EtIndonesia. Penangkapan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Partai Komunis Tiongkok (PKT), Zhang Youxia, memicu gelombang kejut politik dan militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sejumlah sumber membocorkan kepada media luar negeri, termasuk Epoch Times, sebuah surat rahasia yang diklaim ditulis langsung oleh Zhang Youxia sebelum dia ditangkap.
Surat tersebut bukan sekadar pesan pribadi, melainkan dokumen politis yang secara terbuka mengungkap konflik mendalam antara Zhang Youxia dan Xi Jinping, serta memuat prediksi detail tentang cara penangkapannya—yang secara mencolok selaras dengan berbagai informasi yang kini beredar luas.
Di bagian awal surat itu tertulis kalimat yang kini menjadi sorotan internasional: “Jika sesuatu terjadi pada saya, mohon surat ini dipublikasikan.”
Konflik Fundamental dengan Xi Jinping
Dalam surat tersebut, Zhang Youxia menyatakan bahwa penangkapannya bukanlah kasus tunggal, melainkan awal dari rangkaian penangkapan lanjutan. Menurutnya, akar konflik terletak pada perbedaan pandangan yang tajam dengan Xi Jinping, khususnya mengenai:
- Sistem pertanggungjawaban Ketua Komisi Militer Pusat
- Promosi dan mutasi perwira tinggi militer
- Kebijakan terhadap Taiwan
- Arah hubungan strategis dengan Rusia
Zhang mengungkapkan bahwa dirinya memiliki syarat dan kemampuan untuk melakukan kudeta militer, namun dengan tegas menolak jalan tersebut.
Alasannya sederhana namun tegas: jika situasi lepas kendali, Tiongkok akan terjerumus ke dalam perang saudara, dan korban terbesarnya adalah para prajurit biasa yang tak bersalah.
Prediksi Penangkapan yang Menjadi Kenyataan
Zhang Youxia juga memperkirakan secara rinci cara Xi Jinping akan menangkapnya: melalui konspirasi tertutup, hanya melibatkan tiga hingga lima orang, tanpa pembahasan kolektif di Politbiro, namun tetap diumumkan atas nama “pusat kekuasaan”.
Dia memperingatkan bahwa jika langkah ini benar-benar dilakukan, Tiongkok akan bergerak menuju model Korea Utara, dengan ciri-ciri:
- Sentralisasi kekuasaan ekstrem
- Potensi perang paksa demi penyatuan Taiwan
- Penggunaan militer untuk memberlakukan darurat militer kapan saja
Dalam kalimat yang paling keras dan bersifat peringatan moral, Zhang menulis kepada Xi Jinping: “Jika kamu menang, tetaplah punya sikap dan batasan. Jangan bertindak terlalu kejam. Ingat, di atas kepala kita ada langit, dan Tuhan melihat.”
Penolakan Perang dan Peringatan Keras soal Amerika Serikat
Surat tersebut juga menunjukkan sikap anti-perang yang tegas dari Zhang Youxia. Dia mendesak Xi Jinping untuk menghormati tatanan internasional yang dipimpin Amerika Serikat dan tidak pernah menjadikan AS sebagai musuh utama.
Zhang mengungkap bahwa dalam interaksinya dengan pihak Amerika, AS secara sengaja memperlihatkan kepadanya berbagai rahasia tingkat tinggi, termasuk:
- Foto pangkalan militer PKT
- Denah fasilitas nuklir
- Lokasi kediaman pribadi para pemimpin Tiongkok
Dia menegaskan dengan kalimat yang mengguncang: “Amerika mengetahui segalanya. Jika PKT memulai perang, sama sekali tidak ada kemungkinan untuk menang.”
Meski demikian, keaslian surat ini masih diperdebatkan, dan hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari otoritas Beijing.
Keheningan Total di Tubuh Militer PKT
Pasca penangkapan Zhang Youxia, dunia internasional mengamati fenomena yang sangat tidak biasa: tidak satu pun cabang militer maupun lima zona komando besar PKT secara terbuka menyatakan dukungan terhadap penangkapan tersebut—baik melalui situs resmi, akun media sosial, maupun video propaganda.
Pengamat politik Tang Jingyuan menilai situasi ini sangat berbahaya. Menurutnya, ada dua kemungkinan yang sedang terjadi:
- Faksi pendukung Xi dan faksi anti-Xi telah mencapai kesepakatan diam-diam, atau
- Negosiasi tingkat tinggi mengalami kebuntuan total, yang berisiko memicu krisis militer serius
“Kode Rahasia” di Kalangan Militer
Pada 29 Januari 2026, komentator politik Zhen Fei mengungkap bocoran dari seorang perwira pensiunan Tentara Grup ke-31.
