi di negara bagian Kerala di selatan, sebagian besar berupa penularan di fasilitas medis atau akibat kontak dengan buah yang terkontaminasi. Sejak 2025, telah terjadi 9 kejadian wabah independen.

Baru-baru ini (Januari 2026), Bengal Barat di India timur melaporkan total 5 kasus terkonfirmasi, dengan 2 kasus dalam kondisi kritis. Seluruhnya adalah tenaga medis yang terkait dengan rumah sakit setempat. Sekitar 120 kontak erat telah dilacak dan dipantau.

Saat ini, sumber infeksi belum diketahui secara pasti, kemungkinan melibatkan penularan antar manusia, buah yang terkontaminasi, atau nira kurma mentah. WHO menilai bahwa wilayah tersebut masih berpotensi mengalami wabah berkelanjutan, namun risiko penyebaran global tetap tergolong rendah.

Laporan oleh Ye Cheng-yun / Editor Lin Qing


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bocah 6 Tahun Tewas dalam Aksi Perampokan Sadis di Boyolali
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Diduga Salah Gunakan Pelat Dinas, Mobil Mewah Diamankan di Halim
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Fujifilm Luncurkan Kamera instax mini Evo Cinema dan Printer mini Link+ untuk Dukung Ekspresi Visual Generasi Muda
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Gelar Konsolidasi, PKR Siap Hadapi 2029
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Gerak Cepat AC Milan Jelang Bursa Transfer Ditutup: Bek Baru Jadi Prioritas, Ake hingga Dragusin Masuk Daftar Beli
• 20 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.