Penulis: Tri Cahyo Nugroho
TVRINews – Jakarta, Indonesia
Timnas Norwegia telah berevolusi menjadi kekuatan yang menakutkan menjelang Piala Dunia 2026.
Hasil undian Piala Dunia 2026 pada 5 Desember 2025 lalu memunculkan Grup I sebagai “grup maut” di turnamen sepak bola terbesar sejagat empat tahunan itu.
Juara dunia 1998 dan 2018 Prancis berada di grup ini didampingi juara Afrika Senegal, pemenang play-off interkonfederasi (salah satu dari Bolivia, Irak, atau Suriname), dan Norwegia, di turnamen yang akan digelar mulai 11 Juni sampai 19 Juli 2026 di tiga negara: Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko.
Norwegia disebut-sebut bakal menjadi salah satu kuda hitam dari Eropa pada Piala Dunia edisi ke-23 nanti. Statistik dan materi pemain menjadi alasan mengapa Norwegia—yang untuk kali pertama dalam 28 tahun—takkan datang hanya sebagai peserta melainkan menjadi salah tim yang berbahaya.
Statistik Impresif di Kualifikasi
Di kualifikasi zona Eropa, Norwegia tergabung di Grup I dengan pesaing terberat Italia—tiga lainnya adalah Israel, Estonia, dan Moldova. Di grup ini, skuad dengan julukan Rode, Hvite, Bla (Merah, Putih, Biru dalam Bahasa Indonesia) itu meraup poin sempurna, 24, dengan memenangi seluruh delapan pertandingan.
Norwegia mampu memaksa tim sekelas juara dunia empat kali (1934, 1938, 1982, 2006), Italia, harus menjalani play-off. Di kandangnya, Ullevaal Stadion, Oslo, Italia mereka bantai 3-0. Sedangkan di markas Italia, Norwegia berpesta dengan skor 4-1.
Hanya Inggris yang mampu menyamai torehan juga meraih poin maksimum dari delapan pertandingan. Namun, jumlah gol yang dicetak Erling Haaland dan kawan-kawan sungguh gila, 37, atau rata-rata hampir lima gol di setiap pertandingan.
Selain Grup I, ada lima grup lain yang setiap timnya juga harus menjalani delapan laga. Namun, total gol yang dicetak para juara grup itu jauh di bawah Norwegia. Belgia hanya mencetak 29 gol, Belanda 27, Kroasia 26, sedangkan Inggris dan Austria sama-sama 22.
Gaya Bermain dan Taktik
Di bawah kepemimpinan pelatih kepala Stale Solbakken, Timnas Norwegia telah berkembang menjadi tim yang sangat vertikal, agresif, dan pekerja keras, memadukan ketangguhan tradisional Skandinavia dengan sepak bola menyerang modern berintensitas tinggi.
Mereka telah beralih dari taktik umpan panjang ala era tahun 1990-an ke gaya terstruktur dan berorientasi penguasaan bola yang memaksimalkan kemampuan sejumlah talenta elite seperti kemampuan mencetak gol dengan mengandalkan kekuatan dan kelebihan fisik dalam diri Erling Haaland, serta kreativitas di lini tengah yang dipimpin Martin Odegaard.
Inti dari karakter taktik Timnas Norwegia ini mulai terlihat sejak 2025. Mereka selalu bermain dengan tempo tinggi dan sangat vertikal.
Norwegia menjelma menjadi tim yang dinamis dan agresif yang berupaya menggerakkan bola ke depan dengan cepat untuk menembus lini pertahanan lawan. Tetapi tak jarang pemain mereka melakukan pergerakan progresif dan dribel satu lawan satu.
Lini tengah hibrida Norwegia dirancang untuk menyeimbangkan kreativitas dan kerja keras. Sander Berge sering bermain sebagai gelandang box-to-box (nomor 8 sisi kanan), mendukung kreativitas Odegaard sekaligus memberikan stabilitas pertahanan.
Sistem pertahanan struktural Norwegia saat ini juga berbeda dibanding era-era sebelumnya. Kini, Norwegia memperketat pertahanan melalui skema zonal yang menekankan jarak yang kompak dan intersepsi daripada duel fisik semata.
Dengan talenta muda seperti Oscar Bobb dan Antonio Nusa, Norwegia mampu memanfaatkan pemain sayap untuk mengisolasi bek, seringkali memfokuskan serangan di sisi kiri untuk menciptakan ruang bagi Haaland atau memungkinkan gelandang untuk melakukan pergerakan ke dalam kotak penalti.
Norwegia kini juga menerapkan gaya bermain dengan tekanan yang agresif. Norwegia menerapkan tekanan intensitas tinggi untuk merebut bola kembali di separuh lapangan lawan, sehingga membuat mereka berbahaya dalam transisi serangan.
Singkatnya, tim Norwegia saat ini adalah tim yang “dirancang khusus” untuk memaksimalkan potensi pemain bintangnya dengan menyediakan struktur pertahanan yang solid dan terorganisasi yang memungkinkan serangan vertikal yang cepat.
Pemain Kunci
Norwegia dikenal dengan gaya permainan langsung dan fisik pada era tahun 1990-an (era “Drillo”). Tim saat ini masih mempertahankan ciri khas tradisional Norwegia yaitu pekerja keras dan kuat secara fisik, tetapi mereka telah menggabungkannya dengan keterampilan teknis tingkat tinggi dan struktur penguasaan bola yang lebih baik.
Satu keberuntungan jika Solbakken memiliki sederet pemain untuk mendukung gaya bermain dan taktik yang ia terapkan seperti uraian di atas.
*Erling Haaland
Selain kemampuan penyelesaian akhir yang klinis, Haaland sangat penting bagi tim karena postur fisiknya yang luar biasa—tinggi 195 cm dengan berat badan 94 kg—serta kemampuannya menahan bola dan berlari di belakang pertahanan lawan.
Haaland adalah pencetak gol terbanyak kualifikasi zona Eropa di Piala Dunia 2026 dengan 16 gol. Angka itu menyamai rekor Eropa milik striker Polandia Robert Lewandowski di pra-Piala Dunia 2018.
“Jika Anda harus bermain melawan pemain seperti Haaland, itu adalah mimpi buruk,” kata legenda Timnas AS Landon Donovan.
“Situasi itu akan menjadi mimpi buruk di Piala Dunia. Jika Anda terisolasi dalam situasi satu lawan satu dengannya, itu adalah bencana,” tutur Donovan seperti dikutip Fox Sports.
*Antonio Nusa dan Oscar Bobb
Dua pemain sayap, Bobb di kanan dan Nusa di kiri juga sangat berbahaya. “Antonio Nusa dan Oscar Bobb sangat lincah dalam duel satu lawan satu dalam menggiring bola dan melewati lawan,” ucap Coby Jones, mantan bintang Timnas AS.
*Martin Odegaard, Sander Berge, dan Patrick Berg
Ketiga pemain ini menjadi andalan Norwegia di lini tengah. Odegaard menjadi pemain kunci tim yang kreatif, menghubungkan lini tengah dan serangan dengan umpan-umpan berkualitas tinggi dan penciptaan peluang.
Sedangkan Berge dan Berg mampu menciptakan kestabilan di lini tengah sehingga para pemain depan lebih leluasa untuk bergerak maupun menciptakan peluang.
*Kristoffer Ajer
Bek tengah berusia 26 tahun ini menjadi jangkar kedisiplinan untuk membuat unit pertahanan Norwegia menjadi yang tidak hanya kompak namun juga sulit ditembus.
Editor: Tri Cahyo Nugroho




