Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan langkah pemerintah menaikkan porsi free float saham dari 7,5 persen menjadi 15 persen tidak akan membuat pasar menjadi sepi.
Menurut dia, pemerintah telah memikirkan matang-matang keputusan mengerek porsi free float saham sesuai dengan kebutuhan investor. Kebijakan ini diharapkan memperbaiki likuiditas pasar dan mendekatkan Indonesia pada standar internasional.
“Tidak, jadi kita sudah lihat bahwa berapa kebutuhan investor kalau free float naik kan sebetulnya investasi akan masuk, likuiditas meningkat,” tutur Airlangga di Kantor Danantara Indonesia, Jumat (30/1).
Langkah menaikkan porsi free float saham merupakan respons atas tekanan pasar menyusul perubahan metodologi penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap Indonesia.
Airlangga menyebutkan selama ini free float saham di Indonesia lebih rendah dari negara tetangga, misalnya Thailand yang sebesar 15 persen, Singapura dan Filipina 10 persen, bahkan Inggris juga 10 persen.
“Jadi kita ambil angka yang relatif lebih terbuka dengan tata kelola yang lebih baik,” ujarnya.
Menurut dia peningkatan free float saham ini ditargetkan mulai berlaku pada Maret. Pemerintah berharap stabilitas perdagangan saham dapat terjaga dan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global semakin kuat, sekaligus meredam dampak tekanan yang sempat membuat IHSG anjlok hampir 8 persen pada perdagangan Rabu (28/1).




