Hal seperti ini kini terasa semakin sering terjadi. Bukan hanya di media sosial, melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Di rumah, di ruang kelas, di tempat kerja, bahkan di antara orang-orang yang seharusnya paling dekat. Kita bertemu, berbincang, tertawa, tetapi entah mengapa, saling memahami terasa semakin sulit.
Kita hidup di masa yang serba cepat. Segalanya menuntut respons instan. Pesan harus segera dibalas, pendapat harus segera diutarakan, emosi harus segera diluapkan. Dalam kecepatan itu, mendengar dengan sungguh-sungguh menjadi hal yang kerap terlewat. Kita tidak benar-benar hadir, hanya sekadar ada.
Di media sosial, situasinya tidak jauh berbeda. Kita melihat potongan cerita orang lain, lalu merasa cukup tahu untuk menilai. Satu unggahan dianggap mewakili seluruh hidup. Satu kesalahan diperbesar, satu emosi dianggap berlebihan. Kita lupa bahwa apa yang tampak di layar hanyalah sebagian kecil dari kenyataan seseorang.
Tanpa disadari, kita juga membawa luka dan lelah masing-masing. Banyak orang berbicara dengan nada defensif bukan karena ingin menyerang, melainkan karena takut disalahpahami. Banyak orang memilih diam bukan karena tidak peduli, melainkan karena lelah menjelaskan. Dalam kondisi seperti ini, saling memahami menjadi semakin rumit.
Ada kalanya kita ingin dimengerti, tetapi tidak cukup sabar untuk memahami orang lain. Kita ingin didengar, tetapi enggan mendengar. Kita ingin diterima apa adanya, tetapi cepat mengoreksi ketika orang lain berbeda. Di situlah ironi itu muncul—kita menuntut empati yang sama yang sering kali lupa kita berikan.
Padahal, memahami tidak selalu berarti sepakat. Memahami hanyalah kesediaan untuk memberi ruang. Ruang untuk orang lain bercerita tanpa langsung dipotong. Ruang untuk perbedaan tanpa buru-buru dihakimi. Ruang untuk diam tanpa dipaksa menjelaskan segalanya.
Mungkin yang membuat kita semakin sulit saling memahami bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena kita terlalu lelah dan terlalu terburu-buru. Kita jarang berhenti sejenak untuk benar-benar melihat satu sama lain sebagai manusia, bukan sebagai opini, posisi, atau masalah.
Jika ada satu hal sederhana yang bisa kita mulai, mungkin itu adalah mendengar tanpa niat membalas. Bertanya tanpa keinginan mengoreksi. Hadir tanpa harus selalu benar. Hal-hal kecil, tetapi sering kali terlupakan.
Saling memahami memang tidak instan. Ia pelan, kadang melelahkan, dan tidak selalu nyaman. Namun, justru di sanalah hubungan menjadi lebih hangat dan manusiawi. Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin memahami adalah bentuk kepedulian paling sunyi—dan paling dibutuhkan.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5488959/original/056745600_1769772092-InShot_20260130_181118131.jpg.jpeg)