Gaza Masih Bergolak Meski Fase Kedua Rencana Perdamaian Inisiatif AS Diluncurkan

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Gaza: Amerika Serikat (AS) mulai menjalankan fase kedua rencana perdamaian Gaza yang digagas Presiden Donald Trump sekitar dua pekan lalu, dengan membentuk sebuah Dewan Perdamaian (Board of Peace) untuk mengawasi wilayah tersebut serta sebuah komite teknokrat Palestina.

Namun, sejumlah hambatan utama masih membayangi pelaksanaannya. Penolakan Hamas untuk melucuti senjata, keberlanjutan kehadiran militer Israel di Jalur Gaza, serta krisis kemanusiaan yang kian memburuk menjadi tantangan paling mendesak.

Israel dituding menghambat masuknya bantuan, tempat berlindung, dan pasokan kebutuhan pokok di tengah badai musim dingin yang menerjang Gaza. Banyak warga Palestina menilai gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 tidak membawa perubahan berarti dalam kehidupan sehari-hari mereka.

“Situasinya tetap sama. Kelaparan tetap kelaparan, penderitaan tetap penderitaan, kemiskinan tetap kemiskinan, dan pengeboman tetap pengeboman, semuanya sama,” ujar Mohammed, seorang warga Gaza, dikutip dari Channel News Asia, Jumat, 30 Januari 2026.

Di sisi lain, Israel menuduh Hamas sengaja menunda pemulangan jenazah sandera yang tewas di Gaza. Jenazah terakhir baru berhasil dipulangkan pekan ini.

Konflik juga terus menelan korban jiwa. Otoritas setempat melaporkan hampir 500 warga Palestina tewas akibat serangan udara dan tembakan Israel sejak gencatan senjata diberlakukan. Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut sedikitnya 100 dari korban tersebut adalah anak-anak. Tiga tentara Israel juga dilaporkan tewas dalam periode yang sama.

Ilmuwan politik dan mantan penasihat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Xavier Abu Eid, mengatakan kematian warga Palestina semakin dianggap sebagai hal yang dapat diterima oleh sebagian komunitas internasional.

“Masih ada pihak yang menyebut apa yang terjadi sebagai sebuah keberhasilan diplomatik,” katanya.

“Kehilangan nyawa warga Palestina telah sepenuhnya dinormalisasi oleh sebagian besar komunitas internasional, khususnya mereka yang berada di balik gagasan Board of Peace,” tambahnya.
Fase Kedua Paling Menentukan Meski Israel dan Hamas saling menuduh melanggar fase pertama gencatan senjata, Trump tetap melaju dengan fase kedua. Pembentukan Board of Peace dan komite teknokrat Palestina dinilai sebagai langkah awal yang relatif mudah, sementara tantangan yang lebih berat kini menanti, terutama pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Gaza.

Trump telah memperingatkan Hamas agar menyerahkan senjatanya atau menghadapi konsekuensi serius. Namun, kelompok militan Palestina itu menolak untuk melucuti persenjataan, dan hanya menyatakan bersedia mempertimbangkan “pembekuan” senjata dalam kerangka gencatan jangka panjang.

Mantan Duta Besar Israel dan mantan Direktur Jenderal Kementerian Luar Negeri Israel, Alon Liel, menyatakan Hamas dapat diyakinkan untuk menyerahkan senjata jika mediator seperti Turkiye dan Qatar diberi peran langsung di lapangan.

“Mereka akan meletakkan senjata jika merasa ada pihak yang bisa mereka percayai yang benar-benar terlibat. Dan mereka mempercayai Turkiye dan Qatar,” ujar Liel.

Namun, Israel menolak keterlibatan kedua negara tersebut karena kedekatan mereka dengan Hamas.
Rekonstruksi Gaza Penuh Tantangan Tantangan besar lainnya adalah pembentukan dan pengerahan pasukan internasional untuk mengamankan serta mendemiliterisasi Gaza. Negara-negara seperti Indonesia dan Bangladesh telah menyatakan minat, tetapi belum ada satu pun negara yang secara terbuka berkomitmen mengirimkan pasukan.

Penolakan juga datang dari sebagian warga Gaza. “Kami akan menganggap setiap pasukan militer internasional yang masuk sebagai bentuk pendudukan baru, karena rakyat Palestina harus diperintah oleh diri mereka sendiri,” kata Rami, warga Gaza lainnya.

Israel juga harus diyakinkan untuk menarik pasukannya dari sekitar 53 persen wilayah Gaza yang masih berada di bawah kendalinya. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini berada di bawah tekanan koalisi sayap kanannya untuk tetap bertahan di wilayah tersebut dan menyebut pengumuman AS terkait fase kedua sebagai langkah “deklaratif”.

“Tidak ada satu pun dari apa yang terjadi sekarang ini yang disukai Netanyahu,” kata Liel.

“Secara politik, ini masalah baginya. Ia tidak ingin mengakhiri perang fase kedua dipaksakan kepadanya,” ujarnya.

Amerika Serikat sendiri telah mengumumkan rencana rekonstruksi ambisius untuk Gaza, termasuk pembangunan kawasan wisata di pesisir, pusat data, dan bandara. Namun, visi tersebut sangat kontras dengan kondisi di lapangan, di mana sebagian besar wilayah Gaza hancur dan mayoritas penduduknya masih mengungsi.

Dari Gaza saat ini, gambaran rekonstruksi versi Amerika Serikat masih tampak jauh dari jangkauan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sortir 20 lagu, Ricecookersajikan 11 karya terbaik di album perdana
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Polisi Masih Periksa Ponsel Lula Lahfah Telisik Asal-usul Tabung Whip Pink
• 8 jam laludetik.com
thumb
PDI-P Tolak Usulan Fraksi Gabungan, Bisa Picu “Kawin Paksa” Partai Politik
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Sinner akui kekalahan dari Djokovic sangat menyakitkan
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
KPK Mengendus Tingkah Laku Ridwan Kamil di Luar Negeri: Berkaitan Penukaran Uang Asing
• 9 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.