KNKT Amankan Data ATR 42-500, Ada Suara Kokpit Durasi 2 Jam

celebesmedia.id
2 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkap perkembangan terbaru penyelidikan kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

KNKT berhasil mengunduh flight recorder atau alat perekam penerbangan dari pesawat yang mengalami kecelakaan pada 17 Januari 2026 lalu. Proses pengunduhan ini menjadi langkah penting dalam mengungkap penyebab insiden tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Henry  download memang kami sudah bisa me-recover untuk flight data recorder atau alat yang merekam data penerbangan pesawat sudah berhasil kami unduh dan berisi 171 jam pengoperasian pesawat udara dengan dari lebih 0 parameter," jelasnya.

Selain itu, cockpit voice recorder (CVR) atau perekam suara di dalam kokpit juga telah diunduh. Perangkat tersebut merekam percakapan awak pesawat selama dua jam terakhir sebelum kecelakaan terjadi.

"Voice recorder atau alat perekam penerbangan yang merekam suara di dalam kokpit berisi selama dua jam audio, dua jam percakapan," tegas Henry, dikutip dari Tribun Timur, Jumat (30/1)

KNKT memastikan seluruh rekaman mencakup penerbangan rute Yogyakarta–Makassar, termasuk fase kritis menjelang kecelakaan. Meski begitu, KNKT menegaskan bahwa data yang diperoleh masih dalam tahap verifikasi dan analisis mendalam.

"Jadi terkait hal tersebut belum banyak, belum bisa kami sampaikan apa hasil dari isi yang ada di dalam alat perekam penerbangan tersebut," kata Henry.

Kronologi Singkat Kecelakaan

Menteri Perhubungan Dudy Purwagadhi sebelumnya memaparkan kronologi kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) saat rapat bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Pesawat dengan registrasi PK-THT diketahui berangkat dari Yogyakarta pada Sabtu, 17 Januari 2026, pukul 08.08 WIB. Pesawat tersebut disewa oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk misi pengawasan wilayah perairan Indonesia.

Pesawat membawa 10 orang, terdiri dari 7 awak dan 3 penumpang dari KKP, dengan tujuan akhir Makassar.

Pada pukul 12.23 WITA, Air Traffic Control Makassar mendeteksi pesawat tidak berada di jalur pendekatan seharusnya menuju Runway 21 Bandara Sultan Hasanuddin. Upaya koreksi telah disampaikan, namun komunikasi kemudian terputus.

Operasi pencarian terpadu dilakukan sejak 18 Januari 2026. Tim SAR gabungan akhirnya menemukan serpihan pesawat di kawasan Gunung Bulusaraung, yang menjadi titik awal konfirmasi lokasi kecelakaan.

Laporan: Rifki


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pabrik Emas Batangan Freeport Hasilkan 33 Ton di 2025
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Wamenhaj Sebut 13 Calon Petugas Haji Dicopot saat Pendidikan karena Beragam Alasan
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Masjid IKN Berpeluang Jadi Tempat Rukyatul Hilal Awal Ramadan 2026
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Menpar Dorong Perkuat Kolaborasi Bangun Pariwisata ASEAN Berkelanjutan
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kala Damkar Evakuasi Bayi dan Balita Saat Banjir Rendam Kawasan Rawajati, Jaksel
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.