Calon Bos Fed Kevin Warsh Buat Dunia Gemetar: Tajir, Penuh Jejak Hitam

cnbcindonesia.com
11 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya mengakhiri spekulasi panjang soal masa depan pucuk pimpinan bank sentral AS.

Setelah berbulan-bulan menggelar proses seleksi yang menyerupai audisi terbuka, Trump memilih mantan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei 2026.

Melansir Reuters, proses ini tidak berlangsung singkat. Penjaringan kandidat sudah dimulai sejak musim panas lalu.

Awalnya, terdapat sekitar 11 nama yang masuk radar Gedung Putih, mencakup pejabat aktif The Fed, ekonom senior, hingga pelaku pasar Wall Street. Menteri Keuangan Scott Bessent kemudian menyaring daftar tersebut menjadi lima, lalu empat nama final.

Empat kandidat yang sempat dipertimbangkan adalah Kevin Warsh, Direktur National Economic Council Kevin Hassett, Gubernur The Fed Christopher Waller, serta Chief Investment Officer Fixed Income BlackRock Rick Rieder. Dari keempatnya, Warsh muncul sebagai pilihan utama Trump, bahkan sebelum pengumuman resmi dilakukan.

"Dia sangat pintar, sangat bagus, kuat, muda, cukup muda. Dia adalah sosok 'central casting' yang diinginkan banyak orang." tutur Trump, dikutip dari BBC.

Siapa Kevin Warsh?

Warsh bukan figur asing bagi lingkaran kekuasaan Washington. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur The Fed pada periode 2006-2011, termasuk saat krisis keuangan global 2008. Dalam fase tersebut, Warsh berperan sebagai penghubung utama Ketua The Fed Ben Bernanke dengan Wall Street. Rekam jejak itu membuatnya dipandang memahami mekanisme pasar saat tekanan ekstrem muncul.

Hubungan Warsh dengan Trump juga bukan hal baru.

Pada 2002, Warsh menikahi Jane Lauder, cucu dari Estée Lauder yang memiliki kekayaan bersih sekitar US$2,7 miliar. atau sekitar Rp 45,25 triliun (US$1=Rp 16.760).

Ayah mertuanya adalah Ronald Lauder, seorang miliarder yang merupakan teman sekelas Donald Trump pada era 1960-an dan kemudian menjadi donatur kampanye presiden Trump pada 2016 (dengan kekayaan sekitar US$5 miliar per Jumat atau sekitar Rp 83,8 triliun). Ronald Lauder juga dilaporkan berperan dalam memicu ketertarikan Trump terhadap rencana Amerika Serikat untuk membeli Greenland.

Warsh sebelumnya merupakan kandidat runner-up untuk posisi Ketua The Fed yang harus dikonfirmasi Senat pada 2017, ketika Trump akhirnya memilih Jerome Powell untuk memimpin bank sentral. Trump belakangan mengatakan bahwa ia mendapat nasihat yang buruk terkait pemilihan Powell.

Keputusan itu kemudian berulang kali disesali Trump secara terbuka, terutama setelah The Fed menaikkan suku bunga pada 2018, langkah yang dianggap Trump menghambat laju ekonomi.

Dalam beberapa bulan terakhir, posisi Warsh semakin menguat. Di pasar prediksi seperti Polymarket dan Kalshi, peluangnya sempat melampaui 80%. Di luar angka tersebut, dukungan politik juga datang dari jaringan lama, termasuk ayah mertuanya Ron Lauder serta investor kawakan Stanley Druckenmiller. Sumber Reuters menyebut lobi dari lingkaran ini berperan dalam keputusan akhir Trump.

Secara kebijakan, Warsh membawa agenda yang jelas yang ia sebut sebagai "perubahan rezim" di The Fed.

Baca: Hancur Lebur! Harga Emas Dibanting: Ambruk 9%, Rekor Terburuk 43 Tahun

Fokus utamanya adalah neraca bank sentral yang lebih ramping serta pelonggaran regulasi perbankan. Dalam sejumlah pernyataan publik, Warsh juga menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan produktivitas, termasuk dari adopsi kecerdasan buatan, berpotensi menahan inflasi lebih kuat dari yang selama ini diperkirakan The Fed.

Di titik ini, muncul ketegangan konseptual. Trump secara konsisten menekan The Fed untuk memangkas suku bunga secara agresif. Warsh mendukung penurunan suku bunga, namun menekankan syarat berupa pengetatan neraca. Bagi pasar, kombinasi ini menciptakan pertanyaan baru tentang arah kebijakan moneter AS dalam jangka menengah.

