FAJAR, MAKASSAR — Makassar sedang akrab dengan satu kata yang biasanya hanya hidup di stadion dan warung kopi pecinta sepak bola bursa transfer. Di lapangan hijau, PSM Makassar selalu menjadi pusat perhatian setiap kali jendela transfer dibuka. Siapa datang, siapa pergi, dan apa dampaknya bagi kekuatan tim, selalu mengundang spekulasi dan emosi. Namun akhir Januari ini, istilah bursa transfer justru menemukan panggungnya di luar sepak bola, di arena politik Sulawesi Selatan.
Perpindahan Rusdi Masse dari NasDem ke PSI terasa seperti transfer besar yang mengubah peta kompetisi. Bukan sekadar pindah klub, tetapi perpindahan figur yang selama ini menjadi jangkar kekuatan. Dalam analogi sepak bola, Rusdi Masse bukan hanya pemain inti, melainkan sosok yang ikut menyusun strategi dan mengatur ritme permainan. Ia bukan legenda seperti Ramang, tetapi reputasinya di Sulsel membuatnya setara dengan figur senior yang disegani di ruang ganti.
Selama satu dekade memimpin NasDem Sulsel, Rusdi Masse mengantar partai itu menaklukkan dominasi lama Golkar. Prestasi elektoral ini menunjukkan betapa politik daerah masih bertumpu pada figur, bukan semata pada ideologi atau mesin partai. Maka ketika figur itu hengkang, yang tersisa adalah pertanyaan besar tentang daya tahan institusi.
NasDem kini berada pada fase genting. Struktur partai masih berdiri, tetapi kepercayaan diri kader goyah. Para legislator dan elite daerah berada dalam posisi serba salah. Mengikuti Rusdi Masse berarti mempertaruhkan kursi dan jabatan yang masih aman hingga beberapa tahun ke depan. Bertahan berarti menunggu arah baru yang belum sepenuhnya jelas. Rasionalitas politik mendorong mereka untuk berhitung, bukan bergegas.
Situasi ini diperumit oleh perubahan desain pemilu. Pemisahan pemilu nasional dan lokal menciptakan jeda waktu yang panjang, membuat migrasi politik menjadi langkah berisiko tinggi. Bagi anggota DPRD, pindah partai bisa berujung pada pergantian antarwaktu. Bagi kepala daerah, keluar dari NasDem berarti kehilangan kendaraan politik pada momentum berikutnya. Gerbong besar, seperti dalam dunia sepak bola, tak mudah bergerak jika kontrak dan posisi masih menguntungkan.
Di sisi lain, PSI menghadapi ujian yang tak kalah berat. Kehadiran Rusdi Masse jelas memberi daya kejut. Kehadiran Kaesang dan bahkan Jokowi di Makassar mempertegas betapa pentingnya transfer ini bagi PSI. Namun sepak bola mengajarkan satu hal sederhana, pemain bintang tanpa tim pendukung hanya akan menjadi sorotan sesaat. Tanpa jaringan dan basis politik yang ikut berpindah, PSI berisiko berjalan sendiri, sementara NasDem tetap bertahan dengan kekuatan yang tersisa.
Peristiwa ini menegaskan satu realitas lama dalam politik Indonesia. Partai masih rapuh ketika berhadapan dengan perpindahan patron. Loyalitas sering kali mengikuti figur, bukan institusi. Politik pun menyerupai liga yang belum sepenuhnya profesional, di mana satu transfer bisa mengubah peta kekuatan, tetapi juga menyisakan kekosongan dan ketidakpastian.
Seperti halnya PSM Makassar di bursa transfer, hasil akhir dari perpindahan Rusdi Masse baru akan terlihat setelah musim berjalan. Apakah NasDem mampu bangkit dengan konsolidasi baru, atau justru kehilangan arah. Apakah PSI sanggup mengubah transfer besar ini menjadi kemenangan nyata. Yang pasti, Sulawesi Selatan sedang menyaksikan bagaimana politik dan sepak bola berbagi satu kesamaan mendasar, segalanya bergantung pada siapa yang mampu membangun tim, bukan sekadar merekrut bintang. (*)





