BBKSDA Jatim Tata Ulang Resort Konservasi

liputan6.com
4 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Balai Besar Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur memperbaiki pendekatan konservasi di wilayahnya dengan menata ulang struktur resort konservasi. 

Dilansir dari laman ksdae.kehutanan.go.id, pada Jumat (30/1), sebagai upaya menegaskan komitmen terhadap pelestarian sumber daya alam dan ekosistem, Balai  Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur 2026 melakukan penataan ulang cara kerja konservasi di seluruh Resort Konservasi Wilayah (RKW) yang berada dalam pengelolaannya.

Advertisement

BACA JUGA: Terumbu Karang Selat Bali Jadi Fokus Pengawasan BBKSDA Jatim

Langkah ini bukan sekadar perubahan administratif, tetapi upaya fundamental dalam memperkuat efektivitas perlindungan alam serta mengoptimalkan keterlibatan generasi baru dalam memaknai kerja dan tanggung jawab.

Dalam praktik dunia kerja masa kini, istilah conscious unbossing semakin populer, yakni kecenderungan di mana banyak orang, terutama generasi muda tidak lagi menempatkan jabatan struktural sebagai tujuan utama. Mereka lebih memilih untuk tetap fokus pada substansi pekerjaan, pada makna yang mendasari pilihan profesi mereka sejak awal.

Banyak rekan-rekan muda justru memiliki keterampilan tinggi dan kepekaan ekologi saat beraktivitas di lapangan. Mereka mengenali lanskap dengan baik, mampu membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat lokal, serta memahami dinamika antara satwa dan habitatnya.Namun  Namun ketika berbicara soal jabatan, mereka kerap memilih tetap berada di tapak. Bukan karena menolak tanggung jawab, melainkan karena ingin menjaganya tetap relevan.

Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan menjelaskan bahwa kekuatan  konservasi sejatinya tidak hanya terletak pada struktur jabatan atau hierarki organisasi, tetapi pada kualitas peran setiap petugas di lapangan, serta menggeser fokus manajemen konservasi dari struktur yang kaku menuju model yang lebih adaptif.

“Pengelolaan kawasan konservasi hari ini tidak bisa lagi bertumpu pada struktur yang kaku. Kita membutuhkan organisasi yang adaptif, yang memberi ruang bagi petugas lapangan untuk tumbuh sebagai pengelola ekosistem, bukan sekadar pelaksana tugas,” ujarnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gelombang Protes Gen Z Guncang Lima, Massa Tuntut Presiden Peru Mundur
• 21 jam laludetik.com
thumb
Indonesia Siapkan Kawasan Industri Strategis untuk Sambut Investasi Semikonduktor Global
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Jelang MotoGP 2026, Valentino Rossi Berkendara di Sirkuit Mandalika
• 17 jam lalugenpi.co
thumb
Rumah Mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Digeledah Kejagung
• 5 jam lalurealita.co
thumb
Airlangga Pastikan Kenaikan Free Float Tak Bakal Bikin Pasar Saham Sepi
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.