Penulis: Tri Cahyo Nugroho
TVRINews – Jakarta, Indonesia
Piala Dunia 1950 dipenuhi berbagai drama sebelum turnamen yang memaksa penyelenggara mengubah format pertandingan.
Brasil menjadi tuan rumah Piala Dunia pertama setelah Perang Dunia II. Dalam kongres FIFA di Luksemburg pada Juli 1946, Brasil hanya satu-satunya kandidat untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 1950, meskipun awalnya direncanakan akan diadakan pada tahun 1949.
Keputusan untuk menggelar Piala Dunia keempat di belahan Amerika Selatan didasarkan pada fakta bahwa sebagian besar Eropa masih dalam kekacauan seusai perang.
Pilihan FIFA kepada Brasil terbukti tepat. Mereka saat itu adalah juara bertahan Amerika Selatan (1949) dan minat terhadap sepak bola mencapai tingkat fanatisme yang luar biasa di negara yang luas itu. FIFA yakin Brasil akan menggelar karnaval sepak bola yang spektakuler.
Pada kongres 1946 tersebut, FIFA juga mengumumkan bahwa, mulai tahun 1950, trofi Piala Dunia selanjutnya akan dikenal sebagai Piala Jules Rimet, meskipun kemudian disebut sebagai Trofi Jules Rimet. Hal ini untuk menandai peringatan 25 tahun Rimet sebagai Presiden FIFA.
Brasil 1950 juga menjadi Piala Dunia ketiga (setelah 1934 dan 1938), peserta harus melalui kualifikasi sebelum turun di putaran final. Total 34 tim mengikuti babak kualifikasi untuk mendapatkan 16 tim di putaran final.
Brasil sebagai tuan rumah dan Italia, sebagai juara bertahan, lolos secara otomatis. Praktis tinggal 14 tempat tersisa yang diperebutkan di kualifikasi Piala Dunia 1950.
Dikurangi Brasil dan Italia, praktis tinggal 32 tim yang ikut kualifikasi. Mereka lalu dibagi ke dalam 10 grup mengacu pada posisi geografis, yaitu:
- Grup 1 sampai 6 – Eropa: diambil 7, diikuti 18 tim (termasuk Suriah dan Israel)
- Grup 7 sampai 9 – Amerika: diambil 6, diikuti 10 tim
- Grup 10 – Asia: diambil 1, diikuti 4 tim
Format Unik Tanpa Laga Final seperti Sebelumnya
Setelah Britania Raya mengalahkan Tim Rest of Europe dengan skor 6-1 dalam pertandingan tahun 1947, Inggris muncul sebagai salah satu favorit terkuat untuk memenangi Piala Dunia 1950.
Dengan berbagai alasan, tiga negara, yakni India, Skotlandia, dan Turki memilih menarik diri setelah pengundian. India mundur karena mereka bersikukuh tidak mau memakai sepatu bola sesuai aturan FIFA. Namun belakangan terungkap, alasan India menarik diri dari turnamen hanya karena biaya perjalanan dan akomodasi yang tinggi.
Mundurnya tiga negara membuat peserta Piala Dunia 1958 tinggal 13. Brasil selaku penyelenggara pun melakukan segala cara untuk memaksimalkan pertandingan dan penjualan tiket karena pembangunan sejumlah stadion dan infrastruktur juga memakan biaya sangat besar.
Brasil pun mengajukan format permainan baru dengan membagi peserta (13) ke dalam empat grup yang jumlah pesertanya tidak sama. Grup 1 terdiri dari empat tim, yakni Brasil, Meksiko, Yugoslavia, dan Swis. Grup 2 masih empat tim, yaitu Inggris (debutan), Spanyol, Cili, dan Amerika Serikat.
Sedangkan Grup 3 dihuni Swedia, Italia (juara dunia 1934 dan 1938), dan Paraguai. Lalu, Grup 4 hanya dihuni Uruguai (kampiun 1930) dan Bolivia.
Dengan format baru ini, pemenang dari setiap grup melaju ke babak grup final, bermain dalam format round-robin untuk menentukan pemenang Piala Dunia 1950.
Turnamen sistem gugur langsung, seperti yang digunakan pada tahun 1934 dan 1938, hanya akan menampilkan 16 pertandingan (termasuk pertandingan perebutan tempat ketiga). Sementara, format grup dua putaran yang diusulkan di Brasil 1950 akan menjamin laga lebih banyak (22), dan dengan demikian lebih banyak pendapatan dari penjualan tiket.
Selain itu, format ini akan menjamin setiap tim setidaknya tiga pertandingan. Dengan demikian memberikan lebih banyak insentif bagi tim-tim Eropa untuk melakukan perjalanan ke Amerika Selatan dan berkompetisi.
FIFA awalnya menolak proposal ini. Tetapi mempertimbangkan kembali ketika Brasil mengancam akan menarik diri dari penyelenggaraan turnamen jika format ini tidak digunakan.
Jalannya Turnamen
Brasil memenangi Grup 1 setelah mengoleksi 5 poin hasil dua kali menang dan sekali imbang tanpa kekalahan (sistem poin dari 1930 sampai 1990 adalah kemenangan dapat 2 poin, imbang 1, dan kalah 0).
Kejutan terjadi di Grup 2. Inggris yang menjadi salah satu favorit hanya menang sekali (atas Cili) dan kalah dari Spanyol dan Amerika Serikat masing-masing dengan skor 0-1. Spanyol memimpin klasemen akhir Grup 2 ini dengan poin maksimum, 6.
Swedia yang hanya dua kali bermain, memenangi Grup 3 sekaligus menyingkirkan Italia. Uruguai yang hanya sekali bermain di Grup 4 memimpin setelah melindas Bolivia dengan skor 8-0.
Pertandingan sengit terjadi di putaran final yang diikuti Brasil, Spanyol, Swedia, dan Uruguai. Pada laga pertama, 9 Juli 1950, Uruguai ditahan Spanyol, 2-2, sedangkan Brasil melibas Swedia dengan skor 7-1.
Di pertandingan hari kedua, 13 Juli 1950, Brasil menggilas Spanyol, 6-1, sementara Uruguai membenamkan Swedia, 3-2.
Pada pertandingan hari terakhir, 16 Juli 1950, Swedia mengalahkan Spanyol, 3-1. Namun laga ini tidak menentukan gelar juara dunia.
“Final” sesungguhnya terjadi di Estadio do Maracana (Stadion Maracana), Rio de Janeiro, saat Brasil menghadapi Uruguai. Disaksikan lebih dari 100 ribu pasang mata (FIFA mencatat 173.850 penonton yang hadir), Albino Fiaca Cardoso membuat Maracana bergemuruh lewat golnya pada menit ke-47.
Sembilan menit berselang, Juan Alberto “Pepe” Schiaffino Villaiba membuat Stadion Maracana bak kuburan lewat gol untuk Uruguai yang membuat laga imbang.
Mental juara Uruguai benar-benar teruji karena di bawah tekanan berat, Alcides Edgardo Ghiggia Pereyra akhirnya berhasil mencetak gol kemenangan untuk memastikan kemenangan Uruguai sekaligus merebut gelar Piala Dunia kedua mereka.
Editor: Tri Cahyo Nugroho





