Waspada Penyebaran Virus Nipah, Barantin Perketat Lalu Lintas Komoditas Hewan dan Tumbuhan

idxchannel.com
9 jam lalu
Cover Berita

Badan Karantina Indonesia (Barantin) meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah-langkah pencegahan masuk dan menyebarnya virus Nipah (Nipah Virus/ NiV).

Waspada Penyebaran Virus Nipah, Barantin Perketat Lalu Lintas Komoditas Hewan dan Tumbuhan (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Badan Karantina Indonesia (Barantin) meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah-langkah pencegahan masuk dan menyebarnya virus Nipah (Nipah Virus/ NiV) seiring meningkatnya laporan kasus di beberapa negara Asia Selatan. 

Kepala Barantin, Sahat M Panggabean mengatakan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat, penguatan ketahanan pangan nasional, serta pencegahan masuk dan tersebarnya penyakit hewan menular berbahaya ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Baca Juga:
Ketua DK OJK dan 3 Petingginya Mundur, Ini Respons DPR

Upaya penguatan pengawasan tersebut dilaksanakan oleh Barantin secara terintegrasi melalui pendekatan manajemen risiko, sistem karantina modern, serta sinergi lintas sektor.

Berdasarkan kajian ilmiah dan epidemiologi, virus Nipah merupakan virus RNA dari genus Henipavirus yang bersifat zoonotik (dapat ditularkan dari hewan ke manusia) dan memiliki tingkat patogenisitas tinggi. 

Baca Juga:
Boeing Raih Kontrak USD2,8 Miliar untuk Pengembangan Armada F-15 Korea Selatan

Virus yang pertama kali diidentifikasi pada tahun 1998–1999 di wilayah Sungai Nipah, Negeri Sembilan, Malaysia tersebut memiliki reservoir (inang/ tempat hidup) alami utama virus ini adalah kelelawar buah (Pteropus spp.), yang secara alami menyebarkan virus Nipah melalui urin, saliva (air liur) kelelawar, sisa makanan, buah, nira, dan minuman yang terkontaminasi, sekresi pernapasan dan saliva babi terinfeksi, serta air minum dan lingkungan yang tercemar.

Sahat menjelaskan penularan virus Nipah dapat terjadi melalui hewan hidup, yaitu kelelawar (Pteropus spp.), babi, dan kuda yang berasal dari India atau negara yang tertular atau belum bebas virus nipah antara lain Malaysia, Singapura, Bangladesh, dan Filipina.

Baca Juga:
Hujan Lebat Masih Mengintai Wilayah Indonesia hingga 5 Februari 2026

Selain melalui hewan hidup, penularan virus ini juga dapat ditularkan melalui produk hewan, tumbuhan, produk tumbuhan, lingkungan, serta sarana angkut yang terkontaminasi. Meskipun hingga saat ini belum terdapat laporan kasus di Indonesia, faktor ekologi serta lalu lintas perdagangan dan pergerakan media pembawa menimbulkan potensi risiko masuknya penyakit tersebut ke wilayah Indonesia.

Dalam beberapa kejadian wabah, babi berperan sebagai inang penguat (amplifying host) yang mempercepat penularan virus kepada manusia. Setelah terinfeksi, babi dapat mengeluarkan virus dalam jumlah besar melalui saluran pernapasan, urin, dan saliva, sehingga berperan sebagai media utama penularan kepada hewan lain dan manusia.

Baca Juga:
Waspadai Potensi Banjir, Kementan Perkuat Antisipasi di Daerah Sentra Pangan

Virus Nipah juga memiliki kemampuan bertahan dalam kondisi lingkungan tertentu, termasuk pada buah, air minum, serta permukaan yang terkontaminasi, sehingga meningkatkan risiko penularan tidak langsung.

 Sumber bahan infektif ke manusia juga dapat terjadi melalui sekresi pernapasan babi atau melalui buah dan jus terkontaminasi oleh sekresi kelelawar, seperti buah kurma atau jus kurma yang tidak dipasteurisasi.

Baca Juga:
Airlangga Sebut Inflasi Kuartal I-2026 Berpotensi Tertekan, Ini Penyebabnya

Pergerakan hewan yang terinfeksi, namun belum menunjukkan gejala klinis (fase inkubasi) merupakan faktor utama penyebaran geografis virus Nipah antar wilayah dan antar negara, terutama melalui perdagangan dan distribusi hewan hidup. 

Selain itu, hewan pemakan bangkai juga diketahui dapat berperan dalam penyebaran virus ke babi. Babi yang terinfeksi Nipah juga dapat menyebarkan virus melalui aerosol atau menularkannya melalui kontak langsung sekresi saluran pernapasannya ke babi lain dan manusia.

Hingga akhir Januari 2026, otoritas kesehatan di Benggala Barat, India, telah melaporkan sejumlah kasus virus Nipah pada manusia yang terkonfirmasi. Kondisi ini mendorong berbagai negara untuk meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan pengawasan kesehatan dan karantina di pintu masuk internasional. Wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, memiliki populasi alami kelelawar Pteropus yang relatif besar, sehingga secara ekologis tergolong wilayah yang memiliki potensi risiko penularan Nipah. 

Selain itu, tingginya tingkat kematian, ketiadaan vaksin dan terapi spesifik, serta potensi penyebaran lintas spesies juga menjadikan virus Nipah sebagai penyakit prioritas global yang mendapat perhatian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Oleh karena itu, kewaspadaan regional dan kerja sama internasional menjadi bagian penting dalam pencegahan penyebaran penyakit lintas negara. Terutama wilayah di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) terutama wilayah yang berbatasan dengan Malaysia.

"Barantin bersama Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, dan instansi terkait lainnya memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di Indonesia," kata dia.

Namun demikian, potensi risiko tetap perlu diantisipasi secara serius, mengingat tingginya mobilitas manusia, perdagangan hewan, serta lalu lintas produk hewan lintas negara dan antar wilayah. Menurutnya, Barantin terus memperkuat kesiapsiagaan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, laboratorium, serta sistem pemantauan penyakit hewan.

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tak Masuk Akal! Ini 5 Alasan Perceraian Paling Aneh di Dunia, Nomor Terakhir Bikin Geleng Kepala
• 6 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Pelatih Persija Buka-bukaan tentang Alasan Baru Kasih Debut Shayne Pattynama di Akhir Laga Hadapi Persita
• 21 jam lalubola.com
thumb
Travelling Menjadi Bagian tak Terpisahkan dari Gaya Hidup
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Penyebab Longsor Cisarua Dominasi Faktor Alam, Ahli Ungkap Ancaman Geologis Gunung Burangrang
• 18 jam lalusuara.com
thumb
Masyarakat Pesisir Bali Diimbau Waspada Potensi Rob Hingga 4 Februari
• 2 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.