Penyebab Longsor Cisarua Dominasi Faktor Alam, Ahli Ungkap Ancaman Geologis Gunung Burangrang

suara.com
3 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Pakar UPI, Hendro Murtianto, menyatakan faktor alam dominan penyebab longsor Cisarua, bukan semata-mata alih fungsi lahan.
  • Curah hujan tinggi berkelanjutan menjadi pemicu utama membuat bidang gelincir di Gunung Burangrang menjadi tidak stabil.
  • Longsor baru disebut bencana saat terjadi dampak langsung pada aktivitas dan kehidupan masyarakat manusia.

Suara.com - Tragedi tanah longsor Cisarua di Kabupaten Bandung Barat yang menelan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan parah, memicu banyak pertanyaan.

Pakar Mitigasi Bencana dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Hendro Murtianto, akhirnya angkat bicara.

Menurutnya, penyebab longsor Cisarua didominasi oleh faktor alam yang memicu terjadinya pergerakan massa tanah, bukan semata-mata alih fungsi lahan.

"Bahwa alih fungsi lahan memang berperan, tetapi bukan merupakan faktor dominan dalam kasus longsor Cisarua, karena titik awal longsoran berada di bagian atas Gunung Burangrang, bukan di daerah lereng kaki,” kata Hendro dilansir dari Antara.

Hendro Murtianto menjelaskan bahwa kejadian longsor tersebut dipicu oleh kombinasi kompleks antara faktor eksternal dan internal, yang keduanya didominasi oleh kondisi alam.

"Curah hujan yang tinggi secara terus-menerus membuat bidang gelincir menjadi licin dan tidak stabil,” tegas Hendro.

Pakar UPI ini juga mengingatkan tentang karakteristik geologis wilayah. Menurutnya, kawasan Gunung Burangrang merupakan bagian dari bentang alam gunung api purba Gunung Sunda.

Hendro menegaskan sebuah prinsip penting dalam ilmu mitigasi bencana suatu peristiwa longsor baru disebut sebagai bencana apabila menimbulkan dampak langsung terhadap kehidupan manusia.

"Fenomena longsor itu alamiah. Yang menjadi masalah adalah ketika longsor tersebut berdampak pada kehidupan manusia,” katanya.

Baca Juga: Kemensos Terus Suplai Logistik dan Buka Posko Kesehatan Korban Longsor Cisarua

Analisis dari Hendro Murtianto ini menjadi pelajaran berharga, terutama bagi generasi milenial dan anak muda di kota-kota besar Indonesia yang seringkali kurang terekspos pada dinamika geologis wilayah pedalaman.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dishub Surabaya Tegaskan Tak Hentikan Tipiring dan Jukir Wajib Setor Parkir
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Dari Gol Bunuh Diri hingga Gol Penebus: Brandts dan Mandzukic Alami 2 Kutub Emosi di Piala Dunia
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Prabowo Tinjau Proyek Rusun 30 Hektare di Cikarang, Targetkan 141 Ribu Unit Rumah Subsidi
• 15 jam lalumatamata.com
thumb
5 Inspirasi Mix-and-Match Blazer
• 20 jam lalubeautynesia.id
thumb
7 Hari Kematian Lula Lahfah, Makam Sang Selebgram Masih Dikunjungi Sahabat dan Banyak Bunga
• 6 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.