Merahputih.com - Di tengah kepungan air berwarna cokelat yang merendam permukiman di Kelurahan Bidara Cina, Jatinegara, Jakarta Timur, sejak Kamis (29/1), sebanyak 284 jiwa terpaksa meninggalkan kehangatan rumah menuju pengungsian darurat demi menyelamatkan diri dari luapan Kali Ciliwung. Luapan air mencapai puncaknya sampai setinggi 170 sentimeter pada Jumat (30/1) pagi.
Kini, para pengungsi tidak hanya berjuang melawan dingin, tetapi juga serangan penyakit seperti batuk, pilek, hingga gatal-gatal yang mulai menjangkiti warga di lima titik lokasi pengungsian utama.
Baca juga:
Banjir Jawa, DPR Nilai Modifikasi Cuaca hanya Solusi Jangka Pendek
Kondisi kesehatan para korban banjir mulai menurun seiring dengan paparan air kotor dan cuaca yang tidak menentu. Di kantor Kelurahan Bidara Cina hingga GOR Otista, suara batuk warga mulai terdengar bersahutan. Keluhan ini menjadi perhatian serius otoritas setempat mengingat banyaknya kelompok rentan di lokasi tersebut.
"Sampai saat ini tercatat 18 orang yang tidak sehat, rata-rata mengeluhkan batuk, pilek, dan gatal-gatal," ungkap Lurah Bidara Cina, Suhartono, Jumat (30/1).
Guna memitigasi risiko penyakit yang lebih berat, tim medis dari Puskesmas setempat telah disiagakan sejak pagi hari.
"Dari Puskesmas Bidara Cina ada tiga petugas yang sejak pagi memberikan layanan kesehatan," tambahnya.
Petugas memberikan pemeriksaan rutin, suplai obat-obatan, serta edukasi kebersihan lingkungan meskipun fasilitas sanitasi masih terbatas.
Baca juga:
Jumat Siang Ini 50 RTdi Ibu Kota Masih Kebanjiran, 2 Jalan Tergenang
Berdasarkan data BPBD Jakarta Timur, banjir kali ini tergolong cukup ekstrem dengan kenaikan debit air yang sangat fluktuatif. Dari ketinggian yang hanya 10 sentimeter pada Rabu sore, air merangkak naik secara agresif hingga menembus angka 130 sentimeter pada Jumat dini hari dan terus melonjak ke angka 170 sentimeter menjelang waktu subuh.
"Wilayah yang terdampak cukup signifikan ada di RW 11 dan RW 7, sedangkan RW 5 dan RW 6 terdampak namun tidak terlalu parah," jelas Suhartono.
Hingga saat ini, dukungan logistik berupa pangan mulai didistribusikan secara berkala oleh Pemerintah Kota Jakarta Timur untuk menjamin kebutuhan gizi para pengungsi tetap terpenuhi di tengah situasi darurat.




