Jika Sahabat Kumparan pernah melihat flamingo besar dari dekat, ada satu pose yang hampir selalu muncul. Tubuhnya tegak, leher melengkung elegan, lalu satu kaki terangkat rapi. Flamingo besar atau Phoenicopterus roseus seolah memahami benar bagaimana tampil ikonik di hadapan manusia. Pose satu kaki itu bukan sekadar gaya, melainkan hasil adaptasi panjang yang masuk akal secara biologis dan efisien secara energi. Di balik keindahan visualnya, flamingo menyimpan cerita evolusi yang menarik dan penuh logika alam.
Flamingo besar dikenal sebagai spesies flamingo terbesar sekaligus paling luas persebarannya. Burung ini hidup di Afrika Utara, Sub-Sahara, Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Eropa Selatan. Habitat favoritnya adalah laguna air asin, danau payau, rawa garam, dan pesisir berlumpur. Lingkungan ekstrem dengan kadar garam tinggi justru menjadi rumah nyaman bagi flamingo, karena sedikit pesaing yang mampu bertahan di sana. Strategi ini membuat sumber makanan relatif aman dan melimpah.
Secara fisik, flamingo besar mudah dikenali dari kaki dan lehernya yang panjang, paruh bengkok berujung hitam, serta warna bulu merah jambu yang mencolok. Tingginya bisa mencapai 150 sentimeter dengan berat sekitar 2 hingga 4 kilogram. Kaki panjang membantu flamingo berjalan di air dangkal tanpa membasahi tubuh. Leher panjang memungkinkan paruh menjangkau dasar perairan saat mencari makan. Semua tampak berlebihan, tetapi justru sangat fungsional.
Paruh flamingo adalah contoh adaptasi yang cerdas. Saat makan, flamingo membalikkan kepalanya ke dalam air. Lidahnya bergerak seperti piston, menyedot air dan lumpur, lalu menyaringnya menggunakan lamela halus di paruh. Udang kecil, alga, diatom, dan organisme mikroskopis tertahan, sementara air dikeluarkan kembali. Teknik makan terbalik ini membuat flamingo mampu memanfaatkan sumber makanan yang diabaikan banyak burung lain.
Warna merah jambu flamingo sering dianggap aneh, bahkan eksotis. Namun, warna ini sepenuhnya rasional secara biologis. Flamingo tidak terlahir merah jambu. Anak flamingo berwarna abu-abu. Warna khas baru muncul seiring bertambahnya usia dan perubahan pola makan. Pigmen karotenoid dari alga dan krustasea, terutama Artemia salina, diolah tubuh flamingo menjadi warna merah jambu hingga kemerahan. Semakin kaya makanannya, semakin kuat warnanya.
Menariknya, warna bukan sekadar hiasan. Menurut ahli biologi perilaku, warna cerah berfungsi sebagai sinyal kualitas individu. Flamingo dengan warna lebih intens umumnya lebih sehat dan bergizi baik. Saat musim kawin, flamingo bahkan mengoleskan sekresi kelenjar uropigial ke bulu mereka, seolah memakai riasan alami. Fenomena ini pernah disebut para peneliti sebagai bentuk “make up biologis” yang langka di dunia burung.
Lalu, mengapa flamingo sering berdiri dengan satu kaki. Pertanyaan ini lama mengundang rasa penasaran ilmuwan. Penelitian biomekanik menunjukkan bahwa berdiri satu kaki justru lebih stabil dan hemat energi bagi flamingo. Struktur sendi dan otot kaki memungkinkan posisi terkunci secara pasif. Artinya, flamingo tidak perlu mengerahkan banyak tenaga otot untuk tetap berdiri. Secara mengejutkan, posisi satu kaki lebih santai dibanding dua kaki.
Selain hemat energi, posisi ini juga membantu mengatur suhu tubuh. Flamingo sering berdiri di air yang lebih dingin dari suhu tubuhnya. Dengan mengangkat satu kaki, luas permukaan tubuh yang bersentuhan dengan air berkurang. Panas tubuh pun lebih terjaga. Penelitian menunjukkan flamingo lebih sering berdiri satu kaki saat berada di air atau ketika suhu lingkungan menurun. Ini menegaskan fungsi termoregulasi yang penting.
Namun, adaptasi flamingo tidak berhenti pada tubuh individual. Mereka juga unggul dalam kehidupan sosial. Flamingo besar hampir tidak pernah hidup sendirian. Mereka berkoloni dalam kelompok besar, dari ratusan hingga ribuan ekor. Hidup berkelompok memberi perlindungan dari predator, memudahkan pencarian pasangan, dan meningkatkan keberhasilan reproduksi. Suasana koloni sering ramai oleh suara khas mirip angsa yang berfungsi sebagai alat komunikasi.
Dalam urusan berkembang biak, flamingo menunjukkan kerja sama yang menarik. Jantan dan betina membangun sarang dari lumpur berbentuk kerucut. Betina biasanya bertelur satu butir. Kedua induk bergantian mengerami telur selama sekitar 26 hingga 32 hari. Setelah menetas, anak flamingo bergabung dalam kelompok penitipan besar. Meski tampak kacau, setiap induk mampu mengenali anaknya melalui suara.
Flamingo bukan burung yang cepat dewasa. Kematangan seksual biasanya baru tercapai pada usia tiga hingga lima tahun. Warna bulu dewasa pun baru sempurna sekitar usia empat tahun. Namun, kesabaran ini terbayar dengan umur panjang. Di alam liar, flamingo besar bisa hidup 30 hingga 40 tahun. Di penangkaran, beberapa individu bahkan mencapai usia lebih dari 60 tahun, bahkan tercatat hingga 80 tahun.
Meski berstatus Risiko Rendah menurut IUCN, flamingo besar tetap menghadapi ancaman serius. Kerusakan lahan basah, polusi air, limbah industri, dan gangguan manusia di lokasi berkembang biak menjadi masalah nyata. Penelitian jangka panjang di kawasan Camargue, Prancis, menunjukkan bahwa konservasi berbasis sains sangat penting untuk menjaga populasi flamingo tetap stabil. Tanpa habitat yang sehat, keanggunan ini bisa perlahan menghilang.
Referensi
del Hoyo, J., Elliott, A., & Sargatal, J. Handbook of the Birds of the World, Vol. 1: Ostrich to Ducks. Lynx Edicions, 1992.
Anderson, M. J. et al. Why do flamingos stand on one leg? Biology Letters, 2017.
Fox, D. L. Animal Biochromes and Structural Colours. University of California Press, 1976.
Johnson, A. R., & Cézilly, F. The Greater Flamingo. T & AD Poyser, 2007.




