FAJAR, LONDON – Kemenangan dramatis 3-2 atas Napoli yang membawa Chelsea ke babak 16 besar Liga Champions seharusnya menjadi momen pesta. Namun, euforia publik Stamford Bridge kini dibayangi ancaman terusir dari kandang sendiri.
Akibat regulasi ketat UEFA terkait jadwal pertandingan di satu kota yang sama (city clash), The Blues kemungkinan besar tidak bisa menjamu lawan mereka di London pada Maret 2026 mendatang.
Masalah ini mencuat setelah tiga raksasa London: Arsenal, Tottenham Hotspur, dan Chelsea secara bersamaan lolos ke fase gugur. Berdasarkan kalender kompetisi, laga dijadwalkan pada 17 dan 18 Maret 2026.
Di sinilah letak kerumitannya. UEFA memiliki aturan protokol keamanan yang melarang dua pertandingan skala besar digelar di kota yang sama atau dalam radius 30 mil (48 km) pada malam yang identik.
Hal ini dilakukan demi mencegah beban kerja berlebih pada pihak kepolisian setempat (Metropolitan Police) yang bertugas menjaga keamanan suporter.
Chelsea Jadi Korban?
Dalam aturan “bentrok kota” ini, UEFA menerapkan sistem prioritas berdasarkan performa liga domestik. Sayangnya bagi Chelsea, posisi mereka di klasemen saat ini berada di bawah Arsenal dan Tottenham.
Arsenal berada di puncak klasemen, sementara
Tottenham menempati posisi keempat.
Karena status tersebut, Arsenal dan Tottenham mendapatkan hak istimewa untuk tetap menggunakan stadion mereka.
Sementara itu, Chelsea terpaksa harus mengalah dan mencari solusi alternatif, termasuk kemungkinan mendaftarkan stadion netral di luar London.
Opsi Penyelamatan The Blues
Manajemen Chelsea tidak tinggal diam. Saat ini ada beberapa skenario yang tengah diupayakan.
Chelsea bisa mengajukan permohonan untuk menukar status kandang-tandang agar tidak berbarengan dengan jadwal Arsenal/Spurs.
Cara lain dengan menggeser jadwal ke hari Kamis, meski opsi ini sulit, karena terbentur kontrak hak siar televisi yang kaku.
Jika gagal, Chelsea mencoba bernegosiasi dengan otoritas keamanan London untuk membuktikan bahwa mereka sanggup menangani beberapa laga sekaligus dalam satu malam.
Dampak Psikologis dan Finansial
Kehilangan status tuan rumah di Stamford Bridge pada fase krusial Liga Champions bukan sekadar masalah administratif, melainkan kerugian besar secara teknis.
Bermain di stadion netral akan menghilangkan atmosfer intimidatif Stamford Bridge yang seringkali menjadi “pemain ke-12” bagi Chelsea, terutama di kompetisi Eropa.
Mengatur ulang lokasi pertandingan dalam waktu singkat akan membebani operasional klub dan merugikan pemegang tiket musiman.
Ketidakadilan Regulasi?
Situasi ini menunjukkan sisi lemah dari regulasi UEFA yang terlalu kaku terhadap peringkat klasemen sebagai penentu prioritas jadwal. Hal ini seolah “menghukum” klub yang tengah berjuang di liga domestik meskipun mereka berprestasi di kancah Eropa.
Jika komunikasi dengan otoritas keamanan London dan UEFA buntu, Chelsea harus bersiap menghadapi laga tandang “rasa kandang” yang tentu akan memengaruhi mentalitas bertanding anak asuh mereka. (*)