Mengapa Pasar Tak Bahagia dengan Warsh?

Bursa saham bereaksi negatif terhadap pencalonan Warsh. Harga emas bahkan ambruk 12% lebih sementara perak jatuh 27% sehari.

Indeks S&P turun 0,43% dan ditutup di level 6.939,03, menandai penurunan selama tiga hari berturut-turut. Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 179 poin atau 0,36% ke posisi 48.892,47. Sementara itu, indeks berbasis teknologi Nasdaq Composite berkinerja paling lemah dengan ambles 0,94% dan ditutup di level 23.461,82. Ketiga indeks tersebut sempat anjlok lebih dari 1% pada titik terendah perdagangan hari itu.

Reaksi awal pasar mencerminkan ketidakpastian dan Investor menimbang dua hal sekaligus: potensi suku bunga lebih rendah dan risiko berkurangnya likuiditas dari neraca The Fed.

"Pasar meragukan apakah Warsh akan se-loyal seseorang seperti Kevin Hassett, yang sudah lama dikenal sebagai loyalis. Terkait Trump, saya kira Trump sudah cukup jelas menyampaikan apa yang ia inginkan dari ketua The Fed yang baru. Jika ketua The Fed tersebut tidak memenuhi keinginannya, serangan terhadap The Fed kemungkinan tidak akan mereda. Jadi isu ini tidak akan hilang, bahkan jika Kevin Warsh yang dipandang lebih hawkish menggantikan Powell." ujar analis Thu Lan Nguyen, head of commodity and FX research at Commerzbank, kepada Bloomberg.

Pemangkasan suku bunga sebesar yang diinginkan Trump memang berpotensi mendorong pertumbuhan dalam jangka pendek. Namun, kebijakan tersebut juga membawa risiko ekonomi menjadi terlalu panas, terutama ketika inflasi masih tinggi dan isu keterjangkauan biaya hidup menjadi kekhawatiran utama bagi banyak warga Amerika.

Tantangan Warsh belum selesai. Ia harus melewati proses konfirmasi Senat yang berpotensi alot.

Senator Republik Thom Tillis secara terbuka menyatakan akan menolak semua nominasi The Fed selama penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap Powell belum tuntas. Sikap ini membuka ruang konflik politik baru di tengah isu independensi bank sentral.

Sejumlah senator Republik lain mengambil posisi berbeda.

Bill Hagerty dan Ketua Komite Perbankan Senat Tim Scott menyatakan Warsh figur yang tepat dan menjanjikan proses konfirmasi yang cepat. Perbedaan sikap ini menandakan bahwa uji utama Warsh bukan hanya soal kebijakan moneter, tetapi juga soal persepsi independensi The Fed di mata legislator.

Dalam konteks tersebut, pencalonan Warsh tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang konflik Trump dan Powell. Perselisihan keduanya kembali mencuat awal Januari 2026, setelah Powell mengungkap adanya penyelidikan pidana oleh Departemen Kehakiman AS terkait kesaksiannya di Kongres mengenai proyek renovasi gedung The Fed. Powell menegaskan penyelidikan itu tidak berkaitan dengan substansi kebijakan moneter.

Baca: Drama 12 Babak Trump vs Powell: Mirip Sinetron!

 

Powell menyatakan tekanan hukum tersebut merupakan konsekuensi dari keputusan The Fed yang tidak mengikuti preferensi Presiden. Memperjelas bahwa konflik yang terjadi bersifat struktural, bukan personal.

Hubungan Trump dan Powell memang memburuk sejak 2018. Saat itu, The Fed menaikkan suku bunga di tengah ekspansi fiskal besar-besaran dari pemotongan pajak era Trump. Sejak itu, Trump secara terbuka menyerang Powell, menyebut The Fed terlalu ketat dan menghambat pertumbuhan.

Kini, dengan menunjuk Kevin Warsh, Trump menempatkan figur yang diyakini lebih sejalan dengan visinya. Namun pilihan ini membawa konsekuensi lanjutan. Pasar tidak hanya akan menguji seberapa jauh Warsh menurunkan suku bunga, tetapi juga sejauh mana ia mampu menjaga jarak dari tekanan politik.

Dalam beberapa bulan ke depan, sebelum Powell resmi lengser, Warsh diperkirakan sudah berperan sebagai pusat gravitasi baru kebijakan moneter AS.

