VIVA – Menuju 2026, organisasi dihadapkan pada tantangan perubahan yang semakin kompleks dan saling terhubung. Bukan lagi soal seberapa cepat berubah, melainkan seberapa siap sistem kerja menopang arah perubahan tersebut.
Dalam praktiknya, banyak organisasi telah melakukan berbagai inisiatif transformasi. Namun hasilnya belum selalu optimal karena perubahan sering dilakukan secara parsial dan tidak terhubung satu sama lain.
Kondisi ini membuat adaptasi kerap bersifat reaktif. Organisasi bergerak cepat merespons situasi, tetapi belum membangun fondasi yang membuat perubahan menjadi kebiasaan.
Isu kesiapan sistem kerja inilah yang menjadi sorotan dalam KTM Growth Forum. Forum tersebut membahas bagaimana organisasi mempersiapkan diri menghadapi 2026 melalui penyelarasan cara kerja, pengambilan keputusan, dan arah pertumbuhan.
Melalui forum ini, KTM Solutions menempatkan teknologi sebagai pendukung, bukan tujuan utama transformasi. Fokus utamanya adalah bagaimana sistem kerja dirancang agar talenta dapat bekerja efektif dan organisasi mampu menghasilkan dampak yang terukur.
Pendekatan tersebut menekankan bahwa pengembangan sumber daya manusia perlu berjalan seiring dengan pembenahan sistem. Tanpa sistem yang mendukung, pengembangan talenta berisiko berhenti sebagai program jangka pendek.
Founder KTM Solutions, Najelaa Shihab, menegaskan pentingnya kesatuan pendekatan tersebut. “Pertumbuhan talenta tanpa pertumbuhan sistem hanya akan menjadi program, sementara sistem tanpa talenta tidak akan berjalan,” ujarnya, dikutip dari keterangan resmi Jumat 30 Januari 2026.
Pandangan ini mencerminkan tantangan banyak organisasi saat ini. Investasi pada pelatihan atau perubahan struktur sering tidak diikuti dengan pembaruan cara kerja dan tata kelola.
Dalam konteks ini, teknologi berperan sebagai enabler yang membantu sistem berjalan konsisten. Teknologi digunakan untuk mempercepat proses, memperkuat koordinasi, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.
Namun, teknologi tidak diposisikan sebagai solusi tunggal. Tanpa kejelasan sistem dan kesiapan manusia, pemanfaatannya justru berpotensi menambah kompleksitas.
Memasuki 2026, organisasi dituntut memiliki sistem yang adaptif dan saling terhubung. Sistem tersebut perlu mampu menjembatani strategi, eksekusi, dan evaluasi secara berkelanjutan.
Forum ini juga menyoroti pentingnya menyatukan agenda transformasi, sustainability, dan social impact. Penyatuan ini dinilai krusial agar setiap keputusan bergerak dalam arah yang konsisten.


