JAKARTA, KOMPAS.com - Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) yang memiliki ketinggian puluhan meter, kini mudah sekali ditemukan di berbagai daerah Jakarta.
Bahkan, banyak SUTT kini berdiri di tengah-tengah pemukiman penduduk yang padat, salah satunya di Tanah Merah, Koja, Jakarta Utara.
Di Tanah Merah, tiang-tiang SUTT ini banyak berdiri di dalam gang dan sudah puluhan tahun lamanya berdampingan dengan rumah warga.
Bahkan dulu, banyak rumah semipermanen di Tanah Merah yang berada persis di area dalam SUTT.
Namun, seiring berjalannya waktu untuk menjaga keamanan, bangunan semipermanen tersebut sudah ditertibkan.
Kini, sebagian besar SUTT yang berdiri di wilayah Tanah Merah sekelilingnya sudah ditembok tinggi berwarna putih biru, sehingga ada jarak antara tiang saluran udara bertegangan tinggi ini dengan rumah warga.
Namun, masih ada satu SUTT di kawasan Tanah Merah yang sekelilingnya belum ditembok, karena masih terdapat rumah warga.
SUTT tersebut berada di RT 09, RW 01, Koja, Jakarta Utara, yang berada di tengah-tengah rumah warga.
Baca juga: Potret Pemukiman Padat di Koja, Hidup Berdampingan dengan SUTT
Tiang SUTT halangi rumahPengamatan Kompas.com di lokasi, SUTT kurang lebih setinggi 75 meter itu berdiri di lahan berbentuk kotak dengan luas 10 x 10 meter yang dulunya bekas rumah warga.
"Udah lama juga sih, ada 15 tahun kurang lebih. Awalnya, rumah warga dibayarin sama PLN," kata salah satu warga yang rumahnya berada persis di bawah SUTT bernama Hartoyo (50) saat diwawancarai Kompas.com di lokasi, Kamis (29/1/2026).
Hartoyo mengatakan, ada sekitar lima bangunan di depan rumahnya yang digusur untuk mendirikan SUTT tersebut.
Namun, warga yang rumahnya terdampak pembangunan SUTT mendapatkan ganti rugi dari PLN.
Begitu pula rumah Hartoyo yang mendapat kompensasi karena area depannya terpotong sekitar 1,5 meter untuk pembangunan saluran udara tersebut.
Sudah belasan tahun lamanya, Hartoyo dan warga RT 09 lain hidup berdampingan dengan SUTT setinggi 75 meter tersebut.
Bahkan, ketika membuka pintu, tiang SUTT dengan posisi melintang langsung terlihat di depan terasnya dan menghalangi akses keluar masuk rumah.
Besi tiang SUTT yang melintang di depan pintu rumah Hartoyo ketinggiannya kurang lebih satu meter.
Jadi, ketika ingin masuk ke rumah, Hartoyo dan keluarga terpaksa harus membungkukkan badan atau menundukkan kepala agar tidak terbentur tiang SUTET yang terbuat dari besi tersebut.
Keberadaan tiang SUTET persis di depan rumah juga membuat ia kesulitan memasukan sepeda motor ke area teras dan perabot rumah tangga berukuran besar.
"Masuk rumah harus nunduk, masukin barang susah cuma ya dipaksain sebisanya aja, cuma ya enggak menghambat karena sudah terbiasa," ucap dia.
Baca juga: Penampakan Permukiman di Jatipulo yang Terbakar Akibat Kabel SUTT Putus