Dia menyebutkan adanya satu “kode rahasia” yang kini beredar luas di tubuh militer: “Kamu petugas propaganda resimen, ya?”
Kalimat ini terdengar biasa, namun sejatinya merupakan sindiran politik dan ujian loyalitas. Ungkapan tersebut berasal dari serial TV Karangan Bunga di Bawah Gunung, yang menggambarkan pejabat propaganda yang naik pangkat lewat koneksi, sementara prajurit sejati tak mendapat penghargaan.
Dalam konteks saat ini, kalimat tersebut digunakan untuk menguji posisi politik seseorang:
- Apakah berpihak pada Xi Jinping,
- Atau pada veteran militer Zhang Youxia,
- Sekaligus menyiratkan tuduhan pengkhianatan.
Seorang perwira menggambarkan situasi ini sebagai “keheningan absolut sebelum perang”—tenang di permukaan, namun sangat mencekam.
Militer PKT dilaporkan telah memasuki status kesiapan tempur tingkat satu.
Perpecahan Soal Taiwan dan Pandemi
Sumber militer Shen Jianhui pada 29 Januari 2026 mengungkap bahwa Xi Jinping memiliki perbedaan tajam dengan para jenderal senior terkait:
- Strategi militer di Selat Taiwan
- Penanganan pandemi
Zhang Youxia, bersama sejumlah perwira aktif dan pensiunan, disebut secara pribadi mengkritik Xi Jinping, menudingnya takut mati selama pandemi, namun tetap memaksakan diri mempertahankan kekuasaan.
Konflik internal PKT kini semakin memburuk, diperparah oleh rumor pelarian pejabat ke luar negeri.
Tanda-Tanda Keruntuhan Sistem
Akademisi yang bermukim di AS, Wu Zuolai, menyatakan bahwa dalam sejarah Tiongkok, setiap pergantian dinasti selalu diawali oleh rumor dan lagu rakyat, yang kelak berubah menjadi peristiwa politik nyata.
Mantan pejabat Mongolia Dalam, Du Wen, menyoroti kekacauan administratif PKT saat ini. Dia mempertanyakan mengapa meski Zhang Youxia dan Liu Zhenli telah diumumkan “jatuh”, jabatan resmi mereka masih tercantum di situs Xinhua dan Dewan Negara, dan berita lama belum dihapus.
Menurutnya, ini mencerminkan kekacauan sistemik, antara lain:
- Vonis diumumkan sebelum penyelidikan selesai
- Secara hukum, jabatan mereka masih berlaku—Zhang Youxia masih tercatat sebagai anggota Politbiro dan Wakil Ketua CMC
Pakar Tiongkok Heng He menyebut jatuhnya Zhang Youxia sebagai tonggak menuju keruntuhan PKT. Menurutnya, Xi Jinping memang memegang kekuasaan absolut, tetapi kehilangan wibawa sepenuhnya—sebuah kondisi yang sangat berbahaya.
Fenomena “Tiga Pengunduran” yang Tak Terbendung
Pada tahun 2025, data dari Global Tuidang Service Center mencatat fakta mencolok: 15.494.903 orang secara terbuka menyatakan keluar dari PKT, Liga Pemuda, dan Pionir Muda—rata-rata 42.452 orang per hari.
Gerakan ini berlangsung tanpa rapat umum, tanpa pemimpin, dan tanpa mobilisasi organisasi. Sebagian besar dilakukan secara anonim, sebagai keputusan pribadi atau keluarga.
Justru karena sifatnya yang tenang, terfragmentasi, dan berkelanjutan, fenomena ini mencerminkan pergeseran batin masyarakat, bukan kudeta politik.
Ini bukan upaya menggulingkan rezim, melainkan penolakan psikologis untuk terus tunduk pada sistem yang dianggap kehilangan legitimasi.
Penutup
Kasus Zhang Youxia bukan sekadar penangkapan seorang jenderal senior. Dia menjadi cermin retakan mendalam di jantung kekuasaan PKT—militer yang diam, elite yang terbelah, dan rakyat yang perlahan menjauh.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perubahan akan terjadi, melainkan kapan dan dengan cara apa perubahan itu akan meledak ke permukaan.




