REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Harga emas dunia terus mencetak rekor baru, memicu proyeksi agresif dari lembaga keuangan global. JPMorgan memperkirakan harga emas dapat mencapai 8.000 dolar AS per ons atau sekitar Rp 126,4 juta pada akhir dekade ini.
Dilansir dari laman Mining.com, emas memulai tahun 2026 dengan reli tajam, naik hampir 25 persen sejak awal tahun. Pekan ini, harga emas menembus level psikologis 5.000 dolar AS dan sempat menyentuh rekor tertinggi 5.360,60 dolar AS per ons atau sekitar Rp 84,8 juta.
Baca Juga
Bos Danantara Klaim Perminas Siap Kelola Salah Satu Tambang Emas Terbesar di Indonesia
Pembiayaan Emas Digital Muamalat Tembus Rp 1,1 Triliun
Kenaikan Harga Emas tak Pernah Seugal-ugalan Ini Dalam 20 Tahun Terakhir
Dalam catatan riset terbaru, tim strategi JPMorgan yang dipimpin Nikolaos Panigirtzoglou menilai reli masih berpotensi berlanjut. “Harga emas dapat melonjak lebih tinggi dari 8.000 dolar AS per ons pada akhir dekade ini jika investor swasta terus berinvestasi besar-besaran di logam mulia ini,” ujarnya.
Para analis mengatakan skenario ini dapat terjadi jika investor meningkatkan alokasi investasi mereka ke emas dari 3 persen menjadi 4,6 persen dari portofolio.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sejalan dengan JPMorgan, awal bulan ini analis di Goldman Sachs menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi 5.400 dolar AS per ons. Langkah tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan dari sektor swasta.
Perkiraan harga emas yang terus melonjak ini mencerminkan fundamental permintaan yang kuat untuk instrumen investasi safe haven ini. Data yang dirilis Kamis (29/1/2026) oleh World Gold Council menunjukkan permintaan emas global mencapai rekor tertinggi pada 2025. Kenaikan tersebut sebagian didorong oleh ketidakstabilan geopolitik dan kekhawatiran terhadap dolar AS.
Karyawan menunjukkan imitasi emas logam mulia. - (Republika/Prayogi)