LPDP Dibuka Lagi: Tentang Gagal, Waktu, dan Kesiapan

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Pendaftaran beasiswa LPDP tahun 2026 resmi dibuka. Setiap kali pendaftaran beasiswa ini dibuka, linimasa kembali mengulang percakapan yang terasa akrab; ruang publik dipenuhi reaksi yang nyaris seragam.

Ada antusiasme, ada optimisme, dan ada harapan yang dititipkan pada satu proses seleksi. Namun di balik itu, ada pula kegelisahan yang jarang dibicarakan: rasa takut gagal, atau ingatan tentang kegagalan sebelumnya.

Fenomena ini bukan hal baru. Setiap seleksi besar—beasiswa, pekerjaan, promosi—selalu memunculkan emosi kolektif yang sama. Sayangnya, kegagalan masih sering dipahami sebagai kekalahan personal, bukan sebagai bagian dari mekanisme seleksi itu sendiri.

Gagal yang Sering Disalahartikan

Dalam banyak percakapan, gagal kerap disederhanakan sebagai tanda kurangnya kemampuan. Padahal, dalam praktik seleksi modern—baik di dunia pendidikan maupun dunia kerja—keputusan jarang dibuat hanya berdasarkan kecerdasan atau prestasi semata. Ada faktor lain yang bekerja secara bersamaan: kesiapan, kejelasan tujuan, dan konteks waktu.

Logika seleksi sebenarnya lebih dekat pada pertanyaan “Siapa yang paling cocok saat ini?” bukan “Siapa yang paling unggul secara absolut?” Namun, narasi publik sering kali tidak memberi ruang pada pemahaman ini.

Seleksi, Kecocokan, dan Waktu

Dalam perspektif manajemen sumber daya manusia, seleksi bertujuan mencari fit. Kesesuaian antara individu, kebutuhan, dan fase organisasi. Itulah sebabnya seseorang dengan kapasitas tinggi bisa saja tidak lolos, sementara kandidat lain justru berkembang pesat ketika ditempatkan di konteks yang tepat.

Hal yang sama berlaku dalam seleksi beasiswa. Kegagalan tidak selalu mencerminkan kurangnya kualitas. Ia bisa menjadi penanda bahwa arah, kesiapan, atau waktu belum sepenuhnya selaras. Faktor waktu sering kali diabaikan dalam membaca hasil seleksi, meski justru di situlah banyak keputusan sebenarnya ditentukan.

Pengalaman Personal sebagai Ilustrasi

Pemahaman ini menjadi lebih masuk akal ketika dilihat dari pengalaman nyata. Saya pernah mengalami beberapa kali kegagalan dalam seleksi beasiswa lain, jauh sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaftar LPDP. Bukan kegagalan yang dramatis, melainkan kegagalan yang meninggalkan jeda—ruang untuk meninjau ulang tujuan dan kesiapan diri.

Pengalaman tersebut justru memperjelas bahwa kegagalan bukan selalu tentang tidak mampu, melainkan tentang belum tepat. Bukan pada jalurnya, atau belum pada momennya.

Saat Pendekatan terhadap LPDP Berubah

Ketika kemudian mendaftar LPDP, pendekatannya tidak lagi sama. Fokusnya bukan sekadar ingin lolos, melainkan juga memahami konsekuensi dari pilihan tersebut: arah studi, komitmen jangka panjang, dan dampak setelahnya. Proses seleksi pun terasa berbeda—lebih sebagai ruang klarifikasi, bukan arena pembuktian semata.

Hasil positif yang datang kemudian tidak terasa sebagai kemenangan instan, tetapi sebagai pertemuan antara kesiapan dan waktu yang akhirnya sejalan.

Tentang Jeda yang Sering Diabaikan

Di ruang seleksi mana pun—beasiswa, pekerjaan, atau promosi—banyak orang sebenarnya tidak kalah. Mereka hanya tiba di waktu yang berbeda. Dan sering kali, yang paling melelahkan bukan prosesnya, melainkan upaya memahami bahwa jeda juga bagian dari perjalanan.

Budaya yang mengagungkan kecepatan kerap membuat jeda terasa seperti kemunduran. Padahal, dalam banyak kasus, jeda justru menjadi fase pembentukan yang tidak terlihat.

Tidak Semua Penundaan adalah Penolakan

Ketika LPDP kembali dibuka, wajar jika harapan dan kecemasan muncul bersamaan. Namun, pengalaman dan refleksi atas proses seleksi menunjukkan satu hal penting: tidak semua penundaan adalah penolakan. Sebagian justru berfungsi sebagai mekanisme penyelarasan—agar seseorang tiba di jalur yang akhirnya lebih masuk akal, pada waktu yang lebih tepat.

Dalam dunia yang serba cepat, memahami hal ini mungkin tidak membuat proses seleksi menjadi lebih mudah. Namun setidaknya, ia memberi jarak yang sehat antara hasil seleksi dan harga diri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Gus Yahya Syukuri Peringatan Harlah ke-100 PBNU: Usai Dinamika Hebat
• 6 jam laludetik.com
thumb
Zodiak yang Akan Menikmati Hidup Lebih Bahagia: Aries Tangguh, Libra Bersyukur
• 29 menit lalugenpi.co
thumb
KPK Imbau Biro Haji Kembalikan Dana dari Jual Beli Kuota, Dua Tersangka Sudah Ditetapkan
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Kelas Finansial Inklusif Dorong Literasi Keuangan bagi Komunitas Difabel
• 5 jam lalumedcom.id
thumb
KNKT Amankan Data ATR 42-500, Ada Suara Kokpit Durasi 2 Jam
• 20 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.