Jejak Hitam Warsh

Warsh memiliki kredensial akademik dari Universitas Stanford dan Harvard Law School. 

Pada usia 35 tahun, Warsh menjadi gubernur termuda dalam dewan tujuh anggota The Fed, menjabat dari 2006 hingga 2011. Sebelumnya, ia merupakan penasihat ekonomi di pemerintahan Republik George W. Bush dan pernah bekerja sebagai bankir investasi di Morgan Stanley.

Warsh bekerja sangat dekat dengan Ketua The Fed saat itu, Ben Bernanke, pada 2008-2009 ketika bank sentral berupaya menghadapi krisis keuangan dan Resesi Besar. Bernanke kemudian menulis dalam memoarnya bahwa Warsh adalah "salah satu penasihat dan orang kepercayaan terdekat saya," seraya menambahkan bahwa "kecakapan politik dan pemahamannya terhadap pasar, serta banyak kontaknya di Wall Street, terbukti sangat berharga."

Baca: Sejarah Paling Berdarah & Brutal: Harga Perak Ludes 27% Sehari

Namun demikian, pada beberapa momen penting Warsh terlihat keliru dalam menilai kedalaman tantangan yang dihadapi perekonomian AS, ketika gagal bayar kredit perumahan dan pemutusan hubungan kerja melonjak selama Resesi Besar. Ia menginginkan The Fed mempertahankan suku bunga acuan lebih tinggi, bahkan ketika ekonomi berisiko mengalami deflasi dan kemungkinan kolaps.

Pada 2008, Warsh menyuarakan kekhawatiran bahwa pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh The Fed dapat memicu inflasi. Namun faktanya, bahkan setelah The Fed memangkas suku bunga mendekati nol, inflasi tetap rendah.

Dalam pidato tahun 2010, ia menyerukan penghentian "merambatnya proteksionisme perdagangan," yang menurutnya merupakan kebalikan dari "kebijakan pro-pertumbuhan." Sejak saat itu, Trump telah banyak merombak dogma Partai Republik dengan mendorong kenaikan besar-besaran pajak impor, yang secara sepihak ia terapkan tahun lalu dengan mendeklarasikan keadaan darurat ekonomi.

Pada akhir musim gugur 2010 ketika tingkat pengangguran mendekati 10% dan inflasi berada di sekitar 1%.
Kevin Warsh berdiri di hadapan pertemuan tahunan Securities Industry and Financial Markets Association untuk mengkritik langkah-langkah Federal Reserve yang berani dan kontroversial dalam mendorong perekonomian. Menurut Warsh, masalah sesungguhnya ekonomi bersifat struktural. Dalam pandangannya, kebijakan Federal Reserve hanya dapat menutupi masalah-masalah mendalam tersebut, tetapi tidak banyak mengubah arah perekonomian, selain meningkatkan tingkat inflasi. Berlawanan dengan peringatan Warsh, Federal Reserve tetap melanjutkan rencananya. Saat ini, tingkat pengangguran berada di 4,3%, dan inflasi masih di bawah target Federal Reserve sebesar 2%.

Kekeliruan penilaian ini melampaui sekadar kesalahan kebijakan biasa. Bahkan pembuat kebijakan terbaik pun bisa keliru. Namun, kesalahan Warsh mencerminkan pola pikir yang lebih luas-pola pikir yang telah membawa dampak makroekonomi yang merusak.

Baca: Trump Akan Umumkan Calon Bos The Fed Hari Ini, Siapa Kandidat Kuatnya?

Faktanya, baik Zona Euro maupun Amerika Serikat sama-sama memiliki tingkat pengangguran mendekati 10% pada November 2010. Dengan mengutip kekhawatiran yang sangat mirip dengan pandangan Warsh, Bank Sentral Eropa memutuskan untuk tidak menempuh langkah-langkah pelonggaran kuantitatif, dan justru menggunakan pengaruhnya untuk mendorong kebijakan penghematan fiskal serta reformasi struktural. Hasilnya bersifat bencana.
Pada 2013, tingkat pengangguran Zona Euro melonjak ke 12%, sementara Amerika Serikat berada di 8% dan perlahan namun pasti berada di jalur pemulihan.

Ia juga menentang dalam rapat-rapat tahun 2011 keputusan The Fed untuk membeli obligasi pemerintah AS senilai US$600 miliar-sebuah upaya untuk menurunkan suku bunga jangka panjang-meskipun pada akhirnya ia tetap memberikan suara setuju atas permintaan Bernanke.

