Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Bulungan
Desa Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kalimantan Utara, terus menjaga eksistensi budaya Dayak Kenyabakum sebagai identitas masyarakat setempat.
Sejak menetap di wilayah tersebut pada awal 1980-an, masyarakat Dayak Kenyabakum hingga kini tetap memegang teguh nilai adat, tradisi, serta kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Kepala Desa Sajau, Muren Siin Selaku, menjelaskan bahwa masyarakat Dayak mulai bermukim di desa tersebut sekitar tahun 1980 hingga 1982.
Hingga saat ini, mayoritas penduduk Desa Sajau merupakan suku Dayak Kenyabakum, dengan sebagian kecil masyarakat dari suku lain seperti Jawa, Bugis, dan Toraja.
“Kalau di Desa Sajau ini, mayoritas penduduknya adalah Dayak Kenyabakum. Suku lain ada, tapi jumlahnya sangat sedikit,” ujar Muren dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 30 Januari 2026.
Ia juga menyebutkan bahwa dahulu terdapat komunitas Dayak Punan Batu yang sempat menetap di wilayah Sajau.
Namun, seiring waktu, kelompok tersebut berpindah ke wilayah Sajau Benau, meski secara administratif tetap tercatat sebagai warga setempat.
Tradisi dan Hukum Adat Masih Dijalankan
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Desa Sajau masih menjalankan berbagai tradisi adat, mulai dari seni tari, kerajinan anyaman, hingga penggunaan manik-manik khas Dayak.
Selain itu, hukum adat juga masih diberlakukan sebagai bagian dari norma sosial masyarakat.
“Salah satu contoh hukum adat, apabila terjadi pelanggaran norma kesusilaan seperti menghamili perempuan tanpa ikatan pernikahan, maka akan dikenakan sanksi adat,” jelasnya.
Menurut Muren, keberadaan hukum adat menjadi bentuk tanggung jawab moral sekaligus upaya menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
Desa Wisata Budaya
Desa Sajau, khususnya wilayah Metun Sajau, dikenal sebagai desa wisata berbasis budaya. Daya tarik utama yang ditawarkan kepada wisatawan adalah pertunjukan seni tradisional Dayak Kenyabakum, termasuk tari-tarian adat dan kerajinan khas.
“Yang kami tampilkan kepada para tamu adalah seni budaya kami, seperti tarian dan tradisi adat,” lanjutnya.
Selain wisata budaya, Desa Sajau juga memiliki potensi wisata alam berupa air terjun dan sumber air panas yang berada di kawasan Ulu Sajau. Namun, potensi tersebut belum dibuka secara maksimal karena keterbatasan akses jalan.
“Kami masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama untuk pembangunan akses jalan menuju lokasi wisata alam,” ungkapnya.
Peran Generasi Muda Jadi Kunci
Muren menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya Dayak. Menurutnya, anak muda memiliki peran strategis untuk memastikan tradisi tidak terputus oleh perkembangan zaman.
“Kalau hanya orang tua yang terlibat, lama-lama generasi muda tidak akan tahu budayanya sendiri. Karena itu pemuda harus dilibatkan secara aktif,” tegasnya.
Syukuran Akhir Panen Jadi Agenda Tahunan
Salah satu agenda adat yang rutin digelar setiap tahun adalah Syukuran Akhir Panen yang sebelumnya dikenal sebagai Pesta Panen. Perubahan istilah ini dilakukan sebagai bentuk penekanan pada rasa syukur atas hasil kerja dan perlindungan selama proses bertani.
“Orang tua kami mengajarkan bahwa yang terpenting adalah rasa syukur setelah semua proses panen dilalui dengan berbagai tantangan,” ucapnya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat menampilkan berbagai kesenian tradisional, tarian adat, serta pertunjukan budaya khas Dayak Kenyabakum.
Telinga Panjang dan Anyaman Masih Dilestarikan
Keistimewaan Desa Metun Sajau terletak pada masih lestarinya tradisi telinga panjang, yang hingga kini masih dijaga oleh beberapa tokoh adat dan orang tua di desa tersebut.
Selain itu, masyarakat juga terus mempertahankan kerajinan manik-manik, pembuatan aban, tarian khas Hudok Aban, hingga permainan tradisional seperti menyumpit dan pampagah.
Harapan ke Depan
Ke depan, Pemerintah Desa Sajau berharap adanya dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak agar pengembangan desa wisata dapat berjalan optimal.
“Kami berharap desa kami bisa terus mendapat dukungan, supaya Desa Sajau bisa berkembang dan menjadi manfaat bagi banyak orang,” tuturnya.
Editor: Redaktur TVRINews