Warsh juga pada beberapa kesempatan bersikap layaknya Republikan era pra-Trump. Dalam pidato tahun 2010, ia menyerukan penghentian "merambatnya proteksionisme perdagangan," yang menurutnya merupakan kebalikan dari "kebijakan pro-pertumbuhan."

Sejak saat itu, Trump telah banyak merombak dogma Partai Republik dengan mendorong kenaikan besar-besaran pajak impor, yang secara sepihak ia terapkan tahun lalu dengan mendeklarasikan keadaan darurat ekonomi.

Baca: Trump Mau Umumkan Pengganti Powell: Ini 4 Calon & Profil Lengkapnya

Saat ini, Warsh bekerja sebagai visiting fellow bidang ekonomi di Hoover Institution, sebuah lembaga pemikir konservatif yang berbasis di Universitas Stanford. Ia juga menjadi dosen di Stanford Graduate School of Business serta mitra di Duquesne Family Office, yang mengelola kekayaan investor miliarder Stanley Druckenmiller.

Dalam beberapa bulan terakhir, Warsh tampak aktif melakukan kampanye untuk posisi Ketua The Fed melalui wawancara televisi dan artikel opini. Ia menjadi jauh lebih kritis terhadap The Fed, menyerukan "perubahan rezim" dan mengkritik Powell karena membahas isu-isu seperti perubahan iklim serta keberagaman, kesetaraan, dan inklusi, yang menurut Warsh berada di luar mandat The Fed.

Dalam wawancara dengan CNBC pada Juli, Warsh mengatakan kebijakan The Fed "telah rusak cukup lama."

"Bank sentral yang ada sekarang sangat berbeda secara radikal dibandingkan bank sentral yang saya masuki pada 2006," tambahnya. Dengan membiarkan inflasi melonjak pada 2021-2022, The Fed "telah melakukan kesalahan kebijakan makroekonomi terbesar dalam 45 tahun terakhir, yang memecah belah negara."

Dalam sebuah artikel opini di The Wall Street Journal pada November, Warsh menulis bahwa The Fed "harus meninggalkan dogma bahwa inflasi terjadi ketika ekonomi tumbuh terlalu cepat dan pekerja dibayar terlalu tinggi. Inflasi terjadi ketika pemerintah membelanjakan terlalu banyak dan mencetak uang terlalu banyak."

Ia juga menyatakan bahwa tekanan inflasi akan menurun karena teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) akan mendorong produktivitas yang lebih tinggi. Taruhan Warsh bahwa AI akan menghasilkan pertumbuhan tanpa inflasi sejalan erat dengan keyakinan Trump bahwa inflasi telah berhasil dikalahkan dan bahwa pembangunan infrastruktur AI akan mendorong pertumbuhan tahun ini.

Biografi Kevin Warsh
Nama Lengkap Kevin Maxwell Warsh
Tanggal Lahir 13 April 1970
Tempat Lahir Albany, New York, Amerika Serikat
Pendidikan
- JD (cum laude), Harvard Law School (1995)
- Studi tambahan: MIT Sloan School of Management & Harvard Business School

Karier Awal (1995-2002)
Morgan Stanley & Co, New York
Jabatan terakhir: Vice President & Executive Director (Divisi Merger & Akuisisi)

Gedung Putih (2002-2006)
- Special Assistant to the President for Economic Policy (Presiden George W. Bush)
- Executive Secretary, National Economic Council (NEC)

Dewan Gubernur Federal Reserve (2006-2011)
- Dicalonkan Presiden George W. Bush (2006)
- Gubernur termuda dalam sejarah The Fed (usia 35 tahun)
- Anggota FOMC


Mengundurkan diri efektif sekitar 31 Maret 2011
-Karier Pasca-The Fed
- Dewan Direksi: UPS, Coupang
- Economic Adviser: Congressional Budget Office (CBO)

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Wilayah Pesisir Jatim Dibayangi Potensi Banjir Rob hingga 5 Februari Mendatang
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Mau Dapat Bansos PKH atau BPNT 2026? Simak Cara Daftar dan Syarat Terbarunya di Sini!
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Media Italia Beri Kabar Buruk untuk Arsenal dan Chelsea, Kenan Yildiz Segera Diikat Kontrak Panjang oleh Juventus
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
5 Berita Populer: Denada Akui Ressa; Reza Arap Hancur Usai Lula Lahfah Meninggal
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Polisi: Kaleng Whip Pink di Kamar Lula Lahfah Kosong, Sampel Lain Mengandung N2O
• 4 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.